Matahari baru saja beranjak naik, menembus kabut tipis di atas Sungai Barito, ketika suara terompet perang terdengar dari kejauhan. Bukan terompet mereka, melainkan terompet pasukan Pangeran Tumenggung. Hati Samudra bergemuruh, campuran antara ketakutan dan semangat membara. Ini adalah pertempuran pertamanya, bukan sebagai pewaris takhta, melainkan sebagai seorang panglima yang memimpin pasukan pemberontak. Ia menatap pasukannya yang berbaris di tepi sungai: para gerilyawan hutan Bagus, ahli dalam menyamar dan menyerang dari balik semak-semak, dan para perompak Sangkuriang, bertubuh kokoh dan siap bertempur di atas perahu. Di sisinya, Gendut memegang perisai kayu dengan wajah tegang, setia melindungi tuannya.
"Dengarkan aku!" teriak Samudra, suaranya menggelegak. "Mereka mungkin lebih banyak! Mereka mungkin lebih terlatih! Tapi kita tahu tanah ini! Kita tahu sungai ini! Dan kita memiliki tekad yang lebih kuat untuk keadilan! Jangan mundur! Bertempur untuk keluarga kalian! Untuk kehormatan!"
Teriakan Samudra membakar semangat pasukannya. Mereka membalas dengan sorakan yang menggelegak, menggemakan tekad yang sama.
Dari balik pepohonan, muncul pasukan Tumenggung, dipimpin oleh seorang panglima berbadan besar dengan kumis tebal. Lambang Rajawali emas di dadanya berkilauan. Ia menatap sinis ke arah Samudra. "Lihatlah bocah kecil itu," gertaknya pada pasukannya. "Dia ingin menjadi raja. Kita tunjukkan padanya bahwa hutan adalah kuburan terakhirnya!"
Pertempuran dimulai. Anak panah berdesing di udara. Pasukan Tumenggung, yang jumlahnya jauh lebih banyak, menyerbu. Gerilyawan Bagus menggunakan taktik perang hutan mereka. Mereka bersembunyi di antara pepohonan, meluncurkan anak panah beracun, dan mundur sebelum musuh sempat bereaksi. Taktik ini mengacaukan barisan musuh dan membuat mereka frustrasi.
Di sungai, pertempuran laut pecah. Pasukan Sangkuriang, yang terbiasa bertarung di air, bergerak lincah di atas perahu mereka. Mereka menggunakan tombak panjang dan panah untuk menyerang perahu musuh yang lebih besar dan lambat. Sangkuriang sendiri memimpin dari depan, melompat dari perahu ke perahu, menebas musuh dengan pisau di tangannya. Kekacauan terjadi di tengah sungai, air yang tenang kini bergejolak karena pertempuran.
Samudra, dengan Gendut di sisinya, memimpin pasukannya di darat. Ia menyaksikan pertempuran dengan mata tajam, mempelajari setiap gerakan musuh dan menyesuaikan strategi. Ia belajar dari Bagus, melihat bagaimana ia memanfaatkan alam sebagai senjata. Ia belajar dari Sangkuriang, melihat bagaimana ia menggunakan kecepatan dan kelincahan untuk mengalahkan musuh yang lebih besar.
Namun, pasukan Tumenggung bukanlah lawan yang mudah. Mereka terus mendorong maju, merobohkan gerilyawan satu per satu. Seorang prajurit besar Tumenggung berhasil mendekati Samudra, mengayunkan pedangnya. Gendut maju, menangkis serangan itu, tetapi pedang musuh membelah perisainya. Gendut terlempar ke belakang, terluka parah.
Melihat pengawal setianya jatuh, kemarahan Samudra memuncak. Ia mengambil pedang Gendut yang tergeletak di tanah dan maju. Ia bertarung dengan semangat membara, bukan lagi dengan ketakutan, tetapi dengan amarah yang dingin. Ia ingat pengkhianatan pamannya, kematian ayahnya, dan penderitaan rakyat Banjar. Setiap tebasan pedangnya membawa beban amarah itu.Namun, ia hanyalah seorang pangeran yang baru belajar bertarung. Prajurit Tumenggung yang berpengalaman dengan mudah mendesaknya. Saat pedang musuh nyaris menebasnya, sebuah anak panah meluncur cepat dari arah hutan dan menancap di leher prajurit itu. Prajurit itu roboh. Samudra melihat ke arah hutan, dan melihat Bagus berdiri tegak, busur di tangannya, matanya memancarkan tekad yang sama.
Pertempuran terus berlanjut. Pasukan Tumenggung mulai kewalahan menghadapi taktik gerilya dan pertempuran air yang tak terduga. Di tengah kekacauan, Sangkuriang berhasil menyelinap ke perahu panglima musuh dan membunuhnya. Kematian panglima itu mematahkan semangat pasukan Tumenggung. Mereka mulai mundur, meninggalkan medan pertempuran dalam kekalahan.
Setelah pertempuran usai, Samudra berdiri di tepi sungai, kelelahan tetapi puas. Ia telah membuktikan dirinya. Ia bukan lagi bocah yang melarikan diri, tetapi seorang pemimpin yang mampu bertempur. Ia menatap Gendut, yang sedang diobati oleh para tabib, dengan perasaan bersalah dan haru.
"Terima kasih," kata Samudra kepada Bagus dan Sangkuriang. "Kita memenangkan pertempuran ini. Tapi ini hanyalah awal."
"Yang terpenting, Pangeran, kau telah membuktikan dirimu," jawab Bagus. "Para prajurit melihatmu bertarung. Mereka melihatmu tidak takut. Itu yang akan membuat mereka setia."
"Dan mereka melihat bahwa kau tidak akan pernah meninggalkan mereka," tambah Sangkuriang. "Kau memenuhi janjimu. Sekarang, kami akan memenuhi janji kami."
Malam itu, saat api unggun dinyalakan untuk merayakan kemenangan kecil mereka, Samudra duduk sendirian, menatap sungai yang mengalir. Ia tahu, jalan di depannya masih panjang dan penuh bahaya. Tapi ia tidak lagi sendirian. Di sisinya, ada Gendut, pengawal setianya. Di belakangnya, ada Bagus dan Sangkuriang, dua panglima yang bersumpah setia. Di dalam hatinya, ada tekad membara untuk membalas dendam dan merebut kembali takhtanya. Perjalanannya baru saja dimulai.
