Dunia kembali ke rutinitasnya setelah Piala Dunia, namun bagi Lev Ryley, hidupnya tak pernah sama. Ia kembali ke Barito Putra sebagai pahlawan, disambut dengan karpet merah dan nyanyian "Garuda" yang membahana. Setiap sentuhannya di lapangan kini lebih berarti, setiap umpan terobosannya lebih dinantikan. Namun, di balik keramaian itu, sebuah ketenangan aneh meliputi dirinya. Ada sebuah pertanyaan yang terus menggantung di benaknya: "Apa selanjutnya?"
Suatu malam, saat ia duduk sendirian di teras rumahnya, menatap kerlap-kerlip lampu di kejauhan, ponselnya berdering. Nomor asing dari luar negeri. Ia ragu sejenak, lalu menjawab. Suara berat dengan aksen Inggris yang kental menyapa, memperkenalkan diri sebagai pemandu bakat dari Manchester United. Lev terkesiap. Jantungnya berdebar, bukan lagi karena gugup, melainkan karena kaget dan tak percaya.
"Kami mengamati performamu di Piala Dunia," kata suara itu, "Kami terkesan dengan visi, etos kerja, dan kecerdasan bermainmu. Kami percaya kamu memiliki potensi untuk menjadi pemain top di level tertinggi."
Seketika, dunia Lev terasa berhenti. Kata-kata itu, yang datang langsung dari klub impiannya, adalah validasi dari seluruh kerja kerasnya sejak kecil. Ia mencoba menenangkan diri, tetapi tangannya gemetar. Percakapan itu berlanjut selama hampir satu jam, membahas berbagai hal teknis tentang permainannya. Di akhir percakapan, pemandu bakat itu menyampaikan bahwa pihak klub akan mengirimkan proposal resmi kepada manajemen Barito Putra.
Keesokan harinya, berita itu tersebar seperti api. Mulanya hanya bisik-bisik, kemudian menjadi berita utama di seluruh media olahraga. "Manchester United Incar Lev Ryley!" "Bintang Piala Dunia Indonesia Dibidik Setan Merah!" Berita itu menjadi trending topic di media sosial, memicu perdebatan sengit di antara para penggemar. Banyak yang skeptis, menganggapnya tidak mungkin. Namun, sebagian besar optimistis, percaya bahwa ini adalah kesempatan emas bagi sepak bola Indonesia.
Negosiasi berlangsung tertutup selama berminggu-minggu, seperti sebuah drama yang menegangkan. Pihak Manchester United dengan serius mengajukan tawaran fantastis, senilai 300 miliar Rupiah, sebuah angka yang membuat manajemen Barito Putra tak bisa menolak. Angka tersebut menjadi rekor transfer terbesar dalam sejarah sepak bola Indonesia. Bagi Barito Putra, ini adalah bukti bahwa mereka telah melahirkan talenta kelas dunia. Bagi Lev, ini adalah tiket menuju impian yang selama ini hanya ia tatap dari layar televisi.
Pada hari penandatanganan kontrak, Lev Ryley duduk di samping ayahnya, memegang pena dengan tangan mantap. Ia menoleh ke arah ayahnya, yang tersenyum bangga dengan mata berkaca-kaca. Lev tahu, ini bukan hanya kesuksesan pribadinya, tetapi juga kesuksesan keluarga, Barito Putra, dan seluruh rakyat Indonesia. Ia menandatangani kontrak itu dengan keyakinan penuh, siap menghadapi tantangan terbesar dalam hidupnya.
Berita transfernya menjadi headline di seluruh dunia. Foto Lev memegang seragam Manchester United dengan nomor punggung ikonik diangkat tinggi-tinggi. Ia adalah pemain Indonesia pertama yang bermain di Liga Premier, dan semua mata kini tertuju padanya. Ia menjadi duta bagi sepak bola Indonesia, harapan bagi jutaan penggemar yang ingin melihat anak bangsa bersaing dengan para pemain terbaik dunia.
Lev tahu, perjalanan ini tidak akan mudah. Tekanan akan sangat besar. Ia akan dibandingkan, dihakimi, dan diharapkan menjadi pahlawan. Namun, ia tidak gentar. Ia teringat kembali pada hari-hari di lapangan becek dekat Sungai Barito, kata-kata ayahnya, dan semangat pantang menyerah yang mengalir dalam darahnya. Ia adalah anak Banjar yang siap menaklukkan dunia, satu umpan, satu gol, dan satu kemenangan pada satu waktu. Bab baru dalam hidupnya baru saja dimulai, dan kali ini, panggungnya adalah salah satu stadion paling ikonik di dunia: Old Trafford.
