Bab 1: Musim Dingin, Musim Kegerahan
Angin dingin membekukan udara, tetapi tidak bisa membekukan semangat Maimunah. Rambutnya yang tertutup hijab tebal berwarna burgundy bergoyang-goyang setiap kali ia melompat kecil di depan terminal bus. Ya, melompat kecil. Bukan karena gembira, melainkan karena menahan rasa ingin buang air kecil yang sudah di ubun-ubun sejak dua jam lalu.
Di sampingnya, Zainab, gadis berhijab biru tua yang selalu terlihat rapi, berdiri dengan kalem. Tidak ada gerakan aneh, tidak ada raut muka panik. Ia hanya menggenggam erat sebuah buku tebal tentang arsitektur kuno Rusia. Maimunah memicingkan matanya. "Zai, itu buku kok bisa jadi pegangan hidup kamu, sih? Kalo aku di posisi kamu, udah aku jadiin bantal buat tidur di bus."
Zainab meliriknya datar. "Ini buku pengetahuan, Mun. Dan setidaknya lebih berguna daripada memikirkan berapa banyak selfie yang bisa kamu ambil di depan Basil's Cathedral nanti."
Maimunah berdecak. "Hey, itu namanya mengabadikan momen, Zai. Siapa tahu besok lusa aku viral jadi selebgram Muslimah di Rusia, kan? Nama aku bakal jadi 'Maimunah Moskow'."
"Yang ada kamu viral karena terpeleset di es," balas Zainab, kalem.
Percakapan singkat itu terhenti saat bus yang mereka tunggu akhirnya tiba. Bus bernomor 128 itu terlihat reyot dan mengeluarkan asap putih tebal dari knalpotnya. Aroma solar menusuk hidung, menambah penderitaan Maimunah yang perutnya sudah bergejolak.
Mereka berdua adalah mahasiswi asal Indonesia yang baru saja memulai semester baru di sebuah universitas di Moskow. Maimunah, si ceria dan spontan, berbanding terbalik dengan Zainab yang pendiam dan teratur. Keduanya bertemu di asrama dan langsung membentuk persahabatan yang unik, bagaikan air dan minyak yang dipaksa bersatu dalam botol.
Di dalam bus, mereka harus berdesakan dengan para penumpang lain. Maimunah menahan napasnya. "Zai, kamu nyium bau apa?" bisiknya.
Zainab mendengus. "Bau manusia, Mun. Sekarang fokus, sebentar lagi sampai."
Tentu saja, bagi Maimunah, kata "fokus" adalah kosakata yang asing. Matanya jelalatan ke luar jendela, melihat tumpukan salju yang seolah menyelimuti setiap sudut kota. Matanya terhenti pada sebuah papan reklame bergambar seorang model berambut pirang dengan mantel bulu. Maimunah menyenggol lengan Zainab.
"Zai, dia kedinginan nggak, ya? Kok dia nggak pake jilbab? Apa mungkin dia nggak punya jilbab?" tanyanya polos.
Zainab menepuk dahinya. "Itu iklan, Mun. I-K-L-A-N."
Maimunah masih saja manggut-manggut. "Oh, iklan. Kirain dia lagi dihipnotis biar nggak kedinginan."
Sesampainya di perhentian, mereka harus berjalan kaki menuju sebuah minimarket untuk membeli beberapa kebutuhan. Trotoar yang licin membuat Maimunah berjalan seperti penguin yang panik, sementara Zainab melangkah dengan mantap. Tiba-tiba, Maimunah melihat sesuatu yang menarik perhatiannya: sebuah kafe kecil dengan jendela yang berembun. Ia menunjuknya dengan antusias.
"Zai, kita ke situ dulu, yuk! Keliatannya enak banget," ajak Maimunah.
Zainab menggeleng. "Nanti saja. Kita harus segera belanja, jadwal kita padat."
"Padat apanya? Padat makan indomie di asrama?" Maimunah memelas. "Aku butuh kafein, Zai. Tubuhku sudah ngantuk berat. Nanti kalo ketiduran di minimarket, aku malah disangka patung es."
Dengan wajah memelas, Maimunah berhasil meyakinkan Zainab. Mereka masuk ke dalam kafe yang hangat dan penuh aroma kopi. Maimunah langsung berbinar-binar. "Gila, ini surga dunia, Zai! Kopi, cokelat, plus pemandangan salju! Udah kayak di film-film romance!"
Zainab hanya menghela napas. Mereka memesan dua cangkir cokelat panas. Sambil menunggu, Maimunah mengeluarkan ponselnya dan mulai bersiap mengambil foto. Tentu saja, ia tak lupa meminta Zainab untuk ikut.
"Zai, ayo selfie. Kita berdua, dengan latar salju dan cokelat panas ini. Judulnya, 'Dua Muslimah Pencari Kehangatan di Dinginnya Moskow'. Keren kan?"
"Tidak," jawab Zainab singkat, tanpa mengangkat pandangannya dari buku.
Maimunah tidak menyerah. Ia mengatur posisi agar Zainab masuk dalam frame fotonya. "Oke, kalo gitu aku selfie aja, ya. Kamu anggap aja aku nggak ada. Just be yourself."
Namun, saat Maimunah hendak menekan tombol, ponselnya berdering. Nama "Mama" terpampang di layar. Maimunah langsung panik. "Aduh, Mama! Kenapa nelpon jam segini, sih? Pasti mau nanyain udah sholat belum."
Ia buru-buru mengangkat telepon. "Assalamualaikum, Ma..."
Dari seberang, terdengar suara ibunya yang khawatir. "Maimunah, kamu baik-baik saja? Mama lihat ramalan cuaca di Moskow, katanya dingin banget. Jangan sampai kamu sakit, ya."
Maimunah tersenyum. "Alhamdulillah, aku baik-baik aja, Ma. Malah lagi di kafe, minum cokelat panas. Dinginnya bikin baper, Ma."
"Baper?"
"Bawa perasaan, Ma," Maimunah menjelaskan dengan sabar. "Dinginnya bikin aku makin sayang sama keluarga di rumah."
Telepon itu berakhir dengan senyum dari Maimunah. Namun, saat ia melihat ke arah Zainab, matanya membelalak. Zainab sudah menyelesaikan cokelat panasnya dan kini sedang mencatat sesuatu di buku tebalnya.
"Zai! Kamu tega banget! Abis duluan?!"
Zainab mengangkat bahu. "Kamu yang kelamaan telepon, Mun."
"Tapi kan kamu bisa nungguin aku!" Maimunah protes.
"Untuk apa? Cokelat panasnya kan enak kalo diminum pas masih panas," jawab Zainab logis.
Maimunah mendesah. Ia menatap cangkir cokelat panasnya yang sudah sedikit mendingin. "Ya ampun, Zai. Kamu itu kok nggak bisa diajak santai, sih?"
Zainab menutup bukunya. "Karena hidup ini bukan untuk bersantai, Mun. Hidup adalah perjalanan. Setiap detik adalah berharga."
Maimunah terdiam. Lalu, ia tersenyum. "Iya sih. Tapi cokelat panas ini juga berharga, Zai. Nanti kalo udah dingin, rasanya nggak enak."
Zainab tidak membalas. Ia hanya berdiri, memberi kode agar mereka segera beranjak. Maimunah menghela napas, menenggak habis cokelat panasnya yang sudah suam-suam kuku. Ia masih tak habis pikir, bagaimana bisa ia dan Zainab bisa berteman. Keduanya seperti dua kutub yang berlawanan. Maimunah selalu melihat hidup sebagai komedi, sementara Zainab melihatnya sebagai drama serius.
Keluar dari kafe, mereka kembali berjalan di atas salju. Tiba-tiba, Maimunah terpeleset. Tas belanjaan yang tadinya kosong, kini isinya adalah barang-barang yang baru saja mereka beli. Tas itu terjatuh, dan semua isinya berhamburan.
"Ya ampun!" Maimunah berteriak panik.
Zainab berbalik dengan cepat. "Sudah kubilang, hati-hati."
Maimunah merangkak di atas salju, berusaha mengumpulkan kembali barang-barangnya. Saat itulah ia menemukan sebuah buku kecil bersampul usang. Buku itu bukan miliknya, juga bukan milik Zainab.
"Zai, ini buku siapa?"
Zainab melihatnya. "Entahlah."
Saat Maimunah hendak membuang buku itu, ia tak sengaja membuka halaman pertama. Sebuah tulisan tangan yang indah tertera di sana, lengkap dengan tanggal dan nama.
"Untukmu yang tersesat di kota ini, semoga kau menemukan jalan pulang."
Maimunah menatap Zainab, lalu buku itu, dengan tatapan penasaran. Siapakah pemilik buku misterius ini? Dan mengapa buku ini bisa berada di sana? Maimunah tidak tahu, tapi ia yakin, kisah mereka di Moskow akan jauh lebih menarik dari sekadar cokelat panas yang mendingin.
To be continued...
