Perjalanan menuju Arcanum terasa seperti mimpi. Ketiganya duduk di kursi belakang sebuah mobil yang tidak mencolok, namun melaju dengan kecepatan yang mustahil. Jendela mobil membiaskan pemandangan di luar menjadi coretan warna yang kabur, melintasi jalanan lengang yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. Lev, yang selalu terbiasa dengan pemandangan kota yang padat, merasa jantungnya berdebar kencang. Ia memegang erat tas ranselnya, isinya hanya beberapa pakaian dan buku-buku yang ia bawa.
Argus, duduk di kursi pengemudi, tampak tenang. Ia tidak berbicara banyak, hanya sesekali melirik ke kaca spion untuk memastikan ketiga remaja itu baik-baik saja. Kesunyian di dalam mobil hanya diisi oleh suara deru mesin yang samar.
"Argus," panggil Vania, suaranya memecah keheningan. "Arcanum... seperti apa tempat itu?"
"Sebuah akademi," jawab Argus singkat. "Tempat kalian akan belajar mengendalikan kekuatan. Di sana, kalian akan bertemu dengan orang-orang seperti kalian."
"Apakah ada orang lain seperti kami?" tanya Anatasya, matanya terpaku pada Argus.
"Tentu saja," jawab Argus, suaranya ramah. "Dunia ini jauh lebih besar dari yang kalian ketahui. Ada banyak pewaris elemen di luar sana. Kalian hanya perlu menemukan mereka."
Lev merasa cemburu. Ia merasa bahwa ia tidak akan pernah bisa menjadi seistimewa Vania dan Anatasya, atau seistimewa pewaris elemen lain yang akan mereka temui. Ia masih merasa bahwa elemen buminya adalah elemen yang paling membosankan.
Setelah perjalanan yang terasa tak berujung, mobil itu berhenti di depan sebuah tebing curam yang ditutupi oleh vegetasi lebat. Tidak ada jalan, tidak ada pintu, hanya tebing yang menjulang tinggi.
Vania dan Anatasya saling berpandangan, bingung.
"Ini dia," kata Argus, turun dari mobil.
Ia kemudian meletakkan telapak tangannya di permukaan tebing. Seketika, simbol-simbol kuno yang sama dengan yang ada di lencananya muncul. Simbol-simbol itu bersinar terang, dan di tengah tebing, sebuah gerbang besar yang terbuat dari batu perlahan terbuka.
Mereka masuk ke dalam gerbang, dan pemandangan di depan mereka membuat mereka tertegun. Di sana terbentang sebuah lembah hijau yang dipenuhi dengan bangunan-bangunan megah yang tampak seperti terbuat dari elemen. Ada bangunan yang tampak seperti istana yang terbuat dari es, sebuah menara tinggi yang memancarkan cahaya api, dan sebuah kuil yang dikelilingi oleh air terjun yang mengalir.
"Selamat datang di Arcanum," kata Argus, mengantar mereka.
Mereka mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang terbuat dari batu yang mengapung di udara. Lev, Vania, dan Anatasya menatap dengan kagum. Mereka melihat para siswa berlatih mengendalikan elemen mereka. Ada yang membuat bola api, ada yang membuat pilar air, dan ada yang membuat tanaman tumbuh subur dalam sekejap.
Di antara semua pemandangan yang menakjubkan itu, mata Lev tertuju pada sebuah bangunan yang terbuat dari es. Bangunan itu berkilauan di bawah sinar matahari, memancarkan aura dingin yang memesona. Lev merasa ada sesuatu yang menariknya ke arah sana. Ia merasa bahwa kekuatan yang ia dambakan ada di sana.
"Apa itu?" tanya Lev, menunjuk ke arah bangunan es.
Argus menatap Lev dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Itu adalah perpustakaan. Dan di sana, kamu akan menemukan banyak pengetahuan tentang elemen."
"Apakah ada tentang elemen es?" tanya Lev, matanya berbinar.
"Mungkin saja," jawab Argus, tetapi nada suaranya mengisyaratkan sesuatu yang lain.
Mereka kemudian diantar ke asrama mereka. Setiap kamar memiliki pintu yang terbuat dari elemen yang berbeda, yang menandakan elemen dari penghuni kamar. Lev, Vania, dan Anatasya diberi kunci kamar mereka masing-masing.
Malam itu, Lev tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan tentang perpustakaan dan kekuatan es. Ia merasa bahwa jika ia bisa mendapatkan kekuatan itu, ia akan menjadi istimewa. Ia akan menjadi lebih kuat dari Vania dan Anatasya. Ia akan menjadi pahlawan yang sebenarnya.
Bab ini diakhiri dengan Lev memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak tentang elemen es. Ia merasa bahwa ini adalah kesempatan untuk mengubah takdirnya. Ia tidak tahu bahwa keinginannya akan membawanya ke dalam bahaya yang lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
