Pagi di Kota Banjarmasin terasa unik. Bukan klakson mobil yang memekakkan telinga, melainkan riuh rendah suara pedagang di Pasar Terapung Siring yang mulai beroperasi sejak subuh, bercampur dengan deru klotok (perahu mesin kayu khas) yang melintas di Sungai Martapura. Aroma khas ikan segar dan kopi robusta dari warung apung memenuhi udara.
Di sebuah rumah panggung kayu ulin minimalis yang menghadap langsung ke sungai, Lev Ryley, seorang pemuda berusia 19 tahun, sedang bergulat dengan masa lalunya. Rambutnya acak-acakan, kacamatanya sedikit melorot, dan fokusnya tertuju pada sebuah kamera polaroid tua berwarna krem peninggalan kakeknya, seorang fotografer alam legendaris di Kalimantan Selatan.
"Ayolah, nyala dong, Nek," gerutu Lev sambil menepuk-nepuk kamera vintage itu pelan. Ia adalah mahasiswa semester tiga jurusan fotografi di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) yang lebih suka memotret keindahan alam Banjarmasin dengan sentuhan analog ketimbang teknologi digital yang serba instan.
Kamera itu sudah mati selama bertahun-tahun, tapi pagi ini, entah mengapa, Lev merasa terdorong untuk memperbaikinya. Ia sudah mencoba segala cara, tapi nihil.
Tiba-tiba, kamera itu berkedip aneh. Bukan kilatan lampu flash biasa, melainkan cahaya biru lembut yang berpendar dari lensa dan bodi kamera. Cahaya itu tidak menyilaukan, justru terasa hangat.
Jantung Lev berdebar kencang. Ini bukan kerusakan biasa. Ini... magis?
Tanpa pikir panjang, didorong oleh insting seorang fotografer, ia mengarahkan kamera ke arah jendela ruang tamunya yang terbuka lebar. Matanya mencari objek. Di seberang sungai, di atas sebuah tiang pancang kayu, seekor burung pipit kecil sedang asyik berkicau.
Lev membidik burung pipit itu. Jarinya menekan tombol shutter.
Klik!
Kamera itu bergetar hebat. Sebuah cahaya biru terang memancar keluar, dan kamera mencetak sesuatu secara instan. Bukan selembar foto burung pipit di atas tiang kayu, melainkan sebuah kartu transparan seukuran kartu ATM dengan siluet burung pipit di tengahnya.
"Apa-apaan ini?" Lev membalik kartu itu dengan tangan gemetar. Di baliknya, tulisan kecil berwarna hijau neon muncul:
"Spesies: Burung Pipit/Gereja (Passer domesticus). Rank: E (Umum). Skill: Pengepak Cepat."
Tulisan itu tampak hidup. Saat Lev menyentuh tulisan 'Skill', kartu itu bersinar redup. Burung pipit yang tadi ada di seberang sungai lenyap dalam sekejap mata, dan detik berikutnya, seekor burung pipit nyata muncul di meja belajar Lev, mengepakkan sayapnya dengan bingung di antara buku-buku tebal tentang biologi dan fotografi.
"Astaga naga!" Lev terlonjak kaget, nyaris menjatuhkan gelas teh hangatnya. Burung itu menatapnya dengan mata bulat kecil, seolah bertanya, "Ada apa, bos? Pagi-pagi udah berisik."
Lev mencoba menyentuh burung itu. Tangannya menembus badan burung pipit, seolah burung itu adalah hologram. Namun, ketika burung itu mengepakkan sayap, angin kecil terasa nyata di wajah Lev.
"Ini beneran ada?" gumam Lev tidak percaya. Ia melihat kartunya lagi, lalu menatap burung itu.
Di saat yang sama, ponsel Lev berdering nyaring. Getarannya membuat kartu di tangan Lev sedikit bergeser. Nama Vania Larasati (Rival Smackdown) muncul di layar ponselnya. Vania adalah teman masa kecil Lev yang tomboi, jago bela diri tradisional, dan selalu jadi yang terdepan dalam segala urusan.
"Lev Ryley! Lo di mana sih? Kelas fotografi outdoor di Siring 0 Kilometer udah mulai sepuluh menit yang lalu!" sembur suara Vania dari seberang telepon, nadanya sudah siap bertarung.
"G-gue... gue nemu sesuatu yang gila, Van!" sahut Lev panik, berusaha mengendalikan nada suaranya sambil melirik burung pipit yang kini hinggap santai di laptopnya.
"Sesuatu yang gila apaan? Tugas akhir lo meledak di tangan?" ejek Vania dengan tawa kecil.
"Bukan! Ini... ini kayak game RPG, tapi nyata! Binatang asli! Gue bisa summon dia pake kamera kakek gue!"
Hening sesaat di seberang telepon. Lev bisa membayangkan Vania mengerutkan keningnya yang rapi. Lalu, Vania tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Lev, lo kebanyakan begadang nugas motret bekantan, deh. Halusinasi lo makin parah. Cepetan ke Siring! Nanti gue ceritain kejadian aneh yang gue alamin juga. By the way, gue udah di lokasi bareng Anatasya."
"Kejadian aneh? Anatasya udah dateng?" tanya Lev, sedikit lega mendengar nama Anatasya, teman mereka yang paling waras dan ahli biologi.
"Iya, sesuatu soal gelang batu warisan keluarga," jawab Vania misterius. "Udah, buruan! Pak Dosen Killer udah ngabsen!"
Sambungan terputus. Lev menatap burung pipit kecilnya yang kini bertengger santai di tumpukan buku tebal fotografi lanskap Kalimantan.
"Baiklah, kawan kecil," bisik Lev sambil memasukkan kartu dan kamera ke dalam tas selempangnya. "Sepertinya hidup kita di Banjarmasin nggak bakal biasa-biasa aja mulai sekarang. Ini awal dari petualangan summoner kita."
Lev bergegas keluar rumah panggungnya, melompati anak tangga dengan jantung masih berdebar kencang, memikirkan keajaiban yang baru saja dimulai dan rahasia apa lagi yang menanti di Kota Seribu Sungai ini.
