Lev Ryley, seorang pemuda Muslim kelahiran Banjarmasin yang dikenal ceroboh tapi berhati baik, mendapat tugas dari sebuah yayasan sosial lokal untuk mendokumentasikan kehidupan komunitas Muslim di seluruh Kalimantan. Misinya adalah membuat buku fotografi yang menginspirasi. Namun, petualangannya bersama sahabatnya, Faruq, seorang ahli geologi yang serius, sering kali diwarnai kekonyolan dan kejadian tak terduga. Dari pasar terapung di Banjarmasin hingga ke pelosok pedalaman, mereka bertemu beragam karakter unik, mempelajari kearifan lokal, dan mempererat tali persaudaraan. Lewat bumbu komedi yang ringan, novel ini menyajikan perjalanan seru yang menghangatkan hati dan sarat makna.
Judul Novel A Borneo Story
Bab 1: Mandi Kopi di Malam Sebelum Keberangkatan
Gerimis lembut menyapa Banjarmasin, membuat lampu-lampu jalan memendar sendu di genangan air. Di dalam sebuah rumah sederhana dekat tepian Sungai Martapura, Lev Ryley panik. Kakinya menginjak tumpukan baju yang berantakan, tangannya bergetar saat mencoba memasukkan buku-buku tebal ke dalam koper yang sudah penuh. Ia berkeringat, bukan karena hawa panas, tapi karena tekanan batin yang ia ciptakan sendiri.
Besok pagi, ia dan sahabatnya, Faruq, akan memulai perjalanan keliling Kalimantan. Tugas dari yayasan sosial lokal tempatnya bekerja ini adalah impiannya memotret dan mendokumentasikan kehidupan komunitas Muslim di berbagai pelosok Borneo. Namun, Lev, dengan kecenderungan cerobohnya, selalu berhasil membuat hal-hal sederhana menjadi rumit.
"Astaga, Lev! Apa yang kamu lakukan?" suara Faruq menggelegar dari pintu kamar. Faruq, dengan postur tegap dan tatapan mata serius, adalah kebalikan Lev. Dia terbiasa teratur dan terencana, membuatnya seringkali pusing melihat tingkah Lev.
Lev menoleh, wajahnya memucat. "Aku... aku sedang memasukkan sisanya, Faruq. Sedikit lagi!"
"Sedikit lagi apanya? Itu koper sudah mirip perut buncit yang siap meletus! Apa-apaan semua barang ini? Apa kamu mau pindah rumah atau keliling Kalimantan?" Faruq melipat tangannya di dada, menggeleng-gelengkan kepala.
Lev menunjuk tumpukan barang yang belum masuk. "Ini penting semua. Ada jaket, buku-buku referensi, power bank, camilan, dan… eh, ada dua botol kopi robusta Banjar yang baru ku beli."
Faruq mendengus. "Untuk apa bawa dua botol kopi? Kamu mau jualan kopi keliling?"
"Bukan, Faruq! Ini untuk nanti, kalau kita mampir di tempat terpencil yang tidak ada warung kopi," jawab Lev, membela diri.
Saat Faruq mendekat untuk membantu, ponselnya berdering. Ia mengangkat telepon, memunggungi Lev. Itu adalah telepon dari ayahnya, membahas detail teknis perjalanan mereka. Faruq memang seorang ahli geologi, dan dia sangat teliti.
Merasa kesempatan datang, Lev mencoba memasukkan botol kopi itu secara paksa ke dalam koper. Ia mendorongnya dengan sikut, berusaha menutup paksa resleting yang sudah hampir putus.
Srett!
Bunyi nyaring resleting yang robek menjadi sinyal pertama.
Bruuk!
Bunyi botol kopi yang jatuh, diikuti suara prang! yang memilukan, menjadi sinyal kedua.
Lev membeku. Matanya terbelalak melihat kopi robusta hitam pekat membanjiri lantai kamarnya. Cairan kental itu merayap di antara tumpukan baju, membasahi dokumen, dan merusak buku-buku. Bau kopi yang harum kini terasa seperti bau kegagalan.
Faruq berbalik, terdiam sejenak, lalu mematikan telepon. Ia menatap Lev, yang kini berdiri di tengah genangan kopi dengan ekspresi putus asa. Wajah Faruq memerah, antara kesal dan ingin tertawa.
"Lev… kamu ini… memang selalu ada-ada saja," Faruq akhirnya menghela napas. "Sekarang, kita harus bagaimana?"
Dengan wajah sendu, Lev menjawab, "Kita… kita mandi kopi, mungkin?"
Seketika, tawa Faruq pecah. Tawa yang jarang sekali terdengar dari bibirnya. Lev, yang awalnya merasa sedih, ikut tersenyum melihat sahabatnya tertawa lepas. Mereka berdua, di tengah genangan kopi, menyadari satu hal: perjalanan ini akan menjadi petualangan yang tak biasa. Bukan hanya tentang memotret, tapi juga tentang belajar dari setiap kekonyolan yang terjadi.
Setelah kekacauan berhasil dibereskan, dengan Faruq yang membantu membersihkan lantai dan Lev yang sibuk mencuci baju-baju yang terkena kopi, mereka beristirahat sejenak. Faruq duduk di lantai, mengamati Lev yang tampak lelah.
"Lev," panggil Faruq.
"Ya?"
"Kamu tahu, kenapa aku mau menemani kamu, meskipun aku tahu kamu ini sering bikin ulah?"
Lev menggeleng.
"Karena aku tahu, di balik semua kekacauanmu, ada niat tulus yang tak pernah padam. Kamu mencintai pekerjaanmu, dan kamu mencintai orang-orang yang kamu temui. Itu yang membuatmu spesial."
Lev tersentuh. Ia tak menyangka Faruq, yang selama ini terlihat kaku, bisa mengucapkan kata-kata seperti itu. Ia menunduk malu. "Terima kasih, Faruq."
"Jangan cengeng. Ayo, sekarang kita tidur. Besok pagi-pagi sekali kita harus berangkat," Faruq bangkit, lalu menepuk punggung Lev. "Dan jangan coba-coba lagi memasukkan barang aneh ke dalam koper."
Malam itu, dengan aroma kopi yang masih samar tercium, Lev berbaring di kasur. Ia menatap langit-langit, memikirkan perjalanan yang akan datang. Kekacauan hari ini tidak membuatnya takut, melainkan memberinya semangat. Ia tahu, dengan Faruq di sisinya, petualangan ini pasti akan penuh warna. Dan yang terpenting, ia akan membawa niat baik dan semangat untuk mendokumentasikan keindahan Borneo, satu foto dan satu tawa pada satu waktu.
