Deru mesin pesawat perlahan mereda, digantikan oleh suara riuh rendah dari puluhan penumpang yang mulai bangkit dari kursi mereka. Jantung Karina berdebar tidak karuan, perpaduan antara antusiasme dan kecemasan yang samar. Setelah penerbangan yang melelahkan dari Jakarta, kini ia akhirnya menginjakkan kaki di Bandara Manchester. Langit kelabu di luar jendela terminal sudah cukup menjadi petunjuk pertama tentang perbedaan iklim yang akan ia hadapi.
Karina, atau lengkapnya Karina Putri Prasetyo, seorang gadis berusia 22 tahun, menghela napas panjang sambil menarik kopernya. Penampilan luarnya tak jauh berbeda dengan mahasiswi Indonesia pada umumnya; modis, percaya diri, dan penuh semangat. Ia datang ke Manchester dengan beasiswa penuh untuk melanjutkan studi master di salah satu universitas bergengsi. Impiannya adalah menaklukkan dunia bisnis, sama seperti ayah dan ibunya, yang telah membangun kerajaan perusahaan di Jakarta.
Manchester, kota industri yang terkenal dengan sejarahnya, kini menjadi rumah barunya. "Saatnya membuka lembaran baru," gumamnya pada diri sendiri, mencoba memompa semangat yang sedikit terkikis oleh kelelahan.
Begitu keluar dari bandara, udara dingin langsung menyambutnya. Kontras sekali dengan kehangatan tropis yang ia tinggalkan. Karina mengeratkan jaketnya, mengamati sekeliling. Bangunan-bangunan tua yang kokoh, sisa-sisa kejayaan masa lalu, berpadu harmonis dengan gedung-gedung modern yang menjulang tinggi. Kota ini terasa hidup, penuh energi, dan menawarkan janji-janji tak terbatas. Namun, di balik semua itu, ada kekosongan aneh yang ia rasakan. Sebuah perasaan yang sudah lama bersarang di hatinya, namun selalu berhasil ia abaikan.
Setibanya di apartemennya, Karina langsung disambut oleh pemandangan kota dari jendela lantai atas. Lampu-lampu kota mulai menyala, menari di tengah rintik gerimis yang membasahi kaca. Ia membayangkan kehidupan yang akan ia jalani: kuliah yang menantang, pesta-pesta akhir pekan, dan jejaring pertemanan internasional yang luas. Semua tampak sempurna di atas kertas.
Pada malam pertamanya di Manchester, Karina memutuskan untuk menjelajahi lingkungan sekitar. Ia berjalan menyusuri jalanan yang ramai, melewati toko-toko, kafe-kafe, dan deretan pub. Suasana kota sangat berbeda dengan Jakarta. Tidak ada kemacetan parah atau hiruk pikuk klakson, hanya suara langkah kaki, obrolan, dan musik yang terdengar dari dalam pub.
Ia berhenti sejenak di depan sebuah kafe yang ramai, melihat sepasang kekasih tertawa lepas, teman-teman mahasiswa yang asyik berbincang, dan para pebisnis yang sibuk dengan laptop mereka. Semua orang tampak bahagia, namun Karina merasa ada jarak tak terlihat yang memisahkannya. Ia mencoba merasakan kebahagiaan yang sama, tetapi yang ia rasakan hanyalah kehampaan yang tak bisa dijelaskan.
Saat hendak kembali ke apartemen, ia melewati sebuah bangunan dengan arsitektur unik yang didominasi oleh kubah dan menara. Masjid. Ia tidak terlalu mempedulikannya, karena masjid bukanlah hal baru baginya di Jakarta, meskipun ia tidak pernah benar-benar memasukinya. Namun, samar-samar ia mendengar suara yang mengalun merdu. Suara itu terasa asing di tengah riuh kota yang didominasi musik dan bising kendaraan, tetapi entah mengapa, suara itu terasa menenangkan.
Karina melanjutkan langkahnya. Ia tahu, ia harus segera mengisi kekosongan ini. Ia telah datang ke Manchester untuk menemukan kesuksesan, dan ia tidak akan membiarkan perasaan aneh ini menghalanginya. Namun, jauh di lubuk hati, ia tidak tahu bahwa justru di kota industri yang dingin ini, ia akan memulai pencarian yang sesungguhnya: pencarian makna hidup yang selama ini ia hindari.
