Blurb
Di tengah hiruk-pikuk intrik istana dan cengkeraman kolonialisme yang semakin mencekik, seorang pangeran harus menukar jubah sutranya dengan baju perang. Bukan untuk merebut takhta, melainkan demi membebaskan rakyatnya dari penjajahan. Antasari: Ksatria Tanah Banjar adalah kisah epik tentang keberanian, pengorbanan, dan perjuangan yang tak kenal lelah, dari seorang bangsawan yang bertransformasi menjadi pemimpin tertinggi revolusi.
Seperti Li Xin yang berjuang dari bawah untuk menyatukan Tiongkok, Pangeran Antasari mengumpulkan pasukan dari berbagai suku Dayak dan Banjar. Dia bukan hanya seorang pemimpin, tetapi juga simbol perlawanan yang membakar semangat seluruh Kalimantan. Perang bukan hanya tentang taktik, tetapi juga tentang pengkhianatan, aliansi, dan kehormatan.
Novel ini akan membawa Anda dalam perjalanan yang penuh aksi, dari hutan lebat Kalimantan hingga medan pertempuran brutal, di mana satu-satunya pilihan adalah mati atau merdeka. Siapakah yang akan menang? Sang ksatria Tanah Banjar atau mesin perang kolonial yang kejam?
Sinopsis Novel: Pangeran ANTASARI: Ksatria Tanah Banjar
Di sebuah kerajaan yang dulu makmur, Kesultanan Banjar, bayangan gelap kolonialisme Belanda mulai merayap dan menelan segalanya. Di tengah intrik politik istana dan ancaman penjajahan, seorang pemuda bernama Gusti Inu Kertapati tumbuh dengan idealisme yang berbeda dari para bangsawan lainnya. Ia bukan hanya saksi mata, melainkan juga korban dari keserakahan pihak kolonial yang dengan liciknya mengintervensi perebutan takhta, menyingkirkan pewaris yang sah, Pangeran Hidayatullah, demi mengangkat boneka mereka sendiri.
Novel ini dimulai dengan Gusti Inu Kertapati yang masih berada di lingkungan istana, mengamati kerusakan moral dan penindasan yang dilakukan Belanda. Namun, ia tidak diam. Ketika situasi semakin memburuk, ia mengambil keputusan drastis. Meninggalkan kemewahan istana, ia memilih jalan perjuangan yang penuh darah dan pengorbanan. Dengan tekad baja, ia bergerak ke pedalaman Kalimantan, menempa aliansi dengan suku-suku Dayak yang memiliki keahlian perang rimba. Aliansi ini, yang dibangun atas dasar kepercayaan dan tujuan bersama, menjadi tulang punggung kekuatan perlawanannya.
Perang Banjar resmi pecah pada tahun 1859, dan Gusti Inu Kertapati, yang kini dikenal sebagai Pangeran Antasari, memimpin serangan gerilya yang brutal dan mengejutkan. Ia menyerang pos-pos Belanda dan tambang-tambang yang dikuasai oleh penjajah, membuktikan bahwa perlawanan rakyat tidak bisa dianggap remeh. Strategi gerilya yang cerdik membuat Belanda frustasi, sementara nama Antasari menjadi legenda yang menyalakan semangat perlawanan di hati rakyat Banjar.
Puncak dari pengakuan rakyat adalah saat para pemimpin agama dan masyarakat memberinya gelar kehormatan "Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin" pada tahun 1862. Gelar ini menempatkannya sebagai pemimpin tertinggi perang suci, menambah bobot spiritual pada perjuangannya. Namun, perjalanan Antasari tidaklah mudah. Ia harus menghadapi tidak hanya musuh yang kuat, tetapi juga pengkhianatan dari dalam, pertempuran epik yang berdarah, serta penyakit mematikan yang menggerogoti tubuhnya.
Meskipun terdesak dan kesehatannya memburuk, semangat Antasari tidak pernah padam. Ia terus berjuang, menolak menyerah hingga akhir hayatnya. Kematiannya bukan akhir dari segalanya, melainkan warisan abadi yang membakar semangat perlawanan yang terus berlanjut. Novel ini akan ditutup dengan bagaimana semangat "Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing" (Haram menyerah, baja sampai ke ujung) terus dipegang teguh oleh keturunannya dan seluruh rakyat Banjar, memastikan bahwa perjuangan untuk kemerdekaan tidak pernah mati.
