Banjarmasin, di bawah langit senja yang memerah, tampak begitu magis. Sungai Martapura yang membelah kota, menjadi saksi bisu bagi hiruk pikuk kehidupan. Kelotok-kelotok yang hilir mudik menciptakan riak air, memantulkan cahaya lampu yang mulai menyala satu per satu. Namun, bagi Lev Ryley, pemandangan yang biasanya menenangkan ini terasa lain. Ada campuran rasa haru, bangga, dan cemas yang berkecamuk dalam hatinya.
Di teras rumah panggung khas Banjar dengan ukiran-ukiran indah yang diwariskan turun temurun, Lev duduk berhadapan dengan keluarganya. Ibunya, dengan mata berkaca-kaca, menyajikan kue bingka dan teh hangat. "Habiskan, Nak. Ini mungkin terakhir kali kamu makan masakan Ibu dalam waktu yang lama," katanya dengan suara bergetar.
Lev tersenyum, mencoba menenangkan. "Insyaallah, Bu. Lev akan sering-sering telepon. Lagian kan ada banyak makanan halal di sana," jawabnya. Namun, ayahnya, seorang pedagang lulugu (kain sasirangan) yang bijaksana, tahu betul apa yang Lev rasakan.
"Ini adalah amanah, Lev. Jaga dirimu, jaga imanmu, dan jangan pernah lupakan asal-usulmu," pesan ayahnya. Lev mengangguk mantap. Ia tidak hanya membawa tas berisi pakaian, tapi juga harapan besar dari keluarga dan seluruh kampungnya. Ia adalah pemuda pertama dari kampungnya yang berhasil mendapat beasiswa penuh untuk studi di universitas bergengsi di Australia.
Malam itu, Lev tidak bisa tidur. Ia membayangkan bagaimana rasanya hidup di negeri Kanguru yang jauh. Apakah ia akan bisa beradaptasi? Akankah ia bisa mempertahankan nilai-nilai Islami yang sudah mendarah daging dalam dirinya? Ia teringat lelucon dari teman-temannya saat perpisahan di kampung. "Awas Lev, jangan sampai kamu pulang-pulang jadi bule. Paling enggak, jangan lupakan bahasa Banjar-mu!" kata salah satu temannya sambil tertawa terbahak-bahak.
Pagi harinya, suasana di Bandara Internasional Syamsudin Noor dipenuhi keramaian. Keluarganya dan beberapa sahabat terdekatnya ikut mengantar. Adiknya, yang biasanya usil, kali ini diam dan memegang erat tangannya.
"Kakak, jangan lupa bawakan oleh-oleh ya," bisiknya.
"Tentu saja. Tunggu saja, kakak akan bawakan oleh-oleh yang paling keren dari sana," jawab Lev sambil mengacak-acak rambut adiknya.
Momen perpisahan akhirnya tiba. Setelah check-in, Lev berpelukan erat dengan keluarganya. Tangis Ibu akhirnya pecah. Ia memeluk Lev dengan erat, seakan tak ingin melepaskan. "Hati-hati, Nak. Jangan lupa salat. Ibu akan selalu mendoakanmu."
Ayah menepuk bahu Lev, "Sudah, jangan cengeng. Kamu adalah kebanggaan kami. Pergilah dan buktikan kamu bisa."
Dengan langkah berat, Lev berjalan memasuki gerbang keberangkatan. Ia menoleh ke belakang, melihat keluarganya melambaikan tangan dengan mata sembab. Sebuah senyum tipis terukir di wajahnya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, pada keluarganya, dan pada Tuhannya, bahwa ia akan kembali sebagai pribadi yang lebih baik, dengan ilmu yang bermanfaat.
Di dalam pesawat, Lev mencoba menenangkan diri. Ia membuka Al-Qur'an kecil yang diberikan oleh ayahnya. Kata-kata indah dari ayat-ayat suci itu perlahan menenangkan hatinya. Perjalanan panjang dari Banjarmasin ke Perth akan segera dimulai. Kota Seribu Sungai yang penuh kenangan kini tertinggal jauh di bawah sana. Sebuah petualangan baru di Negeri Kanguru menanti, membawa misi sederhana namun mulia: belajar, berinteraksi, dan membuktikan bahwa seorang Muslim dari Banjarmasin bisa meraih mimpi setinggi angkasa, tanpa melupakan akar dan imannya.
