Matahari bersinar terik di atas hutan, sinarnya menembus celah-celah dedaunan dan jatuh di punggung kurir Ki Bayu yang tengah bersembunyi. Namanya Ujang, seorang pemuda cerdik yang setia pada Ki Bayu. Ia gemetar, bukan karena takut pada hutan, tetapi karena pasukan Suraji yang mengejarnya. Ujang telah berhasil lolos dari pantauan mereka di tepi sungai, tetapi ia tahu, pengejaran tidak akan berhenti sampai ia berhasil ditangkap. Gulungan yang dibawanya terasa begitu berat di tangannya, bagaikan sebuah rahasia yang bisa mengubah takdir.
Sementara itu, Samudra dan pasukannya menunggu di sebuah dataran tinggi yang dikelilingi jurang, tempat strategis yang telah mereka persiapkan. "Mereka akan datang dari sana," tunjuk Bagus, "melintasi jalur sempit yang hanya bisa dilalui satu orang."
"Bagus," kata Samudra. "Ini terlalu mudah. Tumenggung tidak sebodoh itu. Dia pasti sudah tahu kita di sini. Aku yakin ini jebakan."
Sangkuriang, yang duduk di atas batu besar, membersihkan pisaunya. "Lalu apa yang harus kita lakukan, Pangeran? Tunggu sampai mereka mengepung kita?"
"Tidak," jawab Samudra. "Kita akan bergerak. Kita akan berpencar dan menyerang mereka dari belakang. Tapi kita butuh informasi. Aku butuh tahu apa yang mereka rencanakan sebenarnya? "
Saat itulah, Ujang berhasil menyelinap masuk ke dalam persembunyian Samudra. Ia kelelahan, pakaiannya sobek, dan tubuhnya penuh luka gores. "Pangeran Samudra," teriaknya, terengah-engah. "Hamba membawa pesan dari Ki Bayu!"
Samudra segera menghampiri Ujang. "Ada apa?" tanyanya.
"Ki Bayu mengirimkan peta kekuatan Tumenggung dan kelemahan pertahanan istana. Tapi hamba yakin Panglima Suraji sudah tahu hamba membawa pesan ini. Dia akan datang mengejar kita."
Samudra membuka gulungan itu. Matanya menyapu setiap garis dan titik yang tergambar di dalamnya. Ia melihat rute-rute rahasia, jumlah prajurit di setiap pos, dan titik-titik lemah di sekitar istana. Informasi ini sangat berharga. Namun, ia juga menyadari bahaya yang mengancam. Suraji tidak akan datang dengan pasukan kecil. Ia akan datang dengan pasukan besar, berharap bisa memusnahkan mereka semua.
"Semua prajurit, bersiap!" teriak Samudra. "Kita akan hadapi mereka, tapi bukan di tempat ini. Kita akan memancing mereka ke dalam perangkap kita."
Samudra merencanakan strategi. Ia memerintahkan sebagian pasukannya, yang dipimpin oleh Gendut, untuk tetap di dataran tinggi.
"Gendut, buatlah seolah-olah kita masih di sini. Buatlah api unggun, buatlah suara gaduh. Buatlah mereka yakin kita masih di sini," perintah Samudra.
"Baik, Pangeran," jawab Gendut, mengangguk.
Sementara itu, Samudra bersama Bagus dan Sangkuriang memimpin sisa pasukan mereka untuk menyelinap ke belakang musuh. Mereka akan membagi pasukan menjadi dua kelompok, satu kelompok akan menyerang pasukan Suraji dari belakang, sementara kelompok lain, yang dipimpin oleh Sangkuriang, akan menyerang mereka dari samping.
Pertarungan pun pecah. Pasukan Suraji yang datang dengan penuh percaya diri, terkejut melihat pasukan Samudra menyerang dari berbagai arah. Mereka tidak menyangka bahwa Samudra akan membagi pasukannya dan menggunakan taktik gerilya. Suraji sendiri merasa tertipu. "Bocah itu cerdik," geramnya. "Dia tahu kita akan datang."
Pertarungan berjalan sengit. Pasukan Suraji lebih terlatih, tetapi pasukan Samudra lebih mengenal medan. Mereka memanfaatkan hutan sebagai senjata, menyerang dari balik pepohonan, menggunakan panah dan tombak. Sangkuriang dan para perompaknya menyerang dengan ganas, menggunakan pisau dan pedang mereka untuk menebas musuh.
Samudra sendiri bertarung di garis depan, memimpin pasukannya dengan keberanian. Ia bertarung dengan semangat membara, menebas prajurit musuh satu per satu. Di tengah pertempuran, ia melihat Suraji, panglima licik yang ingin mengkhianatinya. Samudra segera mengarahkan pedangnya ke Suraji.
"Kau akan membayar pengkhianatanmu, Suraji!" teriak Samudra.
"Kau terlalu naif, bocah," jawab Suraji, tersenyum sinis. "Kekuasaan bukan untuk orang sepertimu. Kau harus mati di sini!"
Pertarungan antara Samudra dan Suraji berlangsung sengit. Keduanya saling menyerang dengan pedang, mengeluarkan jurus-jurus mematikan. Samudra bertarung dengan hati, sementara Suraji bertarung dengan ambisi. Meskipun Suraji lebih berpengalaman, Samudra lebih gesit dan bersemangat. Ia berhasil menghindari serangan Suraji dan menebasnya. Suraji roboh, terluka parah.Melihat panglima mereka kalah, pasukan Suraji mundur, meninggalkan medan pertempuran. Pasukan Samudra bersorak kemenangan. Mereka telah memenangkan pertempuran besar, dan Samudra telah membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang hebat.
Setelah pertempuran usai, Samudra segera mencari Ujang. Ia menemukan pemuda itu, terluka tetapi selamat. "Terima kasih, Ujang," kata Samudra. "Kau telah menyelamatkan kami. Aku tidak akan pernah melupakan jasamu."
Malam itu, di api unggun, Samudra memegang gulungan dari Ki Bayu. Ia tahu, perjalanannya masih panjang. Tetapi ia juga tahu, ia tidak lagi sendirian. Di sisinya, ada Gendut, pengawal setianya. Di belakangnya, ada Bagus dan Sangkuriang, dua panglima yang bersumpah setia. Di dalam hatinya, ada tekad membara untuk membalas dendam dan merebut kembali takhtanya. Perjalanannya baru saja dimulai. Bab ini menjadi saksi bisu, bahwa di tengah intrik dan pengkhianatan, kesetiaan dan keberanian akan selalu menemukan jalannya.
