Udara di Kayu Tangi, ibu kota Kesultanan Banjar, begitu lembap dan menusuk. Malam itu, di balairung istana yang megah, tawa dan musik mengalun, berusaha menenggelamkan bisikan ketidakpastian yang beredar di setiap sudut. Para bangsawan dan pembesar kerajaan berkumpul dalam perayaan ulang tahun putri bungsu sultan, sebuah pesta yang ironisnya digelar di tengah bayang-bayang kegelisahan. Lampu-lampu minyak memancarkan cahaya kekuningan, menyoroti ukiran rumit pada tiang-tiang kayu ulin dan kilau perhiasan emas yang menempel di tubuh para istri bangsawan.
Di tengah keramaian itu, Gusti Inu Kertapati, seorang pangeran yang lebih dikenal dengan panggilan Antasari, duduk menyendiri di sudut. Usianya belum genap lima puluh, tetapi di wajahnya telah terukir guratan-guratan ketegasan dan kebijaksanaan. Matanya yang tajam mengawasi setiap gerak-gerik para tamu, bukan dengan rasa iri, melainkan dengan kecurigaan. Ia menyaksikan para bangsawan yang saling berebut perhatian, tertawa lepas bersama para petinggi Kompeni, mengabaikan kehormatan leluhur mereka demi secuil kekuasaan dan keuntungan.
Ia teringat cerita ayahnya, Pangeran Mas'ud, tentang masa lalu Banjar yang jaya. Sebuah kerajaan yang berdaulat, tempat lada dan hasil hutan mengalir ke seluruh penjuru dunia. Kini, yang ia lihat hanyalah bayangan pucat dari masa lalu itu. Kekayaan alam Banjar bukan lagi milik rakyatnya, melainkan dikuras habis oleh mesin-mesin keserakahan Belanda.
Di seberang balairung, Pangeran Tamjidullah terlihat memaksakan senyumnya saat berbicara dengan seorang perwira Belanda, Van der Velde. Tatapan mata Tamjidullah yang penuh ambisi tak bisa disembunyikan. Ia adalah salah satu pangeran yang paling sering bergaul dengan Belanda, menjalin hubungan yang menguntungkan diri sendiri. Di sampingnya, Pangeran Hidayatullah, pewaris takhta yang sah, duduk dengan wajah murung. Hidayatullah adalah sosok yang bijaksana dan dicintai rakyat, tetapi ia terlalu baik untuk permainan politik kotor di istana. Kelemahannya itu justru menjadi senjata bagi Belanda untuk memecah belah istana.
Antasari menoleh ke arah Pangeran Hidayatullah, merasakan iba. Pangeran Hidayatullah memiliki semua yang diperlukan untuk menjadi pemimpin Banjar yang adil, tetapi ia terjebak dalam jaring intrik yang dipasang oleh Belanda. Mereka telah merencanakan semuanya, memanfaatkan perpecahan di antara keluarga istana untuk menancapkan kuku kekuasaannya.
"Malam yang panjang, Paman," sebuah suara menyapa, membuyarkan lamunan Antasari. Pangeran Hidayatullah berdiri di hadapannya, menggenggam segelas anggur dengan erat.
"Duduklah, Anum," jawab Antasari, menggunakan sapaan akrab untuk sang pewaris. "Ada apa? Kau tampak lelah."
Hidayatullah menghela napas. "Apakah paman juga merasakan hal yang sama? Bahwa semua ini hanya topeng?"
"Bukan topeng, Anum," ujar Antasari dengan suara rendah. "Ini adalah aib. Mereka menertawakan kita, menertawakan kehormatan kita, di depan mata kita sendiri."
Hidayatullah mengangguk perlahan. "Mereka telah memonopoli perdagangan lada. Mereka menguasai tambang-tambang. Dan sekarang, mereka mencoba mengendalikan siapa yang akan duduk di takhta."
Antasari menatap dalam-dalam ke mata Hidayatullah. "Apa yang akan kau lakukan?"
"Apa yang bisa aku lakukan, Paman?" Suara Hidayatullah terdengar putus asa. "Ayah sudah tua. Beliau tidak lagi memiliki kekuatan untuk melawan. Dan aku... aku tidak ingin menumpahkan darah saudara sendiri."
Ucapan Hidayatullah membuat dada Antasari terasa sesak. Ia mengerti dilema yang dihadapi sang pewaris. Namun, ia tidak bisa tinggal diam. Ia adalah darah pejuang dari garis keturunan Pangeran Amir yang terkenal keras kepala dan tidak kenal takut. Jiwa pemberontakan mengalir kuat dalam nadinya.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan meriah memecah percakapan mereka. Van der Velde, si perwira Belanda, berdiri di tengah balairung, memegang piala. "Yang Mulia Sultan, dan para bangsawan sekalian! Izinkan saya menyampaikan penghormatan tertinggi dari Gubernur Jenderal. Semoga persahabatan antara Kompeni dan Kesultanan Banjar terus terjalin erat!"
Hidayatullah memalingkan muka, jijik. Antasari mengepalkan tangannya. Di luar jendela, suara sungai Barito yang mengalir tenang terdengar seperti desah napas seekor naga yang tertidur. Namun, Antasari tahu, di dalam sungai itu, di bawah permukaan yang tenang, api kemarahan rakyat sudah membara.
Setelah pesta usai, Antasari berjalan menyusuri koridor istana yang sepi. Ia melintasi potret-potret para leluhurnya, para sultan yang dulu memimpin Banjar dengan gagah berani. Tatapan mereka seolah menuntut sesuatu darinya. Ia berhenti di depan sebuah jendela, memandang bulan yang bersinar di atas Kayu Tangi. Kota itu tampak tenang, tetapi ia bisa merasakan ketegangan yang tersembunyi.
Esok pagi, ia akan meninggalkan istana ini. Bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk memulai perjuangan. Ia akan menukar jubah sutranya dengan pakaian prajurit, dan istana ini akan ia tinggalkan, membawa nama Antasari. Pesta tawa di atas penderitaan rakyat Banjar ini adalah perayaan terakhir yang akan disaksikannya di istana. Setelah ini, yang ada hanyalah perang.
Ia memejamkan mata, membiarkan angin sungai yang sejuk menyentuh wajahnya. Ini adalah akhir dari kehormatan yang semu, pikirnya. Dan awal dari perjuangan yang sesungguhnya.
