Malam itu, Karina tak bisa tidur nyenyak. Pertemuannya dengan Adam di perpustakaan terus terngiang di pikirannya. Ada sesuatu dari cara Adam berbicara, dari ketenangan yang terpancar dari wajahnya, yang membuatnya penasaran. Karina, yang terbiasa mengandalkan logika dan data, kini dihadapkan pada sebuah variabel baru yang sulit ia hitung: keyakinan.
Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan ke jendela, dan melihat keluar. Gerimis masih turun, membasahi jalanan yang sepi. Lampu-lampu kota memantul di genangan air, menciptakan pemandangan yang sendu. Ia merasa aneh. Ia berada di kota yang penuh dengan peluang, namun mengapa hatinya justru terasa semakin kosong?
Tiba-tiba, sebuah suara merdu mengalun dari kejauhan, memecah keheningan malam. Bukan suara musik, bukan pula suara bising kendaraan. Itu adalah suara yang sama yang ia dengar saat pertama kali tiba di Manchester, suara yang berasal dari masjid di ujung jalan. Suara itu berulang, kalimat-kalimatnya terasa asing, namun ada melodi yang begitu damai di dalamnya.
Karina membuka jendela, membiarkan udara dingin masuk. Ia mendengarkan dengan saksama. Suara itu seolah berbicara langsung ke dalam relung hatinya yang terdalam. Ia tidak mengerti artinya, tetapi ia merasakan getaran aneh, sebuah sensasi yang menenangkan. Rasanya seperti ada sesuatu yang dipanggil, sesuatu yang selama ini hilang.
Suara azan itu tidak menggurui, tidak memaksa, namun justru menawarkan sebuah ketenangan yang tak pernah ia temukan di tengah hingar bingar kehidupan modern. Karina memejamkan mata, membiarkan suara itu meresap ke dalam dirinya. Untuk pertama kalinya, ia merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri, lebih besar dari ambisi, kesuksesan, dan gemerlap duniawi yang selama ini ia kejar.
Ia teringat kembali akan sosok Adam. Pemuda itu memiliki ketenangan yang sama dengan suara azan ini. Apakah itu sumber ketenangan yang ia miliki? Karina merasa ada sebuah jawaban yang tersimpan di dalam keyakinan yang Adam anut.
Ia kembali ke tempat tidur, namun kali ini dengan perasaan yang berbeda. Kekosongan itu masih ada, tetapi ia tidak lagi merasa sendirian. Suara azan itu memberinya sebuah harapan, sebuah petunjuk kecil tentang jalan yang mungkin bisa ia tempuh untuk menemukan kedamaian yang selama ini ia cari. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak ia tiba di Manchester, Karina tertidur dengan hati yang sedikit lebih tenang, diiringi senandung azan yang masih terngiang di telinganya.
