Pipi Penguin, yang biasanya pemalu dan pendiam, merasa khawatir. Seekor berang-berang kecil bernama Bubu tersesat di Hutan Rimba. Bubu datang bersama keluarganya untuk berlibur, tetapi saat ia sedang bermain, ia terpisah dari rombongannya. Ia terlalu takut untuk berteriak, jadi ia hanya menangis pelan di balik semak.
Pipi mendengar tangisan Bubu. Ia ingin membantu, tetapi ia terlalu takut. Ia membayangkan apa yang akan terjadi jika ia mendekati Bubu. Bagaimana jika Bubu tidak mau didekati? Bagaimana jika Bubu menganggapnya aneh karena ia adalah penguin? Pipi merasakan kegugupan yang luar biasa.
Ia memutar badannya dan berjalan menjauh, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tidak mendengar apa pun. Tetapi, suara tangisan Bubu terus terngiang di telinganya. Pipi tidak bisa mengabaikannya. Ia teringat akan kebaikan Momo dan Lala, dan ia merasa malu karena tidak bisa melakukan hal yang sama.
Dengan segenap keberanian yang ia miliki, Pipi berbalik arah. Ia mengambil napas dalam-dalam dan berjalan perlahan menuju semak-semak. Ia bisa melihat Bubu sedang meringkuk, memeluk lututnya, dengan air mata membasahi pipinya.
"Jangan takut," kata Pipi dengan suara pelan. "Aku... aku tidak akan menyakitimu."
Bubu mengangkat kepalanya, matanya merah. Ia melihat Pipi, si penguin yang lucu, dengan rasa takut dan bingung. "Siapa... siapa kamu?" tanyanya.
"Aku Pipi," jawab Pipi. "Kamu tersesat, ya?"
Bubu mengangguk. Ia mulai menangis lagi. "Aku... aku takut... aku tidak tahu jalan pulang."
Pipi menepuk bahu Bubu dengan lembut. "Jangan takut. Aku akan membantumu. Aku tahu jalan pulang."
Pipi mengajak Bubu ke pinggir danau, di mana ia tahu Lala Lumba-Lumba sering bermain. Dengan bantuan Lala, mereka berhasil menemukan keluarga Bubu. Keluarga berang-berang itu sangat gembira melihat Bubu selamat. Mereka berterima kasih kepada Pipi dan Lala.
Saat malam tiba, Kiko, Momo, dan Lala datang menemui Pipi. Mereka bangga dengan keberanian Pipi.
"Kamu hebat, Pipi!" seru Momo. "Kamu tidak lagi malu dan takut!"
Pipi tersenyum. "Aku hanya... aku hanya tidak bisa membiarkan Bubu sendirian," katanya. "Aku tahu rasanya menjadi sendirian dan takut."
Beruang Bijak datang dan tersenyum. "Pipi, keberanian bukan berarti tidak pernah takut," katanya. "Keberanian adalah saat kita menghadapi ketakutan kita demi membantu orang lain."
Pipi mengangguk. Ia menyadari bahwa kejujuran dan keberanian adalah dua hal yang saling berkaitan. Ia telah jujur pada dirinya sendiri bahwa ia takut, tetapi ia juga berani menghadapi ketakutannya untuk menolong Bubu. Dan itu membuatnya merasa lebih kuat.
