"Bismillah."
Lev Ryley menahan napasnya. Gema lafaz itu begitu jelas di telinganya, seakan-akan mengalirkan kekuatan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tangannya gemetar saat membuka map cokelat yang sudah kusut. Di dalamnya, selembar kertas dengan lambang elang berkepala dua terpampang nyata.
Visa.
Akhirnya, setelah berbulan-bulan mengurus dokumen yang berlapis-lapis dan proses wawancara yang tak terduga rumitnya, izin untuk menjejakkan kaki di tanah Rusia itu kini berada dalam genggamannya. Sensasi lega, haru, dan gembira bercampur menjadi satu, meluap seperti air Sungai Martapura yang sedang pasang. Tujuan awalnya sederhana: menjelajah. Membuktikan pada dirinya sendiri bahwa iman tidak berbatas ruang dan waktu. Bahwa sebagai seorang Muslim dari Banjarmasin yang kental dengan budaya Melayu dan Banjar, ia bisa bertahan dan mengamalkan agamanya di negeri beruang merah.
"Jadi, kamu benar-benar akan pergi, Nak?" Suara lembut sang ibu, Hj. Fatimah, membuyarkan lamunan Lev.
Lev membalikkan badannya, tersenyum dan mendekat, lalu mencium tangan ibunya dengan takzim. "Insya Allah, Bu. Doakan Lev."
Wajah sang ibu terlihat sendu. Ada garis kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan. "Jauh sekali. Tidak ada yang kenal, tidak ada yang menjaga. Nanti makan apa? Shalat di mana?"
Pertanyaan-pertanyaan itu sudah sering dilontarkan. Dan seperti biasa, Lev menjawabnya dengan keyakinan yang sama. "Allah Subhanahu wa Ta'ala yang akan menjaga, Bu. Ada ribuan masjid di sana. Soal makan, Lev sudah belajar masak. Tenang saja."
Ucapan Lev tidak sepenuhnya menenangkan. Ibunya masih membelai pipinya dengan lembut. "Anakku ini. Sudah besar sekarang."
Ayahnya, H. Ramli, duduk di teras sambil menyesap kopi, hanya mengamati dari kejauhan. Wajahnya tenang, tapi Lev tahu, di balik ketenangan itu ada kebanggaan yang tersembunyi. Sejak awal, ayahnya-lah yang paling mendukung ambisi Lev untuk menjelajahi dunia. "Cari ilmu, Nak. Lihat dunia. Jangan jadi katak di dalam tempurung," begitu pesan ayahnya saat Lev mengutarakan niatnya.
Keesokan harinya, suasana di rumah Lev begitu ramai. Nenek, kakek, paman, bibi, dan sepupu-sepupu datang untuk mengadakan selamatan kecil. Aroma kue-kue tradisional Banjar seperti hintalo karuang, bingka barandam, dan kue lam memenuhi setiap sudut rumah. Di halaman belakang, sang nenek memimpin doa dengan khidmat, mendoakan keselamatan Lev selama di perantauan.
"Jangan lupakan shalat, Nak," bisik nenek setelah doa usai. "Itu tiangmu. Di mana pun kamu berada, ingatlah pada-Nya."
Lev mengangguk, matanya berkaca-kaca. Perpisahan ini terasa berat, jauh lebih berat daripada yang ia bayangkan. Tapi, tekadnya sudah bulat. Ia ingin keluar dari zona nyamannya, melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda, dan membawa pulang pengalaman yang akan mengubah cara pandangnya selamanya.
Malam harinya, di kamar yang sudah kosong, Lev menatap keluar jendela. Kelap-kelip lampu di sepanjang jalan seolah menari di kegelapan. Udara Banjarmasin yang lembap dan hangat seakan memeluknya untuk terakhir kali. Tiba-tiba, sebuah pesan masuk di ponselnya.
Dari: Kak Lisa.
"Ingat, Lev. Di sana jangan sampai terjerumus sama yang aneh-aneh. Jangan pacaran. Fokus sama tujuanmu. Kalau ada apa-apa, cerita sama Kakak."
Lev terkekeh pelan. Kakaknya itu memang paling cerewet. Ia membalas pesan itu dengan singkat. "Siap, Bos! Doakan Lev kuat iman di sana."
Hati Lev kembali diliputi perasaan campur aduk. Ia akan jauh dari keluarga, dari rutinitasnya, dari kehangatan kota yang dijuluki Kota Seribu Sungai ini. Ia tidak tahu apa yang menantinya di Perm, kota pertama tujuannya. Apakah orang-orangnya ramah? Apakah ia akan kesulitan mencari makanan halal? Apakah ia bisa beradaptasi dengan budaya yang sangat berbeda?
Namun, ketakutan itu dikalahkan oleh rasa penasaran dan semangat yang membara. Ia membayangkan salju pertama yang akan ia lihat, bangunan-bangunan kuno yang dipotretnya, dan tentu saja, teman-teman baru yang akan ia temui. Yang terpenting, ia akan membuktikan pada dirinya sendiri dan keluarganya, bahwa ia bisa mandiri, kuat, dan tetap teguh pada keyakinannya.
Lev mengemasi barang-barangnya untuk terakhir kali, memastikan semua dokumen penting sudah tersimpan dengan aman. Ia mengenakan jaket tebalnya, memandangi koper di sampingnya, lalu mengucapkan lafaz yang sama.
"Bismillah."
Dan esok, petualangannya di Bumi Matahari Tengah Malam akan dimulai.
