Lyra membawa Kael ke tempat yang lebih aman dan tersembunyi, sebuah gua kecil yang disamarkan oleh tirai tanaman rambat lebat yang bercahaya. Di dalamnya, cahaya hijau lembut dari kristal-kristal di dinding menerangi ruangan, memberikan suasana yang damai dan magis. Kael duduk bersila, masih merasa keheranan dengan kekuatan Lyra dan sihir hutan.
"Istirahatlah," kata Lyra, menyerahkan sebuah buah beri kecil yang bersinar. "Ini akan mengembalikan energimu."
Kael mengambil beri itu, ragu-ragu. "Apakah ini aman?"
Lyra tersenyum kecil. "Kau ada di wilayah Fae, Kael. Di sini, hampir semua makanan berasal dari sihir."
Kael memakannya. Rasanya manis dan menyegarkan, dan segera setelah itu, ia merasakan energinya kembali penuh. Ia menatap kartu Elara di tangannya. Gema itu masih bergetar, namun kini lebih tenang.
"Gema kartumu itu unik," kata Lyra, duduk di seberangnya. "Aku pernah merasakan resonansi kartu sebelumnya, tapi tidak sekuat ini. Seolah-olah ada jiwa yang terperangkap di dalamnya."
"Itu adalah Elara," bisik Kael.
Lyra mengangguk. "Mortii adalah makhluk yang menakutkan. Mereka suka bermain dengan jiwa, mengikatnya dengan kegelapan. Jika gema itu berasal dari jiwanya, maka mereka telah melakukan sesuatu yang keji pada Elara."
Kael mengepalkan tangannya. "Aku akan membuatnya membayar."
"Jangan biarkan dendam membutakanmu," Lyra memperingatkan. "Kemarahan akan melemahkanmu di hadapan sihir Mortii. Kau harus belajar mengendalikan kekuatanmu, bukan sebaliknya. Kekuatanmu terletak pada gema itu, Kael. Dan aku bisa membantumu."
Lyra kemudian menjelaskan bahwa gema itu adalah koneksi Kael dengan alam. Setiap kartu yang Kael ciptakan adalah perwujudan dari bahan alam yang ia gunakan. Fae, sebagai penjaga alam, dapat mengajarkan Kael cara menyalurkan energi alam melalui gema kartunya.
"Kau harus bermeditasi," kata Lyra. "Dengarkan suara hutan. Dengarkan gema dari setiap daun, setiap batu. Biarkan gema itu menyatu denganmu."
Kael menutup matanya, mengikuti instruksi Lyra. Pada awalnya, ia hanya mendengar suara hutan yang normal: desiran angin, gemerisik dedaunan, dan tetesan air. Tetapi, saat ia memfokuskan pikirannya, ia mulai mendengar lebih banyak. Ia mendengar detak jantung pohon kuno yang masih hidup, suara aliran air sungai yang mengalir dalam tanah, dan bisikan energi sihir yang mengalir di seluruh hutan. Gema dari kartu Elara di tangannya beresonansi dengan semua suara itu, menjadi satu harmoni yang indah.
Namun, tiba-tiba, harmoni itu terganggu oleh nada yang berbeda—nada yang dingin dan gelap. Kael membuka matanya, dan ia merasakan bahaya.
"Ada yang datang," bisik Kael.
Lyra, yang juga merasakan perubahan itu, bangkit berdiri. "Mereka telah menemukan kita."
Kael mengeluarkan kartu penjaga Human-nya. Namun, kali ini, yang datang bukanlah monster getah, melainkan beberapa Mortii dengan baju zirah yang terbuat dari tulang dan sihir kegelapan. Mereka dipimpin oleh seorang Mortii yang lebih besar dan lebih kuat, dengan mata merah yang menyala-nyala.
"Lyra!" teriak Kael, menyuruhnya lari.
"Tidak," jawab Lyra, matanya berfokus. "Kita tidak bisa lari. Di hutan ini, kita melawan atau mati."
Lyra menembakkan panahnya, tetapi Mortii yang lebih besar itu dengan mudah menghancurkannya dengan tangannya yang besar. Penjaga Human Kael juga kewalahan oleh banyaknya Mortii. Mereka dikepung.
Saat itulah Kael memejamkan matanya, memfokuskan gema kartu Elara. Ia memanggil gema dari kartu-kartu lain yang ia miliki, dan menyatukan semuanya. Saat ia membuka matanya, ia melemparkan semua kartunya ke udara. Kartu-kartu itu bersinar, dan sebuah badai sihir alam muncul, mengelilingi mereka. Badai itu tidak menyerang Mortii, melainkan membuat mereka tidak bisa bergerak.
"Sekarang!" teriak Kael pada Lyra.
Lyra mengangguk, mengerti maksud Kael. Ia melesat ke udara, menggunakan akar-akar pohon sebagai pijakan, dan menembakkan panah yang dipenuhi sihirnya ke arah Mortii yang lebih besar itu. Panah itu menembus dadanya, dan Mortii itu jatuh ke tanah.
Mortii lainnya panik dan mulai mundur. Badai sihir Kael perlahan mereda. Mereka telah berhasil melarikan diri dari jebakan, berkat kerja sama mereka. Kael menatap Lyra, dan Lyra tersenyum padanya.
"Kau memiliki potensi yang luar biasa, Kael," kata Lyra. "Kita akan membutuhkannya untuk mengalahkan Mortii."
Mereka berdua tahu bahwa petualangan mereka baru saja dimulai. Mereka telah berhasil melewati jebakan pertama, tetapi banyak lagi yang akan datang. Dan mereka harus bersiap.
Dapatkan novel fantasi Deck Heroes Legacy dan ikuti petualangan epik Kael dan kawan-kawan setiap minggunya! Jangan lewatkan kisah seru, konflik mendalam, dan intrik antar fraksi yang akan membawa Anda ke dunia yang penuh sihir dan bahaya. [Link Pre-Order / Baca Sekarang].
