Setelah sehari penuh berada di kompleks Piramida Giza yang penuh turis, Fatimah memutuskan untuk membawa Lev, Khadijah, dan Aisyah ke sisi lain Kairo yang hanya diketahui oleh penduduk lokal. Mereka menaiki taksi yang lebih tua dan reyot dibandingkan taksi-taksi di Dubai, melewati jalanan padat dengan pemandangan pasar-pasar kecil, kedai teh sederhana, dan toko-toko yang menjual aneka rempah. Fatimah menjadi pemandu yang handal, menunjukkan setiap sudut kota dengan rasa bangga.
“Ini Kairo yang sesungguhnya,” katanya, matanya bersinar. “Bukan Kairo yang ada di brosur wisata.”
Taksi itu berhenti di sebuah area yang ramai, dipenuhi oleh orang-orang yang beraktivitas. Fatimah membawa mereka ke sebuah gang sempit, di mana aroma roti panggang dan teh mint menguar ke udara. Di sana, mereka disambut oleh seorang perempuan tua yang ramah, yang ternyata adalah ibu Fatimah.
“Fatimah! Akhirnya kau pulang!” Ibu Fatimah memeluk putrinya dengan erat, lalu menatap tiga sahabat Fatimah dengan senyum lebar. “Dan siapa teman-temanmu ini?”
Fatimah memperkenalkan mereka satu per satu. Lev dari Banjarmasin, Khadijah dari Indonesia, dan Aisyah dari Iran. Ibu Fatimah menyambut mereka dengan hangat, mempersilakan masuk ke rumahnya yang sederhana namun bersih dan nyaman.
“Di Mesir, tamu itu adalah berkah,” bisik Khadijah kepada Lev. “Kita harus menghormati tuan rumah.”
Lev mengangguk, merasa terharu dengan keramahan yang ia terima. Jauh dari Banjarmasin, ia merasakan kehangatan yang sama.
Di dalam rumah, mereka disuguhi teh mint dan kue-kue tradisional. Ibu Fatimah bercerita tentang masa kecil Fatimah yang nakal, namun juga cerdas. Fatimah sesekali memprotes dengan malu-malu, membuat Lev dan Aisyah tertawa. Lev menceritakan tentang Banjarmasin, tentang pasar terapung, dan tentang keluarganya. Ibu Fatimah mendengarkan dengan penuh minat, sesekali bertanya tentang Indonesia.
“Jadi, kamu ini arsitek?” tanya Ibu Fatimah kepada Lev. “Aku dengar, kamu ingin melihat Al-Azhar?”
Lev mengangguk. “Iya, Bu. Itu salah satu tujuan utama saya.”
“Kalau begitu, besok pagi Fatimah akan ajak kamu. Di sana, kamu akan lihat arsitektur yang sesungguhnya,” kata Ibu Fatimah, bangga.
Aisyah, yang sedari tadi merekam, mendekati Ibu Fatimah. “Boleh saya rekam, Bu? Teman-teman di rumah pasti suka melihat keramahan Ibu.”
Ibu Fatimah tertawa kecil. “Tentu, Nak. Ibu senang jika cerita kami bisa sampai ke banyak orang.”
Malam itu, mereka makan malam bersama di rumah Fatimah. Hidangan yang disajikan sederhana, namun lezat. Lev memuji masakan Ibu Fatimah, dan Ibu Fatimah tampak tersipu malu. Setelah makan, mereka duduk di ruang tamu, berbincang-bincang santai.
Fatimah menceritakan tentang perjuangannya sebagai penulis lepas di Mesir. Ia menceritakan bagaimana ia seringkali berhadapan dengan sensor, bagaimana ia berusaha untuk tetap kritis di tengah keterbatasan. Lev, Khadijah, dan Aisyah mendengarkan dengan saksama.
“Tidak mudah menjadi penulis di sini,” kata Fatimah. “Tapi aku tidak akan menyerah. Aku percaya, tulisan bisa mengubah dunia, sedikit demi sedikit.”
“Fatimah, kamu sangat hebat,” kata Khadijah, bangga.
“Aku tidak hebat. Aku hanya mencoba untuk berani,” jawab Fatimah.
Malam semakin larut. Lev, Khadijah, dan Aisyah pamit untuk kembali ke hotel. Fatimah mengantar mereka sampai ke depan gang.
“Terima kasih, Fatimah. Kami merasa seperti di rumah sendiri,” kata Lev.
Fatimah tersenyum tulus. “Senang kalian bisa datang. Sampai jumpa besok, ya. Kita akan jelajah Al-Azhar.”
Dalam perjalanan kembali ke hotel, Lev memikirkan kata-kata Fatimah. Ia menyadari, setiap orang punya cerita perjuangan masing-masing. Di balik sikap kritis Fatimah, ada tekad yang kuat. Di balik keramahan Ibu Fatimah, ada kekuatan yang luar biasa. Mesir, dengan segala kekurangannya, adalah rumah yang penuh dengan cinta dan cerita. Dan Lev, dengan segala kekonyolannya, merasa bersyukur bisa menjadi bagian dari cerita itu.
Keywords: novel Islami, Lev Ryley, Timur Tengah, persahabatan, slice of life, komedi, novel Banjarmasin, Mesir, Kairo, Fatimah, Aisyah, Khadijah, Al-Azhar, budaya, keramahan, vlog, humor, keluarga.
