Setelah petualangan yang tak terduga di desa Dayak Muslim, Lev dan Faruq kembali ke Banjarmasin. Perjalanan pulang terasa berbeda. Lev kini tidak lagi hanya melihat pemandangan, tapi juga mengingat setiap cerita dan pelajaran yang ia dapat. Ia merenungkan bagaimana dari Banjarmasin yang ramai, ia bisa menemukan ketenangan di tengah hutan, dan bagaimana dari kecerobohannya, ia bisa menemukan persahabatan yang tulus.
"Faruq, aku merasa seperti kembali ke rumah yang berbeda," kata Lev, saat mereka melintasi Jembatan Barito, kembali memasuki wilayah Kalimantan Selatan.
"Apa maksudmu, Lev?" tanya Faruq.
"Dulu, aku hanya melihat rumah, tapi sekarang aku melihat cerita di baliknya. Aku melihat perjuangan, persahabatan, dan keimanan di setiap sudut Borneo," jawab Lev, sambil memandang ke luar jendela.
Faruq tersenyum. "Itu artinya, kamu sudah belajar banyak, Lev. Kamu sudah dewasa."
Lev tertawa. "Mungkin. Tapi aku masih ceroboh."
Tiba-tiba, Lev teringat sesuatu. "Faruq! Kamu ingat kopi yang tumpah di kamarku malam itu?"
"Tentu saja. Kopi robusta Banjar yang mematikan," balas Faruq, dengan nada bercanda.
"Aku merasa kopi itu tersenyum," kata Lev.
Faruq mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?"
"Kopi itu mengajarkan aku, bahwa kekacauan bisa membawa kebaikan. Karena insiden kopi itu, aku jadi tahu, perjalanan ini tidak akan berjalan mulus. Tapi di balik setiap kekacauan, pasti ada pelajaran yang bisa diambil," jelas Lev.
Faruq tersenyum. Ia menatap Lev, sahabatnya yang dulu sering ia marahi karena kecerobohannya. Kini, Lev sudah lebih bijaksana, meskipun tingkah lucunya masih ada.
Mereka tiba di Banjarmasin. Lev dan Faruq langsung menuju rumah. Sesampainya di rumah, Lev melihat kopernya yang kini sudah kosong. Ia merasa sedih. Perjalanan ini sudah berakhir.
"Sudah jangan sedih, Lev. Perjalanan masih panjang," kata Faruq, yang melihat Lev murung.
"Maksudmu?" tanya Lev.
"Kita masih harus keliling Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, kan?" jawab Faruq.
Mata Lev berbinar. "Wah, benarkah?"
"Tentu saja. Bukankah itu yang kamu mau?" tanya Faruq.
Lev langsung memeluk Faruq. "Terima kasih, Faruq! Kamu memang sahabat terbaikku!"
Faruq hanya tertawa. "Sudah, jangan terlalu lebay. Sekarang, kita istirahat dulu. Setelah itu, kita mulai merencanakan perjalanan selanjutnya."
Lev mengangguk. Ia merasa bahagia, ia akan melanjutkan petualangannya. Perjalanan ini mungkin akan diwarnai kekonyolan, tapi persahabatan mereka yang kuat akan membuat segalanya terasa mudah. Ia tahu, dengan Faruq di sisinya, petualangan ini pasti akan penuh warna. Dan yang terpenting, ia akan membawa niat baik dan semangat untuk mendokumentasikan keindahan Borneo, satu foto dan satu tawa pada satu waktu.
Di malam harinya, Lev dan Faruq duduk di teras rumah. Mereka minum kopi, sambil melihat ke arah sungai.
"Faruq, kamu tahu? Kopi ini rasanya berbeda," kata Lev.
"Kenapa? Rasanya lebih enak?" tanya Faruq.
"Bukan. Rasanya... lebih bermakna. Seperti setiap tegukan kopi, mengingatkan aku pada setiap momen yang aku lewati di Borneo," jawab Lev.
Faruq tersenyum. "Itu artinya, kamu sudah menjadi bagian dari Borneo, Lev."
Lev mengangguk. Ia merasa bahagia, ia merasa menjadi bagian dari Borneo. Ia merasa, ia sudah menemukan jati dirinya.
Perjalanan ini mungkin akan diwarnai kekonyolan, tapi persahabatan mereka yang kuat akan membuat segalanya terasa mudah. Ia tahu, dengan Faruq di sisinya, petualangan ini pasti akan penuh warna. Dan yang terpenting, ia akan membawa niat baik dan semangat untuk mendokumentasikan keindahan Borneo, satu foto dan satu tawa pada satu waktu.
Itu adalah awal dari petualangan panjang Lev Ryley. Petualangan yang akan membawanya ke pelosok-pelosok Borneo, bertemu dengan orang-orang baru, dan menemukan makna sejati dari persahabatan dan keimanan.
