Setelah berhasil memindahkan pohon tumbang dan membuat jalur menuju mata air kembali terbuka, Kiko, Momo, Pipi, dan Lala merasa sangat bahagia. Mereka duduk di dekat mata air, menikmati suara gemericik air yang menenangkan. Namun, mereka menyadari ada yang berbeda dengan mata air itu.
Airnya tidak lagi jernih, melainkan keruh dan kotor.
"Kenapa airnya jadi kotor?" tanya Pipi dengan cemas.
"Mungkin karena pohon tumbang itu," jawab Kiko. "Batang dan akarnya pasti mengotori mata air."
Momo, yang biasanya lincah dan bersemangat, kini merasa sedih. "Bagaimana kalau mata air ini tidak bisa bersih lagi?" tanyanya.
"Kita harus mencoba," kata Lala. "Kita harus membersihkan mata air ini. Kita tidak boleh menyerah."
Mereka mulai bekerja sama. Kiko, dengan kecerdasannya, merancang sebuah saringan dari ranting-ranting dan daun-daun lebar. Momo, dengan kelincahannya, membantu mengumpulkan ranting-ranting dan daun-daun itu. Pipi, dengan kesabarannya, membersihkan lumpur yang mengendap di dasar mata air. Dan Lala, dengan bijaksananya, membantu menyaring air dengan saringan buatan mereka.
Proses membersihkan mata air tidak mudah. Mereka harus bekerja keras selama berjam-jam, tetapi mereka tidak mengeluh. Mereka saling bekerja sama, saling menguatkan, dan saling memberikan semangat. Dengan semangat persahabatan dan gotong royong, akhirnya mereka berhasil membersihkan mata air itu.
Airnya kembali jernih dan bersih. Hewan-hewan lain yang datang untuk minum, bersorak gembira. Mereka berterima kasih kepada Kiko, Momo, Pipi, dan Lala.
"Terima kasih," kata seekor landak. "Berkat kalian, kami bisa mendapatkan air minum yang bersih lagi."
"Kalian hebat!" seru seekor tupai. "Kalian adalah pahlawan!"
Beruang Bijak muncul dari balik pohon, tersenyum. "Kalian tidak hanya berhasil membersihkan mata air," katanya. "Kalian juga telah menunjukkan bahwa kebaikan dan ketulusan hati bisa menciptakan keajaiban. Mata air ini tidak hanya bersih, tetapi juga terasa lebih segar karena kalian melakukannya dengan tulus."
Kiko, Momo, Pipi, dan Lala saling berpandangan. Mereka merasa bangga. Mereka tidak hanya menanam biji, tetapi juga menanam kebaikan. Dan kebaikan itu, kini tumbuh subur, seindah tunas-tunas pohon yang mereka tanam. Mereka menyadari, kebaikan adalah hadiah terbaik yang bisa diberikan kepada siapa pun, di mana pun.
Pada akhir cerita, Kiko, Momo, Pipi, dan Lala berkumpul bersama. Mereka melihat tunas-tunas pohon yang mereka tanam kini sudah menjadi pohon-pohon kecil yang rindang. Mereka duduk di bawah pohon-pohon itu, dan memandangi keindahan hutan yang kembali hijau. Mereka tahu, kebaikan yang mereka tanam akan terus tumbuh, dan akan membawa kebahagiaan bagi semua makhluk di Hutan Rimba.
