Emily membawa Lev ke sebuah area di pusat kota Manchester, yang dikenal dengan komunitas muslimnya yang beragam. Berbagai toko kelontong halal berjejer rapi, restoran-restoran menyajikan hidangan dari berbagai belahan dunia, dan aroma rempah-rempah yang harum memenuhi udara. Lev, yang masih memakai pakaian konyolnya, merasa sedikit canggung, tetapi Emily meyakinkannya bahwa di sini, keberagaman adalah hal yang lumrah.
"Lihat," kata Emily, menunjuk ke sebuah masjid dengan arsitektur modern. "Masjid ini adalah pusat komunitas. Banyak kegiatan yang dilakukan di sini."
Mereka masuk ke dalam masjid, dan Lev langsung mengeluarkan kameranya. Ia melihat sekelompok anak muda sedang berkumpul di halaman, seorang kakek sedang duduk di sudut sambil membaca Al-Qur'an, dan beberapa ibu-ibu sedang memasak makanan di dapur masjid. Lev merasa terkesan dengan suasana yang hidup dan ramah.
"Ayo, aku kenalkan kamu dengan beberapa temanku," ajak Emily.
Emily memperkenalkan Lev kepada teman-temannya, yang berasal dari berbagai negara, dari Pakistan, India, Somalia, hingga Inggris sendiri. Mereka menyambut Lev dengan hangat, dan Lev merasa nyaman berada di tengah-tengah mereka.
"Kamu dari mana?" tanya salah seorang teman Emily, seorang pemuda bernama Tariq.
"Aku dari Banjarmasin," jawab Lev. "Aku seorang fotografer, sedang melakukan proyek tentang komunitas Muslim di Eropa."
"Banjarmasin?" kata Tariq, dengan senyum usil. "Kenapa kamu memakai pakaian itu? Kamu habis dihajar?"
Lev menjelaskan tentang kopernya yang hilang, dan semua orang tertawa. Mereka menceritakan kisah-kisah lucu mereka sendiri tentang kehilangan barang saat bepergian. Lev merasa lega, karena ia tidak lagi merasa malu dengan pakaiannya.
"Kebetulan, nanti sore ada pertandingan sepak bola," kata Tariq. "Mau ikut?"
Lev, yang tidak terlalu jago bermain sepak bola, ragu-ragu. "Aku... tidak terlalu jago."
"Tidak masalah! Kita hanya bermain santai. Lagipula, kita kekurangan pemain," bujuk Tariq.
Emily juga ikut membujuk. "Ayo, Lev! Ini kesempatanmu untuk berbaur dengan komunitas. Lagipula, kamu butuh aktivitas fisik setelah makan kebab terus."
Akhirnya, Lev menyerah. "Baiklah, aku ikut."
Sore itu, mereka berkumpul di sebuah lapangan kecil di dekat masjid. Lev, dengan pakaian konyolnya, merasa seperti pemain sepak bola yang tersesat di tengah-tengah pertandingan. Ia melihat Tariq dan teman-temannya bermain dengan sangat serius, padahal mereka bilang hanya bermain santai.
Pertandingan dimulai. Lev mencoba menendang bola, tetapi ia malah terjatuh, membuat penonton yang terdiri dari ibu-ibu dan anak-anak tertawa. Emily, yang duduk di pinggir lapangan, juga ikut tertawa.
"Ayo, Lev!" teriak Emily, menyemangatinya.
Lev bangkit, berusaha keras untuk bermain. Ia mencoba merebut bola dari lawan, tetapi ia terlalu lambat. Ia mencoba menendang bola ke gawang, tetapi bolanya meleset jauh. Akhirnya, ia pasrah dan hanya berlari-lari di lapangan, berharap bisa membuat timnya menang.
Tiba-tiba, sebuah bola mengarah ke Lev. Ia mencoba menangkapnya, tetapi bola itu mengenai kepalanya. Lev langsung terjatuh, dan semua orang, termasuk timnya sendiri, tertawa terbahak-bahak.
Lev, yang merasa malu, bangkit dan tertawa juga. Ia menyadari bahwa ia tidak perlu jago bermain sepak bola untuk bisa bersenang-senang. Yang penting, ia bisa tertawa bersama teman-temannya, dan menjadi bagian dari komunitas yang ramah dan hangat.
Setelah pertandingan selesai, mereka berkumpul di masjid, makan makanan yang dimasak oleh ibu-ibu. Mereka saling bercerita, tertawa, dan berbagi pengalaman. Lev merasa bahwa ia telah menemukan sebuah keluarga baru di Manchester.
Malam itu, saat ia dan Emily berjalan pulang, Lev tersenyum. Ia menyadari bahwa perjalanannya di Eropa bukan hanya tentang memotret keindahan sejarah, tetapi juga tentang menemukan keindahan dalam persahabatan, kehangatan komunitas, dan tawa di tengah ketidaksempurnaan. Dan dengan Emily di sisinya, ia tahu bahwa setiap petualangan akan menjadi cerita yang tak terlupakan.
