Lantai dua Gletser Frostfire jauh berbeda dari lantai pertama. Bukan lagi labirin gua alami, melainkan struktur kuno yang terbuat dari es padat, dengan arsitektur misterius yang mengindikasikan adanya peradaban kuno di bawah sana.
“Ini bukan gua biasa,” gumam Anastasya, mengamati rune aneh yang terukir di dinding es. “Ini pasti bekas reruntuhan. Rune-rune ini adalah sihir penguat suhu dan stabilitas struktur.”
“Wah, keren! Ada peradaban kuno di bawah es!” Vania menjadi detektif petualang, menyusuri koridor es yang lebar. Lantainya lebih rata, tapi tetap sangat licin.
Mereka menemukan sebuah ruangan besar dengan panggung melingkar di tengahnya. Di atas panggung itu, sebuah artefak kristal besar bersinar, memancarkan aura dingin yang kuat.
“Pasti semacam generator sihir,” kata Lev.
Tiba-tiba, lantai panggung melingkar itu mulai bergerak naik perlahan, seperti eskalator kuno.
“Eskalator es ajaib! Keren!” Vania, yang selalu penasaran, melompat ke atas panggung yang bergerak itu tanpa berpikir dua kali. “Ayo, Lev! Anastasya!”
“Vania, jangan sembarangan!” teriak Lev.
Saat Vania menginjak panggung, gerakannya terdeteksi. Eskalator es itu tidak naik, tapi malah mulai bergerak sangat cepat ke bawah, menuju lorong yang gelap gulita di bawah panggung. Sebuah jeruji es mendadak muncul dari lantai, menghalangi Vania untuk kembali.
“Lev! Anastasya! Aku terjebak! Tolong!” Vania panik, meluncur ke bawah dengan kecepatan tinggi.
“Vania!” Lev dan Anastasya berlari ke arah panggung, tapi jeruji es sudah menutup rapat.
Anastasya segera menyentuh jeruji es itu. “Sihir kuno. Sihir apiku tidak akan mempan. Kita harus menemukan tuas atau teka-teki yang menghentikan mekanisme ini.”
“Astaga, Vania selalu impulsif!” Lev menghela napas. “Oke, Anastasya, kau tahu rune. Aku akan cari petunjuk di sekitar sini.”
Mereka terpisah. Vania meluncur ke dalam kegelapan lorong, sementara Lev dan Anastasya mencoba memecahkan teka-teki di ruangan eskalator.
Di lorong gelap, Vania akhirnya berhenti meluncur di sebuah ruangan kecil yang dinginnya luar biasa. Di tengah ruangan, sebuah monster es raksasa mirip beruang kutub, Frost Bear, sedang tidur nyenyak.
“Gawat!” Vania berbisik, mencoba bergerak perlahan tanpa membangunkan beruang itu. Tapi lantai ruangan itu juga sangat licin. Vania terpeleset, busurnya terlempar, dan dia jatuh berdebum, membangunkan beruang es itu.
Grrooooarrr! Beruang es itu meraung, matanya yang merah menyala menatap Vania yang terkapar di lantai.
Sementara itu, di ruangan atas, Anastasya fokus membaca rune. “Ada empat simbol elemen di sini. Api, Air, Tanah, dan Udara. Kita harus mengaktifkannya sesuai urutan yang benar.”
“Urutan apa? Ada petunjuk?” tanya Lev sambil mencari di tumpukan salju.
“Mungkin di buku sihirku,” kata Anastasya, membuka grimoire-nya dengan cepat. “Peradaban kuno ini punya hubungan dengan elemen alam. Urutannya biasanya: Air (cair), lalu Tanah (padat), Udara (gas), dan Api (plasma).”
Lev melihat tumpukan salju. “Aku bisa pakai Chicky untuk mengaktifkan simbol tanah? Dia kan suka mematuk tanah?”
“Ide bagus,” setuju Anastasya.
Lev mengirim Chicky ke simbol tanah. Chicky mematuk simbol itu, dan simbol tanah bersinar kuning.
“Sippy, kau bisa mengeluarkan air?” tanya Lev. Sippy mengeluarkan air bening. Lev menaruh air itu ke simbol air, yang bersinar biru.
“Sekarang udara dan api,” kata Anastasya. “Aku bisa menggunakan sihir untuk itu.”
Anastasya mengaktifkan simbol udara dan api dengan sihirnya. Keempat simbol bersinar terang. Terdengar bunyi klik keras dari lantai bawah, dan jeruji es di panggung terbuka.
Lev dan Anastasya segera melompat ke panggung, yang kini berfungsi sebagai lift naik dan turun normal. Mereka turun ke ruangan tempat Vania berada.
Mereka menemukan Vania sedang lari terbirit-birit, dikejar oleh Frost Bear yang marah. Vania meluncur di lantai es, mencoba mengambil busurnya yang terlempar.
“Tolong! Beruangnya nggak lucu!” teriak Vania.
“Anastasya, api!” teriak Lev.
“Fireball!” Anastasya meluncurkan bola api kecil tapi padat ke arah beruang es. Beruang itu, yang lemah terhadap api, langsung kesakitan dan berhenti mengejar Vania.
“Sippy, lendir licin maksimal!” perintah Lev. Sippy menyebarkan lendir di depan beruang yang kesakitan. Beruang itu tergelincir dan menabrak dinding es, membuatnya pusing.
Vania mengambil busurnya dan menembakkan panah terakhirnya, menjatuhkan beruang es itu.
You have defeated Frost Bear. Gained 100 EXP.
Vania terengah-engah, duduk di lantai. “Aku benci eskalator ajaib dan beruang kutub.”
Anastasya berjalan mendekat, ekspresinya kembali datar. “Setidaknya kita berhasil memecahkan teka-teki kuno dan menemukan jalan ke lantai tiga.”
Mereka telah melewati tantangan lantai dua Gletser Frostfire. "Tiga Sekawan" semakin kompak, meskipun sering kali dalam situasi komedi yang kacau. Petualangan RPG fantasi mereka terus berlanjut, membawa mereka semakin dalam ke misteri dungeon es ini.
