Keajaiban Doa Sebelum Berbuka: Kisah Fajar dan Fatimah Penuh Harapan di Ramadan
Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat. Warna jingga dan merah muda memenuhi langit. Di teras rumah, Fajar dan Fatimah sudah duduk manis di depan hidangan takjil. Sebuah piring berisi kurma, segelas air putih, dan semangkuk kolak pisang tersaji di hadapan mereka. Rasa lapar dan haus sudah terasa, tapi mereka menahan diri.
“Kak, sudah mau magrib,” kata Fajar, menatap jam di dinding.
“Iya, Jar. Sebentar lagi,” jawab Fatimah.
Fajar tidak tahu mengapa, tapi ia merasa ada sesuatu yang istimewa dari waktu menjelang berbuka. Udara terasa lebih tenang, dan ada perasaan damai di hatinya. Fatimah menyadari Fajar sedang melamun.
“Kenapa, Jar?” tanya Fatimah.
“Aku cuma merasa waktu menjelang berbuka ini beda, Kak. Rasanya tenang sekali,” jawab Fajar.
Fatimah tersenyum. “Kata Ibu, waktu menjelang berbuka itu salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa. Allah akan lebih mudah mengabulkan doa kita di waktu itu.”
Mata Fajar langsung berbinar. Ia teringat doa-doa yang ingin ia panjatkan. Ia menoleh ke arah Fatimah.
“Kak, ayo kita berdoa bersama,” ajak Fajar.
Fatimah mengangguk. Mereka berdua menengadahkan tangan.
Fajar memejamkan mata, hatinya dipenuhi harapan. “Ya Allah, terima kasih atas nikmat hari ini. Semoga puasa kami diterima. Semoga kami sekeluarga selalu sehat. Semoga teman-teman kami juga sehat. Dan semoga Nenek Salmah selalu bahagia.”
Fatimah juga berdoa, memohon keberkahan untuk semua orang di Kampung Amanah. Mereka berdoa dengan tulus, menyertakan harapan-harapan mereka dalam setiap kalimatnya.
Di luar, azan magrib mulai berkumandang. Fajar dan Fatimah mengakhiri doa mereka. Dengan mengucap basmalah, mereka berbuka puasa. Kurma yang manis terasa sangat lezat. Air putih yang segar terasa seperti air dari surga. Kolak pisang buatan Ibu terasa lebih nikmat dari biasanya.
Saat berbuka, Fajar merasa tidak hanya perutnya yang terisi, tapi juga hatinya. Ia merasa bahagia karena doanya telah disampaikan kepada Allah di waktu yang paling istimewa.
Malam itu, setelah salat tarawih, Fajar merasa ringan. Ia tidak lagi menganggap puasa sebagai beban, melainkan sebagai kesempatan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Ia belajar bahwa doa menjelang berbuka adalah hadiah dari Allah. Sebuah kesempatan untuk menguatkan harapan dan keyakinan.
