Musim semi tiba di Alaska, perlahan mencairkan tumpukan salju yang selama ini membekap kota. Hari-hari menjadi lebih panjang dan suhu mulai menghangat. Hati Lev, sama seperti alam di sekitarnya, ikut merasa lebih ringan. Musim panas yang dinanti-nanti akan segera tiba, dan bersama Sindy, ia bersiap untuk petualangan yang mereka rencanakan.
Namun, persiapan mereka tidak hanya tentang merencanakan rute atau mengumpulkan uang. Lebih dari itu, mereka banyak berdiskusi tentang bagaimana mereka akan menghadapi tantangan di jalan. Lev, yang terbiasa hidup dengan bekal keimanan dan tradisi yang kuat, sadar bahwa ia akan bertemu dengan banyak orang yang memiliki keyakinan berbeda. Sementara Sindy, yang cenderung cuek dan bebas, mulai memikirkan bagaimana ia bisa menghargai keyakinan Lev tanpa merasa risih.
“Jadi nanti kalau kita ketemu orang yang rasis gimana?” tanya Sindy suatu malam di kamar Lev, sambil melihat peta.
“Ya... kita doakan saja semoga dia dapat hidayah,” jawab Lev, sambil menyisir rambutnya yang panjang.
Sindy tertawa. “Hahaha, gampang banget ya jawabanmu. Terus kalau kita ketemu orang yang terlalu baik, sampai kita curiga, gimana?”
“Kita tetap berprasangka baik. Tapi tetap waspada,” kata Lev.
“Sama aja bohong,” Sindy mencibir.
“Prasangka baik itu bukan berarti kita jadi bodoh, Sindy. Tapi kita tetap waspada dengan cara yang baik,” jelas Lev.
Perbincangan mereka diselingi tawa dan ledekan, tetapi juga penuh dengan makna. Mereka saling melengkapi, saling mengingatkan. Sindy yang ceria mengingatkan Lev untuk tidak terlalu serius, dan Lev yang tenang mengingatkan Sindy untuk tidak terlalu terburu-buru.
Pekerjaan paruh waktu mereka sebagai penjaga kafe di pinggir kampus membantu mereka mengumpulkan uang untuk perjalanan. Sindy, yang jago membuat kopi dengan latte art yang lucu, sering menjadi pusat perhatian para pelanggan. Sementara Lev, yang ahli membuat teh khas Banjarmasin, membuat banyak pelanggan penasaran.
Suatu hari, seorang pelanggan bertanya, “Teh apa ini? Kok rasanya enak?”
“Ini teh khas dari Banjarmasin, Pak,” jawab Lev, dengan senyum ramah.
Pelanggan itu penasaran. “Banjarmasin itu di mana?”
Lev menjelaskan dengan sabar, dan pelanggan itu tertarik dengan ceritanya. Ini adalah salah satu cara Lev menebar rahmat, dengan cara yang sederhana, tanpa harus menggurui.
Sindy, yang melihat Lev berinteraksi dengan pelanggan, merasa bangga. Ia tahu, Lev adalah orang yang istimewa. Tidak semua orang bisa mempertahankan identitasnya di tempat yang baru, apalagi dengan cara yang begitu tenang dan santai.
Di malam terakhir sebelum liburan musim panas, mereka kembali ke bukit tempat mereka melihat aurora. Namun kali ini, tidak ada aurora. Hanya ada langit yang cerah, dengan bulan yang bersinar terang.
“Lev… kamu senang kan, akhirnya bisa pergi dari sini?” tanya Sindy, memecah keheningan.
“Tentu. Tapi aku juga akan rindu. Rindu Alaska, rindu teman-teman di sini. Terutama kamu,” jawab Lev, dengan tulus.
“Cih… gombal,” Sindy mencibir, tetapi pipinya sedikit merona.
Lev hanya tersenyum. “Aku serius, Sindy. Kamu adalah teman terbaik yang pernah aku punya.”
Sindy menatap Lev. Ada keheningan di antara mereka, keheningan yang nyaman. “Kamu juga, Lev. Kamu teman terbaik yang pernah aku punya. Kamu yang bikin aku sadar, dunia itu luas, dan banyak hal baik di dalamnya.”
Mereka berdua lalu menatap langit. Mereka tahu, perjalanan mereka akan membawa mereka ke tempat-tempat yang tak terduga, dan mempertemukan mereka dengan orang-orang yang berbeda. Tetapi mereka tidak takut. Karena mereka tahu, mereka punya satu sama lain.
Dengan janji yang sudah terukir, mereka pulang ke asrama. Lev kembali ke kamarnya, melihat koper biru peninggalan ayahnya yang sudah terisi penuh. Koper itu, yang dulu membuatnya panik, kini menjadi simbol petualangan. Ia tahu, ia akan kembali ke Banjarmasin, tetapi dengan cerita yang lebih kaya, dan hati yang lebih luas. Perjalanan mereka akan dimulai besok, dan mereka siap untuk itu.
