Perjalanan darat dari Perth ke Adelaide adalah pengalaman yang mengubah perspektif Lev. Hamparan Nullarbor Plain yang luas, dengan langit biru tanpa batas di atasnya, membuatnya merasa sangat kecil di hadapan kebesaran Tuhan. Jessica mengemudi dengan santai, sementara Lev sibuk mengamati pemandangan yang tak biasa baginya. Sesekali, mereka berpapasan dengan Road Train, truk besar dengan gandengan yang panjangnya bisa mencapai beberapa puluh meter.
"Lihat, Lev! Ada kanguru!" seru Jessica bersemangat, menunjuk ke arah pinggir jalan.
Lev menatap ke luar jendela, melihat seekor kanguru berdiri dengan santai, mengunyah rerumputan. Jantungnya berdegup kencang, penuh kekaguman. "Baru pertama kali aku lihat kanguru di alam liar," katanya, matanya berbinar.
Setelah beberapa hari menempuh perjalanan, mereka akhirnya tiba di Adelaide. Kota ini terasa lebih tenang dibandingkan Perth, dengan arsitektur yang klasik dan taman-taman yang tertata rapi. Perasaan lega dan gembira menyelimuti mereka berdua.
"Akhirnya sampai juga!" seru Jessica sambil meregangkan badannya. "Sekarang, kita cari penginapan dan makan!"
Setelah beristirahat sejenak, mereka memulai eksplorasi Adelaide. Lev merasa seperti berada di kota yang penuh sejarah, berbeda dengan nuansa modern di Perth. Mereka mengunjungi Central Market, pasar tradisional yang menjual berbagai macam bahan makanan, termasuk bahan-bahan masakan khas Indonesia yang membuat Lev tersenyum rindu.
"Ada banyak bahan halal di sini," kata Lev. "Mungkin aku bisa masak masakan Banjar lagi nanti."
Saat menjelajahi pasar, Lev mendengar suara azan dari kejauhan. Ia menoleh, mencari sumber suara. Jessica yang melihatnya, tersenyum. "Di Adelaide banyak komunitas Muslim, Lev. Ada masjid di dekat sini," katanya.
Mereka berdua berjalan menuju masjid yang tidak terlalu jauh dari pasar. Masjid itu tidak sebesar di Perth, tapi terlihat sangat damai. Arsiteturnya sederhana namun indah, dengan kubah berwarna biru langit. Di dalamnya, Lev disambut hangat oleh komunitas Muslim yang berasal dari berbagai negara, seperti Pakistan, Malaysia, dan Mesir.
Jessica, seperti biasa, menunggu di luar, mengamati dari jauh. Setelah Lev selesai shalat, seorang ibu paruh baya dari komunitas Mesir menghampiri Jessica dan memberinya segelas teh mint hangat.
"Kamu teman anak muda dari Indonesia itu?" tanyanya dengan ramah. "Aku lihat kamu selalu menunggunya. Kamu orang yang baik."
Jessica terharu. Ia tidak menyangka akan mendapat sambutan seperti itu. "Terima kasih banyak, Bu," jawabnya.
Lev keluar dari masjid dan tersenyum melihat pemandangan itu. Ia menghampiri Jessica dan ibu Mesir itu.
"Ibu ini sangat baik, Lev," kata Jessica. "Dia memberiku teh mint hangat."
"Ini teh mint terbaik di Adelaide," kata sang ibu sambil tertawa. "Jangan sungkan mampir lagi. Kamu juga, Nak. Kamu adalah teman yang baik untuk anak muda ini."
Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan. Lev merasa ada yang berbeda di Adelaide. Komunitas Muslim di sini terasa lebih terhubung satu sama lain, seperti keluarga besar. Mereka tidak hanya berbagi makanan, tetapi juga cerita dan pengalaman. Hal ini membuat Jessica semakin menghargai toleransi dalam beragama.
"Lev, apa yang membuat komunitas Muslim begitu hangat satu sama lain?" tanya Jessica.
"Karena kami adalah satu keluarga besar, Jess," jawab Lev. "Kami diajarkan untuk saling menyayangi, menghormati, dan membantu satu sama lain, tanpa memandang ras atau latar belakang."
Jessica mengangguk, mencerna penjelasan Lev. Ia merasa pandangannya tentang Islam semakin luas. Ia melihat Islam bukan hanya dari satu sudut pandang, tapi dari berbagai sisi yang berbeda, dari komunitas yang berbeda, dari orang-orang yang berbeda.
Lev juga merasa ada yang berbeda dari Jessica. Ada ketenangan yang terpancar dari wajahnya. Perjalanan ini, meskipun baru sampai di kota kedua, telah mengubah mereka berdua menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bijaksana. Adelaide menjadi saksi bisu dari persahabatan yang semakin kuat, dan Lev semakin bersemangat untuk melanjutkan perjalanan mereka ke kota-kota Australia berikutnya.
