Suasana di kafe Ksenia terasa aneh pagi itu. Meja tempat Andriy dan Kolya biasa duduk terasa kosong, dan bukan hanya karena Kolya masih sakit. Kekosongan itu terasa lebih nyata, lebih… hampa. Ksenia dan Vera terlihat gelisah, sesekali mata mereka melirik ke arah pintu dan jendela, seolah menunggu kedatangan seseorang atau sesuatu.
"Ogon tidak pulang semalaman," Ksenia memecah keheningan, suaranya dipenuhi kekhawatiran. "Aku sudah mencari ke seluruh kafe, bahkan ke gudang. Aku sudah menelepon Kakek dan dia bilang dia tidak melihat Ogon."
Andriy, yang sedang menyesap tehnya, merasakan firasat buruk. Ogon, meskipun nakal dan suka mencuri ikan sarden, tidak pernah menghilang begitu lama. Kucing itu selalu kembali, entah membawa kaleng kosong atau hanya untuk tidur di pangkuan Ksenia.
"Mungkin dia sedang mencari ikan sarden di tempat lain," Andriy mencoba menenangkan.
"Tidak, Andriy," kata Vera, dengan nada serius. "Ogon itu berbeda. Dia tidak akan menghilang tanpa alasan. Aku punya firasat buruk tentang ini."
"Firasat?" tanya Andriy, mengangkat alis.
"Ya, firasat," Vera mengulangi. "Keluarga Kozlov selalu punya firasat yang kuat. Ayahku bilang, itu karena nenek moyang kami berteman dengan elf. Kami... bisa merasakan hal-hal yang tidak bisa dirasakan orang lain."
Andriy terdiam. Ia tidak tahu harus bereaksi apa. Ia tahu Vera tidak berbohong. Aleksei, nenek moyangnya, juga memiliki intuisi yang kuat.
"Baiklah," kata Andriy, menaruh cangkirnya. "Kita cari dia. Dimana dia terakhir terlihat?"
"Di dekat pohon rindang di halaman Kakek," jawab Ksenia, matanya berbinar. "Dia duduk di sana semalam, setelah kita pulang. Aku sempat melihatnya dari jendela, tapi lalu aku tertidur."
Andriy mengangguk. Ia tahu ada sesuatu yang istimewa tentang pohon itu, dan kini Ogon menghilang di dekatnya. Ia merasa, hilangnya Ogon ada kaitannya dengan pohon itu.
Mereka bertiga pergi ke rumah Kolya. Pohon rindang itu terlihat megah, dengan dahan-dahan yang ditutupi salju. Di bawah pohon, ada jejak kaki Ogon yang berhenti mendadak. Seperti menghilang ditelan bumi.
"Lihat," Ksenia menunjuk. "Jejak kakinya berhenti di sini. Dia seperti... menghilang."
Andriy menyentuh jejak kaki itu. Ia merasakan sisa-sisa sihir yang aneh. Bukan sihir Ogon, tapi sihir lain, yang terasa lebih tua, lebih gelap.
"Ini bukan sihir Ogon," Andriy berbisik, dengan nada serius. "Ini sihir lain. Sihir yang sudah sangat lama tidak kurasakan."
"Sihir apa?" tanya Vera, suaranya sedikit gemetar.
"Sihir kuno," jawab Andriy. "Sihir yang dulu digunakan untuk... menangkap ras kami."
Ksenia dan Vera saling menatap. Wajah mereka pucat. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa petualangan mereka akan melibatkan hal-hal seperti ini.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Ksenia.
"Kita harus masuk ke dalam," kata Andriy, menatap pohon itu. "Ogon pasti ada di dalam pohon itu. Di dimensi lain."
"Dimensi lain?" Ksenia bertanya, matanya membesar karena takjub.
"Ya," Andriy mengangguk. "Aku butuh bantuan kalian. Aku butuh kalian untuk memegang tanganku. Aku akan membuka portal, tapi aku tidak bisa melakukannya sendiri. Aku butuh energi kalian."
Ksenia dan Vera saling menatap, ragu. Namun, mereka melihat keyakinan di mata Andriy. Mereka percaya pada Andriy.
"Baiklah," kata Vera, mengambil tangan Andriy. "Kita lakukan ini."
Ksenia juga mengambil tangan Andriy. Andriy mulai mengucapkan mantra kuno dalam bahasa elf. Tangan mereka terasa dingin, namun hatinya terasa hangat. Mereka merasa seperti ada energi yang mengalir dari tangan mereka ke tangan Andriy.
Tiba-tiba, pohon rindang itu mulai bersinar. Sinar itu semakin kuat, hingga akhirnya, sebuah portal muncul di batang pohon. Portal itu berwarna kebiruan, dengan asap yang mengepul.
"Ayo," kata Andriy, "kita masuk."
Mereka bertiga masuk ke dalam portal, dan tiba-tiba, mereka berada di tempat lain. Tempat itu mirip dengan hutan, tetapi pepohonannya terlihat aneh, dengan daun-daun yang berwarna ungu dan langit yang berwarna hijau.
"Wow," Ksenia bergumam. "Ini... ini seperti di film-film fantasi!"
"Ini bukan film," kata Vera, "ini kenyataan."
Andriy berjalan di depan mereka, mencari jejak Ogon. Ksenia dan Vera mengikuti, melihat-lihat sekeliling dengan penuh takjub.
"Andriy," Vera memanggil, "bagaimana kita bisa keluar dari sini?"
"Aku tidak tahu," jawab Andriy. "Aku harus menemukan Ogon dulu."
Mereka terus berjalan, hingga akhirnya, mereka menemukan Ogon. Kucing itu terperangkap di dalam sebuah sangkar, yang terbuat dari ranting pohon. Di sekeliling sangkar, ada beberapa makhluk aneh, yang terlihat seperti goblin, sedang menari-nari dan tertawa.
"Dasar makhluk jahat!" Vera menggerutu. "Mereka menangkap Ogon!"
Andriy menatap para goblin itu, dan ia merasa marah. Ia telah melihat hal-hal seperti ini di masa lalu, dan ia tidak ingin melihatnya lagi.
"Kalian kembali," kata Andriy pada Vera dan Ksenia. "Aku akan menyelamatkan Ogon."
"Tidak," kata Vera. "Kami akan ikut."
"Aku tidak akan membiarkan kalian sendirian," Ksenia menyahut. "Kami sudah ada di sini, dan kami akan membantumu."
Andriy menatap mereka, dan ia merasa bahwa ia tidak sendirian. Ia punya Ksenia dan Vera, dua wanita muda yang berani dan setia.
Andriy tersenyum. "Baiklah. Mari kita ajari para goblin ini sedikit pelajaran."
Andriy, Vera, dan Ksenia, bersama-sama, menyerbu ke arah para goblin. Petualangan baru mereka, di dimensi lain, telah dimulai. Babak baru dalam hidup Andriy, yang penuh dengan keberanian dan persahabatan, telah dimulai. Ia tidak lagi takut pada perpisahan, karena ia tahu, persahabatan yang ia jalin akan selalu hidup, di dalam hatinya, dan di dalam kenangan.
