Matahari baru saja mengintip malu-malu di balik cakrawala Sungai Mahakam, memantulkan cahaya keemasan pada kubah megah Masjid Islamic Center Samarinda yang menjulang tinggi. Di Cluster Ar-Raudhah, sebuah kawasan hunian yang dikenal tenang dan asri di jantung Kota Samarinda, rutinitas pagi dimulai dengan harmoni yang khas. Aroma nasi kuning lengkap dengan haruan masak habang mulai tercium dari dapur-dapur rumah, beradu dengan aroma embun yang masih menempel di pucuk daun pucuk merah yang berjejer rapi di sepanjang jalan kompleks.
Namun, ketenangan di rumah nomor 3A milik Ibu Dokter Raisa terusik bukan oleh alarm gawat darurat medis, melainkan oleh suara bel pagar yang ditekan berkali-kali dengan irama yang tidak sabaran. Ting-tong! Ting-tong! Paket!
Raisa, yang baru saja meletakkan mukenanya setelah zikir pagi dan masih mengenakan piyama satin ditutup jas putih tipis—karena ia baru saja pulang dari shift malam di RSUD Abdul Wahab Sjahranie—terlonjak kaget. Ia melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 07.15 WITA. Dalam hati ia membatin, “Ya Allah, kurir ekspedisi sekarang sudah se-istiqomah ini mengantar paket sepagi ini?”
Dengan langkah tergesa namun tetap berusaha anggun, Raisa mengintip dari balik gorden jendela ruang tamunya. Di luar pagar, seorang pria muda berjaket oranye tampak kewalahan menyeimbangkan motornya yang penuh dengan karung-karung besar berisi bungkusan plastik.
"Permisi! Paket Ibu Rossa! COD dua juta rupiah!" teriak si kurir dengan suara lantang yang sanggup membangunkan seluruh penghuni blok.
Raisa membuka pintu depan dengan tawa kecil yang tertahan. "Astagfirullah, Mas Kurir... ini rumah nomor 3A, Dokter Raisa. Ibu Rossa itu di sebelah, nomor 3B yang pagarnya ada pot bunga krisan banyak itu," jelasnya lembut sambil menunjuk ke rumah sebelah.
Belum sempat si kurir berbalik, pintu rumah 3B terbuka lebar. Munculah Ibu Rossa, seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kantor Gubernur Kaltim yang sudah tampil paripurna dengan seragam cokelat khakinya yang licin disetrika. Hijabnya tegak paripurna, tanpa ada satu pun serat kain yang berani keluar dari jalurnya.
"Aduh, Mas! Jangan keras-keras suaranya! Nanti suami saya bangun, bisa panjang urusannya kalau dia tahu saya pesan sepatu dari jastip Mall Jakarta lagi!" Rossa bergegas menghampiri pagar dengan langkah cepat, tangannya sibuk merogoh dompet untuk membayar tagihan Cash on Delivery tersebut.
Rossa menoleh ke arah Raisa dan menyapa dengan gaya khasnya yang ceria namun selalu sedikit dramatis. "Eh, Bu Dokter sayang... Maaf ya, pagi-pagi sudah keganggu suara paket saya. Ini lho, kemarin di Grand Indonesia ada diskon jastip, saya khilaf lihat sepatu hak tahu yang warnanya senada dengan seragam baru kita. Daripada kepikiran pas rapat, mending saya eksekusi, kan?"
Raisa tertawa renyah, "Enggak apa-apa, Bu Rossa. Saya juga lagi nunggu paket sebenarnya, tapi mungkin masih di perjalanan dari Jakarta. Ada flash sale skincare semalam, lumayan hemat lima puluh ribu dibanding beli di apotek."
Di saat kedua wanita itu asyik berdiskusi tentang manfaat belanja efisien, terdengar suara gesekan pagar besi dari rumah nomor 3C. Ibu Mahalini, seorang pekerja kantoran di perusahaan tambang yang dikenal paling disiplin soal waktu, muncul dengan menjinjing dua tas belanjaan besar berbahan kain yang tampak sangat berat. Wajahnya segar, sisa-sisa air wudhu masih tampak di garis rambutnya, namun ia sudah rapi dengan kemeja batik kantornya.
"Ya Allah, Ibu-ibu ini... Pagi-pagi bukannya bahas menu sarapan, malah bahas paket dan diskon mall," celetuk Mahalini sambil menghampiri mereka. Ia baru saja pulang dari Pasar Segiri, pasar tradisional terbesar di Samarinda.
Mahalini mengangkat tas belanjaannya dengan bangga. "Lihat ini, Bu Dokter, Bu Rossa. Saya tadi subuh-subuh ke Pasar Segiri. Ikan gabusnya masih loncat-loncat, sayur kangkungnya baru dipetik dari kebun di Lempake. Harganya? Cuma sepertiga dari harga supermarket di mall! Tadi saya tawar-menawar sampai pedagangnya menyerah, kasih bonus cabai rawit satu genggam," ceritanya dengan mata berbinar-binar.
Ketiganya kini berdiri di jalur pedestrian cluster tersebut, membentuk segitiga emas gaya hidup: Raisa si penganut kepraktisan belanja online, Rossa si pemuja estetika barang bermerek dari mall, dan Mahalini si pejuang ekonomi kerakyatan dari pasar tradisional.
"Tapi Bu Lini," Rossa menyela sambil mengelus kardus sepatunya, "Di mall itu kita dapat suasananya. Dingin AC-nya, lampunya terang, dan kalau barangnya rusak kita tinggal komplain ke counter. Kalau di pasar kan becek, mana panas lagi."
Mahalini menggelengkan kepala sambil tersenyum bijak. "Becek itu seni, Bu Rossa! Di situlah iman kita diuji, apakah kita sabar atau tidak. Lagipula, di pasar kita langsung membantu ekonomi rakyat kecil, pedagang-pedagang yang menyekolahkan anaknya dari jualan bayam. Itu ada nilai sedekahnya juga, insya Allah."
Raisa menengahi dengan bijak, "Sudah-sudah, semuanya benar. Bu Rossa benar soal kenyamanan, Bu Lini benar soal keberkahan membantu pedagang kecil, dan saya... saya benar soal penghematan waktu karena saya jarang punya waktu luang untuk keluar rumah."
Tiba-tiba, suara adzan Dhuha mulai lamat-lamat terdengar. Hal itu menjadi pengingat bagi mereka bahwa waktu kerja sudah hampir tiba.
"Eh, sudah jam segini! Saya harus segera ke kantor gubernur, ada apel pagi," seru Rossa panik sambil berusaha menyembunyikan kotak sepatunya di balik pintu.
"Saya juga harus ke rumah sakit, ada jadwal operasi kecil jam sembilan," tambah Raisa.
Mahalini pun berpamitan, "Saya mau masak sebentar buat bekal suami, baru berangkat ke kantor. Oh iya, nanti sore jangan lupa ya, jadwal kita pengajian rutin di rumah Bu RT. Jangan sampai absen hanya karena nunggu kurir atau sibuk ke mall!"
Ketiganya tertawa bersama, sebuah tawa tulus yang menandakan bahwa seberbeda apa pun gaya hidup mereka, ikatan bertetangga di Cluster Ar-Raudhah adalah prioritas utama. Di bawah langit Samarinda yang mulai membiru, mereka pun bubar menuju rumah masing-masing, membawa cerita dan isi tas belanjaan yang berbeda, namun dengan doa yang sama: agar hari ini penuh dengan keberkahan dan dijauhkan dari sifat israf (berlebih-lebihan).
Analisis dan Insight untuk Pembaca:
Bab ini memperkenalkan dinamika "Tiga Serangkai" dengan gaya komedi situasi yang ringan. Menggunakan latar Samarinda yang autentik membuat cerita terasa dekat. Bagi Anda yang ingin mendalami adab bertetangga dalam Islam, silakan merujuk pada artikel di Muslim.or.id yang menjelaskan betapa pentingnya menjaga hubungan baik dengan tetangga, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Jika Anda ingin mengetahui lokasi-lokasi belanja yang disebutkan, seperti Pasar Segiri atau pusat perbelanjaan di Samarinda, Anda dapat melihat panduan wisata di Portal Resmi Pemerintah Kota Samarinda.
Bersambung ke Bab 2: Stetoskop dan Notifikasi Shopee... Apakah Dokter Raisa akan ketahuan suaminya karena memesan barang yang sama dua kali? Simak kelanjutannya!
