Di Chelyabinsk, kota industri di Pegunungan Ural, Andriy juga merasakan kesendirian yang sama. Udara dingin yang menusuk tulang, kepulan asap dari cerobong-cerobong pabrik yang membingkai langit kelabu, semua terasa akrab namun jauh. Seperti Eva, ia menjalani hidup dengan rutinitas yang monoton, mencoba membaur dalam keramaian yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Andriy hidup di sebuah apartemen kecil yang dipenuhi dengan ukiran kayu. Di sana, ia menemukan pelipur lara dari keabadiannya. Sejak ia meninggalkan kehidupan nomaden berabad-abad yang lalu, ia menemukan bahwa mengukir kayu adalah cara terbaik untuk tetap waras. Ia mengukir apa pun, mulai dari figur-figur kecil hewan hutan yang ia ingat dari masa lalu, hingga patung-patung rumit yang menggambarkan wajah-wajah manusia yang pernah ia cintai. Wajah-wajah yang kini hanya hidup dalam memorinya.
Keahliannya sebagai pengukir kayu diakui di komunitasnya. Banyak orang datang kepadanya untuk membuat pesanan, tetapi Andriy selalu menjaga jarak. Ia akan mengamati pelanggan-pelanggannya, melihat garis-garis kerutan yang semakin dalam di wajah mereka, melihat rambut mereka memutih, dan ia tahu, suatu saat nanti, mereka akan pergi. Siksaan itulah yang membuatnya tidak pernah bisa menjalin hubungan yang dalam.
Sore itu, di bengkelnya yang dipenuhi serbuk kayu, Andriy memahat sepotong kayu ek. Bentuknya mulai menyerupai seekor serigala, hewan yang mengingatkannya pada masa lalu yang jauh, saat elf masih mendiami hutan-hutan di Eropa. Tangannya bergerak dengan lincah dan terampil, tetapi matanya memancarkan kesedihan. Ia telah menyaksikan begitu banyak hal, melihat begitu banyak peradaban runtuh dan bangkit, namun ia tidak pernah bisa menjadi bagian darinya. Ia selalu menjadi pengamat, bayangan yang melintas tanpa meninggalkan jejak.
Ponselnya berdering. Nama "Sasha" muncul di layar. Sasha adalah seorang wanita tua, tetangganya, yang terkadang membawakannya sup. Andriy tahu bahwa Sasha adalah salah satu dari sedikit manusia yang benar-benar peduli padanya, dan itulah yang membuatnya takut. Ia takut jika ia terlalu dekat, ia harus menyaksikan kepergiannya.
"Halo, Sasha," jawab Andriy dengan suara lembut, suaranya sedikit serak.
"Andriy, nak, apakah kamu makan dengan benar?" tanya Sasha dengan suara parau. "Ibu membuatkan borsch. Ibu akan mengantarnya sebentar lagi."
Andriy tersenyum kecil. "Tidak perlu repot-repot, Sasha."
"Oh, diam saja," jawab Sasha dengan tegas. "Kamu terlalu kurus. Jangan terlalu banyak bekerja."
Andriy menghela napas. Ia tahu menolak hanya akan membuatnya bersikeras. Setelah percakapan singkat itu, ia kembali mengukir. Kilas balik kembali menghantuinya. Ia mengingat seorang gadis kecil yang mengajarinya bahasa Rusia modern. Ia ingat bagaimana ia mengukir patung beruang untuk ulang tahunnya yang ketujuh, dan bagaimana ia menyaksikan gadis itu tumbuh, menikah, memiliki anak, dan akhirnya terbaring di peti mati. Andriy tidak pernah kembali ke pemakaman mana pun. Perpisahan pertama adalah yang terberat. Setelah itu, ia hanya mengubur kesedihan itu jauh di dalam.
Saat senja mulai menyelimuti Chelyabinsk, Sasha datang dengan semangkuk borsch yang masih hangat. Andriy membukakan pintu, dan ia melihat garis-garis kerutan baru di wajah Sasha. "Ibu tidak bisa tinggal lama," kata Sasha, menyodorkan mangkuk. "Anakku menelepon, katanya cucuku sakit."
"Terima kasih, Sasha," ucap Andriy. Ia melihat punggung Sasha yang membungkuk saat ia berjalan pergi. Di belakangnya, langit Chelyabinsk berwarna oranye pekat, kontras dengan cerobong asap yang terus mengeluarkan asap. Pemandangan itu, baginya, terasa seperti simbol kehidupannya: keindahan yang terkontaminasi oleh modernitas yang tak terhindarkan.
Setelah makan borsch, Andriy membuka laptopnya. Ia membuka sebuah forum online tentang perjalanan petualangan. Seseorang merekomendasikan ekspedisi ke Greenland. Andriy tidak tahu kenapa, tetapi sesuatu mendorongnya untuk melihat lebih jauh. Ia membaca tentang ekspedisi yang sama yang dilihat Eva, dan nama yang ia lihat di berita tadi muncul lagi. "Ekspedisi untuk melacak sejarah kuno, dipimpin oleh seorang ahli mitologi yang tertarik pada legenda elf."
Kata "elf" membuatnya bergidik. Tiba-tiba, rasa penasaran yang sudah lama ia kubur kembali muncul. Selama ini, ia yakin ia adalah satu-satunya yang tersisa. Ia mengklik profil anggota ekspedisi. Ia melihat foto-foto peserta yang bersemangat, yang tidak tahu apa-apa tentang beban yang mereka bawa. Ia melihat nama "Eva, ahli botani" di antara daftar peserta, dan jantungnya berdegup kencang. Nama itu, entah bagaimana, terasa familiar.
Pada saat itu, ia membuat keputusan yang tidak masuk akal. Ia akan bergabung dengan ekspedisi itu. Ia akan pergi ke Greenland, tidak untuk menemukan elf lain, karena ia yakin tidak ada, tetapi untuk melacak jejak terakhir dari dunia yang telah hilang. Ia ingin tahu, apakah ada bagian dari sejarahnya yang masih hidup di sana. Tanpa sadar, keputusan itu akan membawanya pada pertemuan yang akan mengubah hidupnya yang abadi, membawanya dari kesendiriannya yang panjang ke sebuah persahabatan yang ia pikir tidak akan pernah ia temukan lagi. Senja di Chelyabinsk menjadi saksi bisu dari sebuah awal yang tak terduga.
