Musim panas menyambut Lev dan Sindy di Seattle, sebuah kota yang mereka sebut “kota pelangi” karena langitnya yang sering mendung, tetapi dipenuhi dengan orang-orang yang beragam. Setelah perjalanan panjang dengan bus dari Alaska, mereka tiba di Seattle dengan perasaan lelah, tetapi juga bersemangat. Udara di sini terasa lebih hangat dibandingkan Alaska, membuat Lev merasa seperti berada di dekat Banjarmasin, meskipun pemandangannya sangat berbeda.
Mereka menyewa sebuah kamar di rumah sewaan milik seorang nenek bernama Martha, yang ramah dan penuh perhatian. Martha adalah seorang pensiunan guru yang tinggal sendirian setelah suaminya meninggal. Ia memiliki taman bunga yang indah di belakang rumahnya, dan selalu tersenyum saat menyambut mereka.
“Kalian dari mana?” tanya Martha, dengan logat khas Amerika.
“Dari Alaska, Nek,” jawab Sindy.
“Oh, itu jauh sekali! Kalian pasti capek,” kata Martha. “Masuk, masuk. Aku sudah siapkan teh hangat untuk kalian.”
Lev dan Sindy merasa nyaman di rumah Martha. Martha tidak banyak bertanya tentang agama atau latar belakang mereka, tetapi ia selalu memastikan mereka merasa seperti di rumah. Ia bahkan memberikan Lev sebuah jaket musim panas yang tipis, karena ia merasa kasihan melihat Lev terus-terusan memakai jaket tebal yang ia pinjam dari Sindy.
“Kamu harus pakai ini, Nak. Ini lebih ringan dan cocok untuk musim panas di sini,” kata Martha, dengan senyum ramah.
Lev menerima jaket itu dengan senang hati. Ia tahu, kebaikan Martha tulus.
Keesokan harinya, mereka mulai menjelajahi Seattle. Sindy mengajak Lev ke Pike Place Market, sebuah pasar tradisional yang ramai dan penuh dengan berbagai macam produk lokal. Di sana, mereka melihat penjual ikan yang melempar ikan satu sama lain, membuat para pengunjung tertawa.
“Seru banget, ya?” kata Sindy.
“Iya. Tapi aku khawatir ikannya jatuh ke lantai,” kata Lev, khawatir.
Sindy tertawa terbahak-bahak. “Jangan khawatir, Lev. Mereka sudah ahli.”
Di pasar itu, mereka mencoba berbagai macam makanan. Lev harus ekstra hati-hati memilih makanan yang halal. Sindy, yang tahu betul tentang kehalalan, membantu Lev memilih makanan. Ia bahkan bertanya kepada penjual apakah ada makanan yang mengandung babi.
“Oh… no pork. Only fish,” kata penjual itu, dengan ramah.
Sindy tersenyum. “Tuh, kan? Gampang.”
Mereka juga mengunjungi Space Needle, sebuah menara ikonik di Seattle. Dari atas, mereka bisa melihat pemandangan kota yang indah, dengan gunung-gunung yang menjulang di kejauhan.
“Indah banget, ya?” kata Lev, takjub.
“Iya. Tapi masih lebih indah aurora di Alaska,” kata Sindy, dengan nada bercanda.
Lev tertawa. “Ada-ada saja.”
Di Seattle, mereka melihat banyak hal baru. Mereka melihat orang-orang dari berbagai macam etnis dan budaya, berjalan beriringan di jalanan. Mereka melihat seniman jalanan yang melukis dengan indah, dan musisi jalanan yang memainkan musik yang menenangkan. Mereka juga melihat tunawisma yang tidur di bawah jembatan, membuat mereka merasa iba.
Suatu hari, saat mereka berjalan di jalanan, mereka melihat seorang tunawisma yang sedang kelaparan. Lev mengeluarkan selembar uang dan memberikannya kepada tunawisma itu. Tunawisma itu menatap Lev dengan mata berkaca-kaca.
“Terima kasih, Nak,” katanya, dengan suara serak.
Lev hanya tersenyum. Ia teringat pesan ayahnya tentang menebar rahmat. Ia tahu, kebaikan itu universal.
Malam itu, di rumah Martha, mereka bercerita tentang pengalaman mereka di Seattle. Martha mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Kalian ini, meskipun masih muda, tapi punya hati yang besar,” kata Martha, dengan senyum tulus.
Sindy tersenyum, “Itu karena aku punya teman yang baik, Nek. Dia yang mengajari aku.”
Lev merasa malu. Ia tahu, Sindy juga banyak mengajarinya. Sindy mengajarinya untuk lebih santai, untuk lebih berani, dan untuk lebih terbuka. Mereka berdua adalah guru bagi satu sama lain.
Di Seattle, Lev dan Sindy merasa bahwa persahabatan mereka semakin matang. Mereka tidak lagi terkejut dengan perbedaan mereka. Mereka justru merayakan perbedaan itu. Mereka tahu, perjalanan mereka masih panjang. Dan mereka siap untuk menghadapi petualangan selanjutnya.
