Cindy melangkah masuk ke dalam rumah. Ruangan tamu terasa begitu hening, berbeda dengan keceriaan yang selalu ia rasakan saat berada di rumah keluarganya di Jerman. Di sana, selalu ada tawa, musik, dan obrolan yang ramai. Di sini, yang ada hanya kesunyian yang mencekam.
Ia disambut oleh aroma masakan rumahan yang harum, seolah ingin melawan aura sedih yang melingkupi rumah itu. Tante Rosa membawakan segelas es teh dan beberapa potong kue, "Makan dulu, Cindy. Kamu pasti lelah."
"Terima kasih, Tante," kata Cindy, mengambil satu potong kue. "Kapan aku bisa menemui Lev?"
Tante Rosa menghela napas panjang. "Nanti saja, Nak. Dia biasanya keluar kalau sudah sore. Kamu istirahat saja dulu."
Namun, Cindy sudah bertekad. Ia tidak datang jauh-jauh hanya untuk menunggu. Ia harus segera memulai misinya.
"Tidak apa-apa, Tante. Justru aku ingin langsung menemuinya."
Dengan langkah mantap, Cindy menaiki tangga menuju lantai dua. Sepanjang tangga, ia bisa melihat foto-foto keluarga yang terpajang. Banyak di antaranya adalah foto Lev dan Vania, yang selalu tampak bahagia dan penuh cinta. Hati Cindy terasa teriris melihat senyum tulus Vania yang kini hanya tinggal kenangan.
Ia berhenti di depan pintu kamar Lev. Pintu itu tertutup rapat, seolah membentengi pemiliknya dari dunia luar. Cindy mengetuk pelan. "Lev? Ini aku, Cindy. Aku sudah sampai."
Tidak ada jawaban. Hanya kesunyian.
Cindy mengetuk lagi, sedikit lebih keras. "Lev, aku tahu kamu di dalam. Aku bawa oleh-oleh dari Jerman. Ada cokelat dan... eh... alat sulap gagal."
Tetap tidak ada respons.
Cindy menghela napas, lalu memutuskan untuk menggunakan taktik yang lebih berani. Ia mengeluarkan boneka bebek tangan dari tasnya dan memasangnya di tangannya. Dengan suara yang dibuat-buat, ia berbicara, "Lev, ini Bobo Bebek. Bobo mau lihat kamu. Bobo janji tidak akan cerewet."
Terdengar suara bergemuruh di dalam, seperti ada sesuatu yang jatuh. Pintu terbuka sedikit, dan terlihat mata Lev yang merah dan sembap mengintip dari celah. Rambutnya acak-acakan, dan wajahnya dipenuhi kumis tipis yang tidak terawat.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Lev dengan suara serak, tanpa sedikit pun nada bahagia.
Cindy tersenyum, meski hatinya teriris melihat kondisi sepupunya. "Aku liburan. Dan aku dengar ada sepupuku yang mendadak jadi manusia gua. Jadi aku datang untuk... operasi penyelamatan."
Lev mendengus, lalu membuka pintu lebih lebar. Ia menatap Cindy dengan pandangan lelah. "Kamu sudah jauh-jauh datang cuma buat lihat aku?"
"Bukan cuma lihat. Tapi juga untuk 'Operasi Senyum'," kata Cindy, lalu menggerakkan boneka bebeknya. "Bobo Bebek mau kamu senyum. Katanya kalau kamu senyum, dia akan traktir kamu es krim."
Lev hanya menatap boneka bebek itu dengan tatapan datar, lalu kembali menutup pintu.
Namun, Cindy tidak menyerah. Ia menyelinap masuk sebelum pintu tertutup sepenuhnya. Kamar itu gelap dan pengap, dengan tirai yang tertutup rapat. Ada tumpukan pakaian kotor di sudut, dan beberapa bungkus makanan ringan berserakan di lantai.
"Ya ampun, Lev. Ini kamar atau tempat penimbunan barang?" canda Cindy, berusaha mencairkan suasana. "Tutup pintunya sana."
Lev menuruti perintah Cindy, lalu kembali duduk di pinggir kasur, membenamkan wajahnya di antara kedua lutut.
Cindy duduk di sebelahnya, tidak mengatakan apa-apa. Ia tahu, Lev tidak membutuhkan nasihat. Ia hanya butuh kehadiran. Setelah beberapa saat, Cindy mengeluarkan kacamata hidung palsu dari sakunya, dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia memakainya. Ia lantas menoleh ke arah Lev, dengan tatapan serius.
Lev mendongak. Melihat wajah Cindy yang ditutupi kacamata hidung palsu yang konyol, ia terdiam sejenak. Lalu, dari bibirnya, keluar sedikit senyum, yang langsung ia tutupi dengan telapak tangannya.
"Tuh kan," kata Cindy, melepas kacamata hidung palsunya. "Aku belum mulai apa-apa, kamu sudah senyum."
Lev tidak berkata apa-apa. Namun, air matanya menetes. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata haru. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Melihat Cindy yang jauh-jauh datang dengan segala kekonyolannya, membuat hatinya yang beku perlahan mencair. Reuni di tengah duka itu memang canggung, tapi juga penuh kehangatan. Cindy tahu, ini adalah langkah pertama yang sulit, tapi ia siap untuk melangkah lebih jauh.
