Pagi di Manchester kembali diwarnai hujan gerimis. Emily dan Lev, yang kini mengenakan kemeja biru muda barunya yang jauh lebih layak, berteduh di bawah payung besar di depan sebuah kafe.
"Aku merasa seperti detektif yang gagal," canda Lev sambil memandang ke arah jalanan yang basah. "Menginvestigasi kasus kemeja yang hilang."
"Setidaknya detektif ini sekarang lebih modis," balas Emily sambil terkekeh. "Ayo, aku ingin mengajakmu ke sebuah tempat."
Emily membawa Lev ke sebuah kedai teh kecil yang berlokasi di sebuah jalanan yang sepi. Interiornya nyaman dan dipenuhi aroma teh yang menenangkan. Di dalam, mereka disambut oleh seorang pria paruh baya dengan senyum ramah, yang mengenakan celemek berwarna cokelat.
"Ini Mark," kata Emily memperkenalkan. "Pemilik kedai teh ini. Dia punya trik sulap yang aneh."
Mark tersenyum dan mengangguk, lalu menunjuk ke sebuah papan tulis kecil yang menggantung di dinding. Di papan tulis itu, ada tulisan, "Teh dan Trik: Dapatkan diskon 5% jika kamu bisa menebak trik sulapku."
Lev merasa tertantang. "Trik sulap? Aku pernah belajar beberapa trik dari YouTube. Mungkin aku bisa menebaknya."
"Jangan sombong," bisik Emily. "Trik Mark itu tidak biasa."
Mark menyajikan mereka dua cangkir teh hangat. Saat Lev dan Emily meminum teh mereka, Mark melakukan trik sulapnya. Ia mengambil koin dari kantungnya, melemparkannya ke udara, dan saat koin itu jatuh, ia menghilang.
Lev dan Emily terkesima. Mereka tidak melihat bagaimana Mark melakukannya.
"Bagaimana?" tanya Mark dengan senyum puas. "Ada yang bisa menebak?"
"Tidak mungkin," gumam Lev. "Koin itu... menghilang."
Emily menggeleng. "Itu pasti ada triknya."
Lev, yang merasa gengsinya terusik, mencoba menebak. "Apakah koin itu punya magnet dan dia menempelkannya ke sesuatu?"
Mark menggeleng.
"Apakah dia melemparkannya ke saku lain?"
Mark menggeleng lagi.
Lev terus mencoba menebak, tetapi semua tebakannya salah. Emily hanya menonton sambil tersenyum, menikmati pemandangan Lev yang terlihat frustrasi.
"Aku menyerah," kata Lev akhirnya, dengan ekspresi kesal. "Apa triknya?"
Mark tertawa. "Tidak ada trik, Nak. Koin itu memang menghilang."
Lev dan Emily saling berpandang, merasa bingung.
"Aku hanya bercanda," kata Mark sambil tertawa. "Triknya adalah... saat aku melemparkan koin, koin itu tidak pernah jatuh. Aku memegangnya di tanganku yang lain, tetapi aku bergerak sangat cepat sehingga kalian tidak melihatnya."
Lev dan Emily merasa bodoh. Mereka berdua terbahak-bahak, menyadari bahwa triknya sangat sederhana, tetapi mereka terlalu fokus mencari hal yang rumit.
"Aku juga tahu trik!" seru Lev, setelah berhasil menguasai tawanya. "Lihat ini!"
Lev mengambil sebuah sendok, mencoba membengkokkannya dengan pikirannya, seperti yang ia lihat di film. Namun, sendok itu tidak bergerak sama sekali.
Emily dan Mark tertawa. "Kamu tidak bisa membengkokkan sendok dengan pikiran," kata Emily.
"Aku tahu!" Lev membela diri. "Aku hanya butuh latihan."
Mereka menghabiskan sore itu dengan Mark yang terus menunjukkan trik-triknya yang aneh, dan Lev yang terus mencoba meniru triknya, tetapi gagal total. Suasana di kedai teh itu penuh dengan tawa dan keceriaan.
Saat mereka pulang, Lev merasa bahwa ia telah belajar satu hal penting. Terkadang, hal-hal yang sederhana bisa menjadi hal yang paling menyenangkan. Dan terkadang, kegagalan bisa menjadi sumber tawa yang tak terduga.
Di bawah langit Manchester yang kembali mendung, Lev Ryley dan Emily berjalan beriringan, membawa serta kenangan tentang teh hangat, trik sulap konyol, dan tawa yang tulus. Lev tahu, perjalanannya di Manchester akan penuh dengan kejutan, dan ia tidak sabar untuk melihat apa lagi yang menunggunya.
