Salju turun pertama kali pada pertengahan Oktober, seperti janji yang tak pernah ingkar. Bagi Eva, ini adalah janji kesendirian yang abadi, sebuah melodi yang sama yang dimainkan ratusan kali. Di dalam kabin kayu kecilnya di pinggir hutan lebat, jauh dari cahaya kota Anchorage, ia bisa mendengar salju menimpa atap, menciptakan suara gemerisik yang lembut. Hutan di luar membeku, siluet pohon-pohon pinus diselimuti putih. Ini adalah musim dingin ke-317 yang ia saksikan, dan setiap musim dingin terasa semakin berat.
Eva bukan seperti manusia biasa. Rambut pirangnya yang panjang tergerai di pundak, tidak pernah menua, tidak pernah kehilangan kilaunya. Sepasang matanya yang berwarna hijau seperti daun yang baru tumbuh, memancarkan kearifan yang tak bisa ditemukan pada mata manusia mana pun. Di era modern, kecantikannya adalah beban. Di kota-kota, orang akan menatapnya dengan kekaguman, sebuah tatapan yang membuatnya tidak nyaman. Mereka akan bertanya rahasia awet mudanya, dan ia akan menjawab dengan senyum palsu yang telah ia latih selama berabad-abad.
Dinding kabinnya dipenuhi dengan peta, bukan peta yang dijual di toko, melainkan peta buatan tangannya sendiri. Peta itu menunjukkan lokasi suku-suku kuno, rute migrasi hewan yang telah punah, dan tempat-tempat ajaib yang kini hanya menjadi legenda. Di sudut ruangan, sebuah laptop tua berkedip, menunjukkan layar media sosial yang ia buka hanya untuk memantau perkembangan dunia. Sejak era internet, ia merasa dunia semakin kecil, namun dirinya semakin terisolasi. Semua orang terhubung, tetapi tidak dengannya.
Pagi itu, Eva mengecek akun media sosialnya. Seorang remaja perempuan dengan swafoto di tempat yang persis sama dengan tempat ia duduk di puncak gunung lima puluh tahun lalu. Komentar di bawahnya riuh, "Wah, pemandangannya indah sekali!" Eva tersenyum pahit. Bagi manusia, itu hanya sebuah foto liburan, kenangan yang akan pudar seiring waktu. Bagi Eva, itu adalah bagian dari hidupnya. Ia pernah duduk di sana, di tempat yang sama, mengamati dunia yang jauh berbeda.
Hidup abadi berarti menyaksikan perubahan. Ia melihat tanah yang ia kenal berubah menjadi kota, sungai yang jernih menjadi sumber polusi, dan hutan yang tak tersentuh menjadi area penebangan. Setiap perubahan seperti tusukan kecil di hatinya. Setiap kali ia menjalin hubungan dengan manusia, ia tahu itu akan berakhir dengan perpisahan. Ia telah melihat anak-anak yang ia kenal tumbuh menjadi dewasa, menua, dan meninggal. Beban itu terlalu berat untuk ditanggung, jadi ia berhenti mencoba.
Setelah memeriksa media sosial, ia mematikan laptop. Sebuah perangkat yang aneh, pikirnya, yang menghubungkan orang tetapi membuat ia merasa semakin terpisah. Ia mengenakan jaket tebal dan sepatu botnya. Salju sudah menumpuk di luar, dan ia perlu mencari beberapa bahan makanan di kota. Ia lebih suka berburu atau memancing seperti dulu, tetapi peraturan modern membuatnya sulit. Harus ada izin, batasan, dan aturan yang rumit.
Perjalanan ke kota adalah ritual yang menyiksa. Ia mengendarai truk pickup tuanya yang berkarat, peninggalan dari seorang teman manusia yang meninggal dua puluh tahun lalu. Setiap kali ia melihat pantulan dirinya di kaca spion, ia melihat seorang wanita muda yang sama, sementara dunia di sekitarnya terus menua.
Di supermarket, ia melihat keluarga-keluarga tertawa, anak-anak berlarian. Ia melihat pasangan tua bergandengan tangan, menikmati sisa-sisa hidup mereka. Hatinya terasa perih. Ia membeli beberapa bahan makanan dan cepat-cepat keluar. Di jalan, ia melihat sebuah berita di ponsel seorang pejalan kaki. Sebuah ekspedisi ke Greenland. Berita itu tidak penting, tetapi sebuah nama di antara daftar peserta menarik perhatiannya. "Andriy, seniman ukir kayu." Sesuatu di dalam dirinya berdesir, sebuah perasaan yang sangat kuno dan hampir terlupakan. Perasaan itu seperti memori yang mengendap jauh di dalam hatinya, yang ia simpan rapat-rapat. Ia mengabaikannya, menganggapnya hanya kebetulan. Tidak mungkin. Ia adalah elf terakhir. Ia yakin itu.
Di perjalanan pulang, ia mengambil jalan memutar. Sebuah sungai beku terbentang di hadapannya. Ia menghentikan truknya, turun, dan berjalan ke tengah sungai yang membeku. Di bawah es, ia bisa melihat ikan-ikan berenang perlahan. Eva menutup matanya, membiarkan angin dingin menerpa wajahnya. Ia mencoba merasakan energi kuno dari bumi, tetapi yang ia rasakan hanyalah kedinginan yang menusuk.
Dulu, ia bisa mendengar bisikan hutan, nyanyian sungai. Sekarang, hanya ada keheningan. Ia merasa seperti relik hidup, makhluk terakhir dari dunia yang telah lama mati. Ia kembali ke truk, melanjutkan perjalanan pulang, merasa hampa. Malam itu, di kabinnya yang hangat, ia menyeduh teh dan menatap api. Ia tidak tahu, di belahan bumi lain, ada seseorang yang juga merasa seperti dirinya. Tidak tahu bahwa kedinginan di hatinya akan segera menemukan kehangatan yang tak pernah ia sangka. Musim dingin terpanjang di Alaska baru saja dimulai.
