Satu-satunya hal yang tidak terduga dari rencana perjalanan mereka adalah Jessica tiba-tiba ingin mengunjungi Barossa Valley, sebuah kawasan penghasil anggur yang terkenal di Adelaide. Lev, yang selalu terbuka dengan ide-ide baru, mengiyakan ajakan itu, meskipun ia tahu bahwa ia tidak akan bisa mencicipi produk utamanya.
"Barossa Valley adalah salah satu yang terbaik di dunia, Lev," jelas Jessica dengan mata berbinar di dalam mobil sewaan mereka. "Kamu harus lihat pemandangan kebun anggurnya. Sangat indah."
Di dalam mobil, Lev berusaha menjelaskan kembali prinsip dasar Islam tentang larangan mengonsumsi alkohol. "Aku tahu kamu sudah tahu, Jess. Tapi aku ingin kamu mengerti kenapa aku tidak bisa ikut mencicipinya."
"Tentu saja aku mengerti, Lev. Aku tidak akan memaksamu," jawab Jessica. "Itu bagian dari keyakinanmu, dan aku menghormatinya. Lagipula, aku juga akan mencicipi dan menceritakan bagaimana rasanya. Jadi, kamu tidak akan ketinggalan cerita."
Lev tertawa kecil. "Jadi aku bisa mencicipinya dari ceritamu, ya?"
"Benar sekali!" seru Jessica. "Lagipula, ada banyak hal lain yang bisa kita nikmati di sana. Pemandangan, arsitektur, dan tentunya, makanan halal yang mereka sediakan."
Saat tiba di Barossa Valley, Lev terkesima. Pemandangan kebun anggur yang membentang di bukit-bukit dengan rapi, menciptakan hamparan hijau yang menenangkan mata. Bangunan-bangunan kilang anggur kuno berdiri megah, menambah kesan artistik pada pemandangan. Lev mengeluarkan ponselnya dan mengambil beberapa foto.
"Ini sangat indah, Jess," katanya, matanya tak lepas dari pemandangan di sekitarnya. "Rasanya seperti di film-film."
Mereka memasuki salah satu kilang anggur yang paling terkenal. Jessica langsung menuju area mencicipi anggur, sementara Lev menunggu di area kafe yang menjual makanan. Ia memesan kopi hangat dan duduk di sebuah bangku, mengamati Jessica yang tampak bersemangat mencicipi beberapa jenis anggur.
Seorang pria paruh baya, yang sepertinya adalah pemilik tempat itu, menghampiri Lev. "Tidak mencicipi anggur kami?" tanyanya ramah.
Lev tersenyum. "Tidak, terima kasih. Saya Muslim. Agama saya melarang saya minum alkohol."
Pria itu mengangguk mengerti. "Saya mengerti. Kami menghormati semua keyakinan. Tapi Anda bisa mencoba jus anggur kami. Rasanya enak sekali."
Lev menerima tawaran itu dengan senang hati. Ia terkesan dengan toleransi yang ditunjukkan oleh pria itu. Setelah Jessica selesai, mereka berdua kembali duduk di area kafe.
"Bagaimana, Jess? Apakah rasanya benar-benar seenak kelihatannya?" tanya Lev.
Jessica mengangguk antusias. "Enak sekali! Ada yang manis, ada yang sedikit asam. Ada banyak sekali jenis anggur di dunia ini, Lev. Aku tidak menyangka."
"Hidup ini memang penuh kejutan, Jess," kata Lev sambil tersenyum. "Kadang yang terlihat biasa saja, ternyata punya banyak sisi yang menarik."
"Kamu benar," kata Jessica. "Tapi aku juga sadar, ada banyak hal yang tidak bisa kita cicipi, karena itu tidak baik untuk kita. Kamu sangat kuat memegang prinsip itu, Lev. Aku kagum."
"Itu bukan tentang kuat atau tidak kuat, Jess. Itu tentang keyakinan," jelas Lev. "Aku percaya, ada yang lebih baik dari itu semua. Dan bagiku, ketenangan hati adalah yang paling penting."
Jessica mengangguk, mencerna kata-kata Lev. Perjalanan ke Barossa Valley, yang tadinya hanya tentang anggur, ternyata menjadi pelajaran berharga tentang perbedaan, toleransi, dan kebijaksanaan. Mereka menyadari bahwa keindahan tidak hanya bisa dinikmati dengan mencicipi, tetapi juga dengan menghormati. Dan persahabatan mereka, seperti pohon anggur, semakin tumbuh kuat, berakar pada saling pengertian dan penghargaan.
