Udara fajar di Barabai, Hulu Sungai Tengah, terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Di sebuah rumah yang asri, Muhammad Hifni sedang berjibaku dengan ritsleting koper yang tampak enggan menyatu. Sebagai seorang PNS yang terbiasa dengan keteraturan dokumen negara, ia merasa ujian paling berat bukanlah audit tahunan, melainkan mengepak barang bawaan istri dan anaknya untuk perjalanan sebulan ke Tanah Suci.
"Yah, jangan lupa snack kucing buat di tas kecil Khalisah," teru Rina Rufida dari arah dapur. Keluarga Muhammad Hifni memang dikenal sederhana, namun urusan persiapan, Rina yang merupakan guru Bahasa Inggris tidak main-main. Ia sudah melabeli setiap kantong obat dengan istilah medis yang akurat.
Khalisah Salsabilla, bocah lima tahun itu, tidak peduli dengan paspor atau kain ihram. Di pelukannya, ada sebuah boneka kucing yang ia beri nama "Muezza Barabai".
"Bun, nanti kalau ketemu kucing di Mekah, mereka bisa bahasa Inggris kayak Bunda atau bahasa Banjar kayak Ayah?" tanya Khalisah polos.
Hifni tertawa kecil sambil mengusap kepala putrinya. "Kucing di sana bahasanya bahasa kalbu, Sayang. Yang penting, Khalisah harus belajar sabar karena kita akan puasa di sana."
Sementara itu, 165 kilometer dari Barabai, tepatnya di Kota Banjarmasin, suasana rumah Lev ℛyley jauh lebih chaos. Lev, sang ayah yang bekerja di bidang IT, sedang menatap tumpukan paket plastik oranye yang menutupi pintu utama.
"Anin, ini kita mau umrah atau mau buka cabang ekspedisi di Jeddah?" sindir Lev sambil memegang keningnya. Anindya Putri hanya menyengir sambil sibuk melakukan unboxing kilat untuk konten terakhirnya sebelum berangkat. "Ini mukena traveling terbaru, Pa! Ribuan followers nunggu review-nya. Ini investasi ukhuwah!"
Aisyah Humaira, putri sulung mereka yang merupakan mahasiswi PGSD ULM, tampak sibuk memegang buku catatan besar. Sebagai organisatoris ulung, dialah yang mengatur jadwal keberangkatan, memastikan adik-adiknya sudah mandi, dan yang paling penting: memastikan koper ibunya tidak melebihi kuota bagasi pesawat.
"Ma, kalau satu paket lagi datang, Aisyah coret dari daftar manifest!" ancam Aisyah dengan nada tegas namun bercanda. Di sudut ruangan, Maryam Safiya hanya diam sambil memasukkan set cat air mini ke dalam tasnya. Ia membayangkan warna langit Mekah yang ingin ia lukis nanti. Sementara Ghina Qalbi sudah sibuk dengan ring light kecilnya, "Hai Guys! Hari ini kita mau on the way ke Mekah, jangan lupa check out doa buat kita ya!"
Hanya Rayyan Zuhayr yang tampak tenang. Ia duduk di atas koper sambil membaca buku cerita tentang "Keajaiban Sumur Zamzam". Baginya, perjalanan ini adalah petualangan menuju gerbang surga yang sering diceritakan di sekolahnya.
Saat kedua keluarga ini menuju Bandara Syamsudin Noor, mereka belum saling mengenal. Hifni dengan ketenangannya, dan Lev dengan segala kerepotan paket istrinya. Namun, takdir sudah menyiapkan skenario unik di atas awan.
Di dalam pesawat Boeing 777 yang membelah angkasa menuju Jeddah, Khalisah menempelkan hidungnya ke jendela pesawat. "Ayah, kalau kucing bisa terbang, pasti mereka sudah sampai di Ka'bah duluan ya?"
Hifni tersenyum, menutup matanya sejenak, membayangkan Ramadan yang akan mereka lalui. Ia tidak tahu bahwa beberapa kursi di belakangnya, Lev ℛyley sedang beradu argumen dengan pramugari karena istrinya mencoba memesan kursi tambahan hanya untuk menaruh tas belanjaan duty free.
Perjalanan menuju tanah impian baru saja dimulai. Di balik awan, Mekah menanti dengan segala keberkahannya, dan tentu saja, dengan kucing-kucing gurun yang menjadi target utama detektif cilik dari Barabai.
