Malam di Chelyabinsk begitu sunyi. Hanya suara salju yang jatuh di luar jendela yang sesekali memecah keheningan. Lev Ryley, yang sudah mandi dan mengenakan pakaian bersih, duduk di ranjangnya. Ia mengeluarkan sebuah buku kecil bersampul kulit yang selalu dibawanya. Ini adalah jurnal perjalanannya. Setiap malam, sebelum tidur, ia menyempatkan diri menuliskan apa yang ia alami, apa yang ia rasakan, dan apa yang ia pikirkan.
Ia membuka halaman kosong, mengambil pulpen, lalu mulai menulis.
“Chelyabinsk. Kota Meteor. Setelah perjalanan panjang, akhirnya sampai juga. Stasiunnya terlihat tua, berbeda dengan Perm. Hostelnya sederhana, tapi cukup nyaman. Aku bertemu beberapa pria Muslim dari berbagai negara. Mereka sangat ramah, mengajakku makan malam bersama. Aku tidak lagi merasa sendirian. Rasanya seperti menemukan keluarga baru.”
Lev berhenti sejenak, mengenang kembali saat ia panik karena koper yang tertukar. Ia tersenyum kecil.
“Koperku sempat tertukar. Aku panik luar biasa. Semua barangku ada di situ. Tapi Allah tidak membiarkanku sendirian. Aku menelepon Sofia. Dia membantuku dengan sabar. Dia membantuku berbicara dengan petugas stasiun. Dia bahkan mau mengirimkan uang untuk biaya pengiriman koperku. Aku menolaknya, tapi dia memaksa. Akhirnya, koperku kembali. Subhanallah. Allah mengirimkan orang-orang baik di sekitarku, bahkan di tempat yang jauh dari rumah.”
Lev kembali menulis, kali ini dengan tinta yang mengalir lebih lancar.
“Persahabatan dengan Sofia adalah salah satu hal terbaik yang terjadi padaku di sini. Dia bukan Muslim, tapi dia sangat menghormati keyakinanku. Dia bahkan belajar tentang halal demi aku. Dia menemaniku ke masjid. Dia memberiku hadiah buku kamus. Dia adalah bukti nyata bahwa kebaikan tidak mengenal batas. Aku bersyukur memiliki sahabat seperti dia. Aku akan mengingatnya seumur hidup.”
Ia menutup buku jurnalnya, mengambil tas kecil di sampingnya. Di dalamnya, ada buku saku tafsir Al-Qur'an miliknya. Ia membukanya, membaca beberapa ayat. Ayat-ayat itu terasa begitu menenangkan. Ia merasa dekat dengan Allah. Ia merasa semua yang terjadi padanya, baik yang menyenangkan maupun yang sulit, adalah bagian dari rencana-Nya.
Lev teringat akan ibunya. Ia mengambil ponselnya, membuka galeri foto. Di sana ada foto-foto keluarganya di Banjarmasin. Ada foto ia sedang bersama ayahnya di depan rumah, ada foto ia dan kakak-kakaknya saat liburan ke pantai, dan ada foto ibunya yang sedang tersenyum. Lev merasa rindu, tapi ia juga merasa bahagia. Ia tahu, perjalanannya ini adalah juga untuk mereka. Untuk melihat dunia, untuk belajar, dan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Setelah membaca beberapa ayat dan melihat foto-foto keluarganya, Lev kembali menulis di jurnalnya.
“Malam ini, aku merenung. Perjalanan ini bukan hanya tentang melihat tempat baru. Tapi juga tentang melihat diriku sendiri dari sudut pandang yang berbeda. Aku belajar bahwa aku lebih kuat dari yang kukira. Aku belajar bahwa kebaikan selalu ada di mana saja. Dan yang terpenting, aku belajar bahwa iman adalah satu-satunya hal yang tidak akan pernah meninggalkanku, di mana pun aku berada.”
Lev menutup jurnalnya, lalu meletakkannya di samping bantal. Ia merasa damai. Ia merasa tenang. Jauh dari rumah, di tengah dinginnya malam Chelyabinsk, ia menemukan kehangatan dalam hatinya. Ia tahu, ia tidak sendirian. Ia punya Allah. Ia punya keluarga. Ia punya sahabat. Dan ia punya jurnal kecil ini, yang akan menjadi saksi bisu dari setiap langkah petualangannya di negeri beruang merah.
Lev Ryley memejamkan mata, membiarkan tidur menjemputnya. Ia bermimpi tentang Banjarmasin, tentang nasi goreng, dan tentang salju pertama. Ia tersenyum dalam tidurnya. Perjalanan ini masih panjang, dan ia tidak sabar untuk melihat apa yang menantinya di kota-kota selanjutnya.
