Kencan di kafe itu membuka pintu baru. Anatasya tidak lagi melihat Lev sebagai pria misterius, tetapi sebagai seorang pria yang menarik dan memiliki sisi humor. Obrolan mereka di kafe membuka cakrawala baru bagi Anatasya, yang hidupnya selama ini hanya berputar di antara buku-buku.
Keesokan harinya, Anatasya datang ke perpustakaan dengan senyum lebar. Ia merasa seperti sedang berjalan di atas awan. Ia melihat Lev sudah berada di Sudut Raknya, membaca buku seperti biasa. Namun, kali ini, Anatasya tidak lagi merasa takut untuk mendekatinya.
Ia mengambil dua cangkir teh, dan berjalan ke arah Lev.
"Teh lagi?" tanya Lev, sedikit tersenyum.
"Ya," kata Anatasya, menyerahkan cangkir teh kepada Lev. "Kali ini, aku tidak akan menumpahkannya."
Lev menerima cangkir teh itu. "Aku harap begitu."
Mereka berdua duduk di meja yang sama, menikmati teh mereka. Anatasya merasa nyaman. Ia merasa ini adalah kencan yang paling menyenangkan.
"Jadi," kata Anatasya, memecah keheningan. "Kau bilang kau suka drama. Kenapa?"
Lev Ryley menghela napas. "Aku... aku punya masa lalu yang tidak terlalu dramatis. Jadi, drama kecil di perpustakaan ini... membuatku terhibur."
Anatasya merasa penasaran. "Masa lalu yang tidak terlalu dramatis? Kenapa kau menyepi di perpustakaan?"
Lev Ryley menatap Anatasya, matanya dipenuhi dengan sedikit kesedihan. "Aku... aku pernah bekerja di sebuah perusahaan teknologi. Aku... aku adalah seorang jenius IT. Tapi... aku membuat kesalahan. Sebuah kesalahan besar. Dan itu membuatku kehilangan segalanya."
Anatasya merasa terkejut. "Kesalahan apa?"
"Aku tidak bisa membicarakannya," kata Lev Ryley, dengan nada yang dingin. "Itu... terlalu menyakitkan."
Anatasya merasa bersalah. Ia tidak seharusnya bertanya. "Maafkan aku. Aku tidak tahu."
Lev Ryley tersenyum, tetapi bukan senyum yang tulus. "Tidak masalah."
Mereka berdua kembali terdiam. Anatasya merasa ada dinding yang kembali berdiri di antara mereka. Ia merasa ia telah melanggar batas.
Tiba-tiba, Lev Ryley meletakkan cangkir tehnya. "Aku harus pergi."
Ia bangkit, dan berjalan keluar dari perpustakaan, meninggalkan Anatasya sendirian.
Anatasya merasa hatinya hancur. Ia merasa ia telah merusak semuanya. Ia merasa ia telah membuat Lev Ryley kembali menyepi.
Ia tidak bisa berhenti memikirkan kata-kata Lev. "Aku membuat kesalahan besar... kehilangan segalanya." Anatasya penasaran. Apa yang terjadi padanya? Mengapa ia begitu menyendiri?
Anatasya memutuskan untuk mencari tahu. Ia tahu ini adalah hal yang bodoh, tetapi ia merasa ia harus tahu. Ia merasa ia berhak tahu.
Ia pergi ke meja komputernya, dan mulai mencari nama Lev Ryley di internet. Ia mengetik nama itu dengan hati-hati.
Hasil pencarian pertama menunjukkan sebuah artikel dari majalah teknologi. Artikel itu berjudul, "Lev Ryley: Jenius IT yang Jatuh."
Anatasya merasa penasaran. Ia membuka artikel itu, dan mulai membacanya.
Artikel itu menceritakan tentang seorang jenius IT bernama Lev Ryley, yang menciptakan sebuah program revolusioner. Tetapi, program itu ternyata memiliki bug yang fatal, dan menyebabkan kerugian besar bagi perusahaan. Lev Ryley, yang merasa bersalah, memutuskan untuk mengundurkan diri, dan menghilang dari dunia teknologi.
Anatasya merasa terkejut. Ia tidak menyangka bahwa pria yang duduk di Sudut Rak adalah seorang jenius IT yang jatuh. Ia tidak menyangka bahwa pria yang begitu tenang dan pendiam, memiliki masa lalu yang begitu dramatis.
Anatasya merasa campur aduk. Ia merasa kasihan pada Lev, tetapi ia juga merasa kagum. Ia merasa Lev Ryley adalah pria yang lebih menarik dari yang ia kira.
Ia menutup laptopnya, dan menatap ke arah Sudut Rak. Sudut itu kini terasa kosong. Anatasya merasa ada ruang kosong di hatinya juga.
Ia tahu, ini adalah awal dari kekacauan yang lebih besar. Dan ia tidak tahu apakah ia siap untuk menghadapinya.
