Setelah meninggalkan Adelaide, Lev dan Jessica melanjutkan perjalanan menuju Melbourne. Sepanjang jalan, mereka disuguhkan pemandangan yang tak kalah memesona. Bukit-bukit hijau, ladang-ladang luas, dan beberapa peternakan yang terlihat tenang. Lev merasa semakin terkoneksi dengan alam, dan Jessica merasa senang melihat Lev menikmati setiap momen perjalanan mereka.
Saat tiba di Melbourne, suasana kota yang dinamis dan modern langsung terasa. Bangunan-bangunan tinggi, street art di gang-gang sempit, dan kafe-kafe yang ramai menjadi pemandangan yang berbeda dari Perth dan Adelaide. Lev merasa seperti berada di kota yang penuh kejutan dan energi.
"Selamat datang di Melbourne, kota yang paling kreatif di Australia!" seru Jessica dengan bangga. "Di sini, kamu bisa menemukan banyak hal baru. Ada seni, musik, dan tentu saja, makanan!"
Mereka menginap di sebuah apartemen kecil di pusat kota. Setelah menaruh barang-barang, mereka langsung menjelajahi kota. Mereka berjalan kaki menyusuri gang-gang kecil yang penuh dengan street art berwarna-warni. Lev terkesima dengan karya-karya seni yang menghiasi dinding-dinding itu.
"Ini seperti galeri seni terbuka," kata Lev. "Di kampungku, tidak ada yang seperti ini."
"Melbourne memang terkenal dengan seninya," jawab Jessica. "Banyak seniman dari berbagai negara datang ke sini untuk berkarya."
Saat mereka sedang asyik berjalan, Lev melihat sekelompok orang yang sedang berbincang dengan bahasa yang mirip dengan bahasa Turki. Ia penasaran dan mendekat. Mereka ternyata imigran Muslim yang sedang berkumpul di sebuah taman kecil. Lev, dengan bahasa Inggris yang lebih lancar, menyapa mereka.
"Assalamualaikum," sapa Lev.
Mereka tersenyum dan menjawab salamnya. Lev dan Jessica kemudian bergabung dengan mereka. Mereka semua sangat ramah dan terbuka. Ada yang berasal dari Turki, ada yang dari Bosnia, dan ada juga yang dari Lebanon. Mereka menceritakan kisah-kisah inspiratif tentang bagaimana mereka berjuang di Melbourne, membangun kehidupan baru, dan tetap mempertahankan keyakinan mereka.
Seorang pria paruh baya asal Turki bernama Mustafa, bercerita tentang bagaimana ia pertama kali datang ke Melbourne dengan hanya membawa beberapa dolar di saku. "Dulu, saya kesulitan mencari pekerjaan," katanya. "Tapi saya tidak pernah menyerah. Saya bekerja keras, dan sekarang, saya punya restoran kebab sendiri."
Jessica mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia tidak menyangka akan menemukan kisah-kisah seperti ini. Ia melihat bagaimana Islam mempersatukan mereka, meskipun mereka berasal dari negara dan budaya yang berbeda.
"Aku jadi berpikir, Lev," kata Jessica. "Mungkin kita terlalu fokus pada perbedaan kita. Padahal, ada banyak hal yang bisa kita bagikan dan pelajari dari satu sama lain."
"Kamu benar, Jess," jawab Lev. "Hidup ini adalah tentang saling belajar. Dan Melbourne, dengan semua kejutan dan keragamannya, mengajarkan kita banyak hal."
Setelah berbincang-bincang dengan komunitas Muslim itu, Lev dan Jessica kembali melanjutkan perjalanan. Mereka makan malam di sebuah restoran India halal yang direkomendasikan oleh Mustafa. Restoran itu ramai dan penuh dengan berbagai macam orang, dari berbagai latar belakang. Lev merasa seperti berada di sebuah kota yang benar-benar kosmopolitan.
Malam itu, Lev dan Jessica berjalan-jalan di sepanjang Sungai Yarra. Lampu-lampu kota yang berkelap-kelip menciptakan pemandangan yang indah.
"Aku tidak menyangka Melbourne akan seperti ini," kata Lev. "Ini seperti kota yang tidak pernah tidur."
"Melbourne memang begitu," jawab Jessica. "Selalu ada hal baru yang bisa ditemukan di sini."
Lev dan Jessica menyadari bahwa Melbourne bukan hanya tentang bangunan-bangunan tinggi atau street art, tapi juga tentang orang-orangnya. Orang-orang yang datang dari berbagai belahan dunia, membawa cerita, impian, dan harapan mereka. Dan di tengah keramaian itu, mereka menemukan sebuah komunitas yang hangat dan inspiratif. Petualangan mereka di Melbourne baru saja dimulai, dan mereka tidak sabar untuk melihat kejutan apa lagi yang akan mereka temukan.
