Bus yang membawa rombongan keluarga Muhammad Hifni dan Lev ℛyley akhirnya memasuki batas tanah haram. Lampu-lampu kota Mekah berpijar seperti permata di tengah kegelapan gurun. Saat menara-menara Masjidil Haram yang megah mulai terlihat, suasana di dalam bus yang tadinya riuh dengan candaan Lev seketika senyap. Ada rasa haru yang menyeruak, bahkan Khalisah yang biasanya cerewet kini hanya terpaku menatap keluar jendela.
"Ayah, itu rumah Allah ya?" bisik Khalisah pelan. Hifni mengangguk, matanya berkaca-kaca. Sebagai PNS yang hari-harinya dihabiskan di depan meja birokrasi, melihat Ka'bah adalah puncak dari segala kesabarannya menabung selama bertahun-tahun.
Setelah proses check-in hotel yang dramatis—karena Anindya Putri sempat memprotes pencahayaan kamar yang dianggap kurang proper untuk konten endorsement mukenanya—kedua keluarga ini memutuskan untuk melaksanakan salat Tarawih pertama mereka bersama-sama.
"Pak Hifni, siap-siap ya. Ini medan perang sesungguhnya. Lebih berat dari antre paket 12.12," kelakar Lev ℛyley sambil membetulkan letak sarungnya.
Masjidil Haram malam itu sangat padat. Lautan manusia dari berbagai bangsa tumpah ruah. Aisyah Humaira segera mengambil kendali, membentuk barisan manusia agar adik-adiknya tidak terpisah. "Maryam, pegang tas Ghina. Rayyan, pegang tangan Kakak. Jangan lepas!" instruksi Aisyah dengan nada organisatorisnya yang tak terbantahkan.
Namun, drama dimulai saat mereka mencoba mencari saf di area pelataran. Khalisah tiba-tiba berhenti mendadak. Matanya menangkap sosok makhluk berbulu yang sedang duduk tenang di atas sebuah sajadah tak bertuan di dekat pilar.
"Kucing Mekah! Ayah, lihat! Dia lagi nunggu salat juga!" teriak Khalisah kegirangan. Kucing itu berjenis Arabian Mau, bertubuh ramping dengan telinga lebar, tampak sangat berwibawa di tengah hiruk-pikuk jamaah.
"Sstt, Khalisah, jangan keras-keras," bisik Rina Rufida mencoba menenangkan. Tapi terlambat, kucing itu malah mendekat dan menggesekkan kepalanya ke kaki Rayyan Zuhayr. Rayyan yang polos langsung berjongkok. "Eh, kucingnya mau ikut baca Al-Qur'an ya?"
Di saat yang sama, Anindya Putri melihat momen itu sebagai peluang konten emas. "Ghina! Cepat record! Judulnya: 'Kucing Surga Menyambut Influencer Banjar di Masjidil Haram'. Pasti viral!" Ghina Qalbi dengan sigap mengeluarkan stabilizer ponselnya, sementara Maryam Safiya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil mencari sudut yang tenang untuk mulai meresapi suasana masjid.
Perjuangan yang sesungguhnya adalah saat salat Tarawih dimulai. Imam besar mulai melantunkan ayat-ayat suci dengan suara yang menggetarkan sanubari. Namun, bagi Lev, kekhusyukan adalah kemewahan yang harus diperjuangkan. Kakinya pegal karena berdiri lama, dan setiap kali ia akan sujud, ia harus memastikan tidak menindih kucing yang tadi diikuti Khalisah—karena kucing itu entah bagaimana caranya kini malah bersantai di antara saf mereka.
Di tengah salat, Lev mendengar bisikan lirih istrinya di saf belakang, "Pa, tadi aku sempat lihat di marketplace, kurma ajwa diskon 50% di toko sebelah hotel... Aduh, fokus, Anin! Subhanallah..." Lev hanya bisa mengelus dada sambil menahan tawa dalam salatnya.
Selesai salat, udara malam Mekah terasa sangat sejuk. Mereka semua duduk melingkar di pelataran masjid, menikmati hembusan angin sambil meminum air zamzam yang dingin.
"Gimana rasanya puasa pertama di sini besok, Pak Hifni?" tanya Lev sambil meluruskan kakinya.
Hifni tersenyum melihat Khalisah yang sudah tertidur di pangkuan Rina, masih dengan tangan memegang boneka kucingnya. "Rasanya seperti pulang ke rumah, Pak Lev. Walaupun kita dari Barabai, di sini kita merasa tidak asing. Mungkin ini yang namanya ukhuwah."
"Benar," sahut Aisyah Humaira yang sedang sibuk membagikan kurma kepada adik-adiknya. "Dan besok, tantangan sebenarnya adalah bangun sahur tanpa suara ayam berkokok di kampung halaman."
Malam itu, di bawah bayang-bayang menara jam raksasa, dua keluarga ini menyadari bahwa Ramadan tahun ini akan menjadi bab paling berwarna dalam hidup mereka. Sebuah perpaduan antara ibadah yang khusyuk, drama belanja yang tak kunjung usai, dan tentu saja, pengejaran kucing-kucing gurun yang tak terduga.
Mau lanjut ke Bab 4? Kita akan membahas sahur pertama mereka yang kacau karena Lev lupa menyalakan alarm akibat sibuk memperbaiki Wi-Fi hotel.
