Pagi ketiga di Barabai, Lev dan Rauf sudah siap untuk petualangan selanjutnya. Setelah menikmati sarapan nasi kuning yang dibeli di warung dekat penginapan, mereka memutuskan untuk mengunjungi Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam di Mandiangin. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Barabai, sekitar satu jam perjalanan dengan mobil.
"Rauf, siap-siap. Ini bakal jadi petualangan spiritual. Tahura, hutan, gunung. Pasti banyak pelajaran yang bisa kita ambil," ucap Lev, bersemangat.
Rauf mengangguk, kali ini tanpa banyak berkomentar. Ia sudah tidak sabar untuk melihat keindahan alam Barabai yang ia dengar dari banyak orang.
Perjalanan menuju Tahura Mandiangin terasa berbeda. Jalanan yang berliku, naik-turun, dan pemandangan hutan tropis yang lebat di sisi kanan dan kiri, membuat mereka terkesima. Udara yang semakin sejuk dan segar, membuat mereka merasa lebih rileks.
"Rauf, ini namanya terapi alam. Jauh dari hiruk pikuk kota, dekat dengan alam. Ini yang Kakek maksud kayaknya," gumam Lev.
Di Tahura Mandiangin, mereka langsung menuju Puncak Mandiangin. Rute pendakiannya tidak terlalu sulit, tapi cukup menantang. Lev, yang biasanya malas bergerak, kali ini sangat bersemangat. Ia mengambil ponselnya, mengabadikan setiap momen.
"Rauf, ini namanya dokumentasi. Meskipun enggak pakai kamera, tapi hasilnya tetap keren," bisik Lev, sambil memotret pemandangan.
Rauf hanya tersenyum. Ia melihat Lev sudah banyak berubah. Dulu, Lev akan mengeluh dan minta berhenti di tengah jalan. Tapi kini, Lev tampak menikmati setiap langkah pendakian.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seorang pendaki veteran. Pria itu, dengan wajah yang penuh kerutan, tersenyum ramah.
"Anak muda, mau ke puncak?" sapanya.
"Iya, Pak. Mau lihat pemandangan," jawab Lev.
"Hati-hati, Nak. Jangan tergesa-gesa. Nikmati saja perjalanannya. Pemandangan di puncak memang bagus, tapi pemandangan di tengah perjalanan juga tidak kalah bagus," kata pria itu, bijak.
Lev mendengarkan dengan seksama. Ia merasa, kakeknya ingin ia belajar hal ini. Belajar tentang proses, bukan hanya hasil.
Setelah beberapa saat berjalan, mereka sampai di puncak Mandiangin. Pemandangan dari atas puncak sangat indah. Hamparan hutan yang hijau, dan pegunungan Meratus yang menjulang tinggi, membuat mereka terkesima. Lev mengambil ponselnya, merekam pemandangan itu.
"Rauf, ini namanya surga tersembunyi," bisik Lev.
"Memang. Di sini, kita bisa lihat betapa agungnya ciptaan Allah," Rauf menimpali.
Setelah puas menikmati pemandangan, mereka memutuskan untuk turun. Di tengah perjalanan, Lev melihat sebuah sungai kecil dengan air yang jernih. Lev langsung mengajak Rauf untuk mampir.
"Rauf, mampir bentar, yuk. Cuci muka, segerin badan," ajak Lev.
Rauf setuju. Mereka duduk di pinggir sungai, menikmati air yang dingin dan jernih. Lev, yang biasanya heboh, kini lebih banyak diam. Ia sibuk merenungkan semua kejadian yang sudah ia alami.
"Rauf, aku merasa, di sini, aku menemukan ketenangan yang sesungguhnya. Jauh dari kebisingan kota, dekat dengan alam, dan dekat dengan Sang Pencipta," ucap Lev.
"Lev, kamu sudah mulai mendewasa," Rauf tersenyum.
Malam harinya, di penginapan, Lev dan Rauf duduk di teras, memandang bintang-bintang di langit Barabai yang cerah.
"Rauf, aku mau catat sesuatu," kata Lev.
"Catat apa lagi?" tanya Rauf.
"Catatan hari ini: Pendakian ke Tahura Mandiangin mengajarkanku tentang proses, bukan hanya hasil. Dan tentang menikmati setiap langkah perjalanan. Ternyata, keindahan itu tidak hanya ada di puncak, tapi juga di tengah perjalanan," Lev berkata, sambil menulis di buku catatannya.
Rauf tersenyum. "Baguslah kalau begitu. Berarti misi Kakek berhasil."
Lev mengangguk. Ia tahu, petualangan ini tidak hanya mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Tapi juga mengubah cara pandangnya terhadap dirinya sendiri. Babak kedua, ternyata juga penuh kejutan. Dan ia, sudah tidak sabar untuk melanjutkan babak-babak selanjutnya.
