Sore hari di Sampit menawarkan pemandangan yang tak terlupakan di Pelabuhan Mentaya. Matahari mulai condong ke barat, memancarkan warna jingga dan merah keemasan di langit, yang memantul indah di permukaan air sungai. Kapal-kapal kecil berjejer rapi, menunggu waktu untuk berlayar, sementara aktivitas warga di sekitar pelabuhan masih terasa ramai.
"Faruq, aku mau foto matahari terbenam di sini," kata Lev, dengan nada penuh semangat.
"Bagus. Jangan sampai jatuh lagi, ya," balas Faruq, sambil tersenyum.
Lev mengambil kameranya, ia mulai memotret. Ia memotret pemandangan sungai, kapal-kapal yang berjejer, dan juga siluet warga yang sedang beraktivitas. Ia merasa terinspirasi, ia ingin menangkap setiap detailnya, setiap makna yang tersembunyi di balik keindahan senja.
Saat ia sedang asyik memotret, matanya menangkap sosok seorang pemuda yang sedang duduk di pinggir pelabuhan, memegang sebuah buku. Pemuda itu terlihat begitu khusyuk, seolah sedang membaca sajak.
Lev merasa terpanggil. Ia ingin memotret pemuda itu, tapi ia ragu. Ia takut mengganggu kekhusyukan pemuda itu. Ia mencoba memotret dari jauh, tapi hasilnya tidak memuaskan.
"Kenapa, Lev?" tanya Faruq, yang melihat Lev ragu-ragu.
"Aku... aku ingin memotret pemuda itu, Faruq. Dia terlihat seperti sedang membaca sajak," jawab Lev.
"Kalau niatmu baik, kenapa tidak? Minta izin saja, Lev. Aku yakin pemuda itu akan mengizinkan," Faruq memberi saran.
Lev menghela napas, lalu memberanikan diri mendekati pemuda itu. Ia duduk di sampingnya, dengan jarak yang cukup jauh.
"Assalamualaikum, mas," sapa Lev, dengan suara pelan.
Pemuda itu menoleh, tersenyum. "Waalaikumsalam, mas."
"Maaf mengganggu, mas. Nama saya Lev. Saya sedang dalam perjalanan untuk mendokumentasikan kehidupan komunitas Muslim di Kalimantan. Mas... terlihat seperti sedang membaca sajak. Boleh saya minta izin untuk memotret mas?" Lev bertanya dengan hati-hati.
Pemuda itu tersenyum lagi. "boleh, tapi kalau niatmu baik, silakan."
Lev merasa terharu. Ia mengangkat kameranya, lalu memotret pemuda itu. Pemuda itu tetap khusyuk, seolah tidak ada kamera yang mengarah padanya. Ia merasa senang, ia mendapatkan foto yang sangat bermakna.
Setelah selesai, Lev berterima kasih kepada pemuda itu. Mereka berdua terlibat dalam percakapan ringan. Pemuda itu bercerita tentang kehidupannya, tentang pelabuhan ini, dan tentang sajak yang hilang.
"Sajak itu bukan hanya tentang kata-kata, mas. Tapi juga tentang perasaan. Sajak itu hilang, tapi perasaannya tidak. Sajak itu mengajarkan saya, bahwa kehilangan itu bukan akhir dari segalanya. Tapi awal dari sesuatu yang baru," kata pemuda itu.
Lev mengangguk, ia merasa mendapatkan pelajaran berharga. Ia merasa beruntung bisa bertemu dengan pemuda itu.
Setelah berpamitan dengan pemuda itu, Lev dan Faruq melanjutkan perjalanan. Di luar pelabuhan, mereka berjalan-jalan di sekitar halaman.
"Pemuda itu benar, Faruq. Kehilangan itu bukan akhir dari segalanya," kata Lev.
Faruq tersenyum. "Aku senang kamu bisa belajar sesuatu, Lev. Perjalanan ini memang bukan hanya tentang memotret, tapi juga tentang belajar."
Mereka berdua berjalan menuju sebuah warung makan di seberang pelabuhan. Lev merasa lapar, dan ia tak sabar ingin mencicipi makanan khas Sampit.
"Faruq, aku lapar sekali. Kira-kira makanan di sini ada yang halal, kan?" tanya Lev, dengan mata berbinar.
Faruq tertawa. "Tentu saja, Lev. Hampir semua makanan di sini halal."
Saat mereka memasuki warung makan, Lev melihat Faruq memesan makanan. Ia merasa bangga, ia mendapatkan sahabat yang sangat baik. Meskipun ia sering ceroboh, Faruq selalu sabar menghadapinya.
"Kamu mau pesan apa, Lev?" tanya Faruq.
"Aku mau pesan ikan bakar, Faruq. Seperti yang pemuda tadi makan," jawab Lev.
Sambil menunggu makanan, mereka berdua berbincang-bincang. Lev menceritakan pengalamannya memotret pemuda tadi. Faruq mendengarkan dengan seksama, sesekali menyela dengan pertanyaan.
"Lev, kamu tahu? Sajak yang hilang itu mengingatkan aku pada kenangan masa lalu. Kenangan yang hilang, tapi tidak pernah dilupakan," kata Faruq.
"Itu artinya, kenangan itu berharga," jawab Lev.
Mereka berdua tersenyum. Mereka merasa beruntung bisa memiliki satu sama lain. Perjalanan ini mungkin akan diwarnai kekonyolan, tapi persahabatan mereka yang kuat akan membuat segalanya terasa mudah. Ia tahu, dengan Faruq di sisinya, petualangan ini pasti akan penuh warna. Dan yang terpenting, ia akan membawa niat baik dan semangat untuk mendokumentasikan keindahan Borneo, satu foto dan satu tawa pada satu waktu.
