Di sebuah sudut tenang Jalan Melati, Kota Amuntai, Kalimantan Selatan, mentari pagi biasanya menyapa dengan malu-malu di balik kabut tipis yang menyelimuti rawa-rawa Hulu Sungai Utara. Kota ini, yang dikenal dengan sebutan "Kota Bertuah", mulai menggeliat dengan irama yang khas. Suara klakson bentor (becak motor) sayup-sayup terdengar dari kejauhan, bersahutan dengan kicauan burung di dahan pohon mangga yang rimbun. Namun, di kompleks perumahan dokter yang asri itu, suasana pagi bukan hanya soal pemandangan, melainkan soal benturan dua aroma yang sangat kontras yang seolah membelah udara menjadi dua kubu.
Di rumah nomor 12, kediaman dr. Eva Nurhaliza, seorang dokter spesialis gizi yang dikenal sangat disiplin, pagi hari adalah sebuah ritual suci untuk kesehatan. Dr. Eva, dengan jilbab instan berwarna pastel yang selalu tampak licin tanpa kerutan, sudah sibuk di dapur sejak sebelum azan Subuh berkumandang. Baginya, dapur adalah laboratorium pengabdian kepada Allah. "Tubuh adalah amanah," begitu prinsip yang selalu ia tanamkan pada suaminya, Pak Firman, dan kedua anak mereka.
Pagi itu, dr. Eva sedang mengoperasikan slow juicer miliknya yang suaranya nyaris tak terdengar. Ia sedang mengekstraksi sari pati bayam organik, apel hijau, dan sejumput jahe merah untuk membuat green smoothie andalannya. Tidak ada gula pasir di rumah ini; hanya ada madu hutan asli Amuntai sebagai pemanis. Di meja makan, sudah tersaji mangkuk-merekah berisi overnight oats dengan taburan biji chia dan irisan kurma. Segala sesuatunya tampak sangat "hijau", sangat "organik", dan—bagi orang awam—mungkin tampak sangat "hambar".
"Mas Firman, tolong panggilkan anak-anak. Pastikan mereka menghabiskan air lemon hangatnya dulu sebelum menyentuh sarapan utama," ujar dr. Eva dengan suara lembut namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan. Pak Firman, seorang ASN di kantor bupati yang memiliki perut sedikit buncit meski sudah dipaksa diet, hanya bisa mengangguk pasrah sambil membayangkan betapa nikmatnya jika di depannya ada sepiring nasi kuning bungkus daun pisang yang banyak dijual di Pasar Alabio.
Namun, ketenangan laboratorium nutrisi dr. Eva seketika terganggu ketika ia membuka jendela dapur untuk sirkulasi udara. Dari rumah nomor 13, tepat di sebelah kanan, aroma yang benar-benar berbeda menyerbu masuk tanpa permisi. Aroma itu kuat, gurih, dan sangat menggoda iman: aroma daging ayam yang digoreng dengan tepung bumbu instan, bertemu dengan panasnya minyak kelapa sawit.
Itu adalah wilayah kekuasaan dr. Dina Anjani.
Di rumah nomor 13, suasana pagi jauh lebih riuh, hampir seperti suasana di dalam kabin pesawat yang mengalami turbulensi. Dr. Dina, dokter spesialis anak yang terkenal sangat ramah dan ekspresif, sedang berdiri di depan kompor dengan daster batik kesayangannya. Di satu tangan ia memegang sodet, dan di tangan lainnya ia memegang ponsel, sedang memesan ojek online untuk mengantar pesanan tambahan: martabak telur ekstra daging.
"Cepat, Kakak! Adik! Pakai sepatunya! Ini nugget-nya sudah matang, sosisnya juga sudah digoreng. Jangan lupa bawa susu kotak cokelat di meja!" teriak dr. Dina sambil tertawa kecil melihat tingkah anak-anaknya yang berebutan saus sambal sachet.
Bagi dr. Dina, hidup sudah cukup melelahkan dengan ratusan pasien anak di rumah sakit yang menangis setiap hari. Maka, di rumah, ia memilih jalur "kebahagiaan instan". Ia tahu betul nutrisi itu penting, tapi baginya, keceriaan anak-anak saat menyantap burger rumahan atau mi instan di hari Minggu adalah boster energi yang tak tergantikan. "Yang penting bismillah, semua jadi berkah," adalah moto andalannya untuk menenangkan nurani kedokterannya yang sesekali bergejolak.
Dr. Eva yang mencium aroma gorengan itu hanya bisa menghela napas panjang. Ia berjalan ke arah pagar tanaman pucuk merah yang membatasi halaman mereka. Kebetulan, dr. Dina juga keluar rumah untuk mengambil kiriman paket makanan.
"Assalamu’alaikum, Dina. Wah, pagi-pagi aromanya sudah 'meriah' sekali ya?" sapa dr. Eva dengan senyum sopan, meski matanya melirik pada kotak plastik berisi ayam goreng tepung di tangan Dina.
Dina menoleh dan membalas dengan tawa renyah khasnya. "Wa’alaikumussalam, Eva! Eh, si Ahli Gizi kita sudah 'patroli' pagi. Iya nih, anak-anak kalau nggak ketemu tepung bumbu, energinya nggak keluar buat sekolah. Kalau kamu gimana? Masih setia dengan cairan hijau itu?"
Eva tersenyum tipis, "Ini namanya nutrisi seluler, Din. Bagus untuk regenerasi kulit juga. Oh ya, kalau boleh saran, minyak gorengnya jangan dipakai berulang ya, apalagi sampai warnanya berubah jadi cokelat gelap. Oksidasinya tidak bagus untuk pembuluh darah anak-anak."
Dina hanya nyengir sambil mengangkat bahu. "Siap, Bu Dokter Eva! Tapi ya itulah, kadang yang 'oksidasi' itu yang paling gurih di lidah. Lagipula, kita kan hidup di Amuntai, Va. Mana tahan lihat Itik Panggang tanpa kulit yang berlemak itu?"
Percakapan di pagar itu selalu berakhir sama: Eva yang prihatin dan Dina yang santai. Namun, di balik perbedaan mencolok soal isi piring, ada rasa saling menghargai yang kuat di antara mereka. Eva sering mengirimkan brokoli hasil kebunnya yang segar ke rumah Dina, dan Dina—meski tahu Eva tidak akan memakannya—sering mengirimkan pizza jika ada promo beli satu gratis satu, yang akhirnya berakhir menjadi rebutan diam-diam antara Pak Firman dan anak-anaknya saat dr. Eva sedang jaga malam.
Di Jalan Melati itu, pertempuran antara gaya hidup sehat dan kenikmatan lidah baru saja dimulai. Sebuah tembok pagar mungkin memisahkan dapur mereka, namun ukhuwah (persaudaraan) mereka tetap terjalin dalam bumbu-bumbu kehidupan yang unik di tanah Kalimantan. Pagi itu, Amuntai menyaksikan dua cara berbeda dalam mencintai keluarga, yang satu lewat disiplin nutrisi, yang satu lewat kehangatan rasa, namun keduanya bermuara pada doa yang sama di setiap sujud mereka.
Tips: Untuk Anda yang ingin mengikuti jejak dr. Eva, pastikan Anda mengunjungi Kemenkes - Piring Makanku untuk panduan nutrisi seimbang. Sedangkan bagi Anda yang sibuk seperti dr. Dina, pastikan tetap mengimbangi makanan instan dengan aktivitas fisik yang cukup sesuai saran WHO.
