Setelah menapaki Tahura Mandiangin dan merenungkan banyak hal, Lev dan Rauf kembali ke penginapan. Malam itu, mereka memutuskan untuk mencari makan malam di luar. Mereka memilih sebuah warung makan sederhana di pinggir jalan yang terkenal dengan lauk khasnya: sambal goreng bilungka (timun) yang pedas namun segar.
"Rauf, ini nih. Hidden gem. Makanan enak, harga murah, porsi banyak. Cocok buat kita," bisik Lev.
Mereka memesan nasi hangat dengan sambal bilungka, ikan asin goreng, dan tumis kangkung. Sambil menunggu pesanan, Lev mengamati sekeliling. Di meja sebelah, duduk seorang kakek tua yang sedang makan sendirian. Wajahnya penuh keriput, tapi matanya memancarkan kehangatan.
"Rauf, aku mau ngobrol sama Kakek itu. Kayaknya seru," bisik Lev.
Rauf, yang sudah hafal tingkah Lev, hanya menghela napas. "Terserah, Lev. Tapi jangan bikin keributan, ya."
Lev menghampiri Kakek itu, lalu duduk di seberangnya. "Permisi, Kek. Boleh gabung?" tanyanya ramah.
Kakek itu tersenyum. "Silakan, Nak. Duduk saja."
Lev memperkenalkan diri, dan Kakek itu memperkenalkan diri sebagai Pak Sani. Ia seorang pensiunan petani yang kini tinggal sendirian.
"Pak Sani, kok makan sendirian? Anak-anaknya ke mana?" tanya Lev.
"Anak-anak sudah besar semua, Nak. Sudah punya keluarga masing-masing. Biarin aja mereka, biar mandiri," jawab Pak Sani.
Lev merasa iba. Ia teringat pada Kakeknya di Banjarmasin. "Kakek saya juga suka begitu. Suka ngomong kalau sudah tua, tapi semangatnya kayak anak muda."
"Memang begitu, Nak. Kalau sudah tua, jangan sampai kalah sama yang muda. Nanti enggak bisa ikutan gosip di warung kopi," Pak Sani terkekeh.
Lev dan Rauf ikut tertawa. Obrolan mereka berlanjut ke berbagai topik. Dari cerita tentang Barabai di masa lalu, hingga cerita tentang anak muda zaman sekarang yang terlalu sibuk dengan gawai.
"Dulu, Nak. Kalau mau ajak kenalan sama cewek, ya datangi rumahnya. Bukan chat di media sosial. Kan lebih seru, dapat makanan gratis," kata Pak Sani, sambil tertawa.
"Kalau sekarang, Pak. Kayaknya lebih gampang. Tinggal kirim pesan, beres," jawab Lev.
"Ya, kalau beres. Kalau enggak dibalas? Kan sakit hati. Dulu, kalau enggak dibalas, ya langsung tancap gas ke rumahnya. Siapa tahu bapaknya galak, kan jadi tantangan," Pak Sani melanjutkan, makin heboh.
Lev dan Rauf tertawa terbahak-bahak. Pak Sani, dengan segala kelucuannya, berhasil membuat mereka terhibur.
"Pak Sani, kok tahu banyak cerita lucu?" tanya Rauf.
"Hidup ini memang harus dibawa santai, Nak. Jangan terlalu serius. Nanti cepat tua. Kayak saya ini, sudah tua, tapi masih suka ketawa," jawab Pak Sani.
Setelah makan malam, mereka kembali ke penginapan. Lev merasa, ia sudah mendapatkan pelajaran berharga lagi. Bahwa humor, bisa datang dari siapa saja. Bahkan dari seorang kakek tua yang makan sendirian di warung makan sederhana.
"Rauf, aku mau catat sesuatu," kata Lev.
"Catat apa lagi?" tanya Rauf.
"Catatan malam ini: Jangan pernah meremehkan humor orang tua. Mereka punya banyak stok cerita lucu, yang bisa bikin kita ketawa sampai sakit perut. Dan satu lagi, jangan terlalu serius dalam hidup. Nanti cepat tua," Lev berkata, sambil menulis di buku catatannya.
Rauf hanya tersenyum. "Baguslah, Lev. Berarti kamu sudah mulai mendewasa."
Lev mengangguk. Ia tahu, petualangan ini tidak hanya mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Tapi juga mengubah cara pandangnya terhadap dirinya sendiri. Babak kedua, ternyata juga penuh kejutan. Dan ia, sudah tidak sabar untuk melanjutkan babak-babak selanjutnya.
