Pangkalan ekspedisi di Greenland adalah sebuah pemukiman darurat yang terdiri dari tenda-tenda tahan angin, barak prefabrikasi, dan peralatan penelitian yang memenuhi setiap sudut. Angin dingin menusuk dari segala arah, membawa butiran es yang terasa seperti ribuan jarum. Di tengah kekacauan yang terorganisir itu, Eva merasa canggung. Dia terbiasa dengan kesendirian di alam liar Alaska, di mana ia adalah penguasa, bukan peserta. Di sini, ia hanyalah seorang ahli botani yang tampak terlalu muda dan terlalu sempurna untuk berada di tempat seperti ini.
Meskipun usianya jauh melampaui siapapun di sana, ia tetap terlihat seperti awal tiga puluhan. Tatapan ingin tahu dari para peserta lain, sebagian besar ilmuwan dan petualang muda yang bersemangat, membuatnya tidak nyaman. Mereka bertanya tentang pengalamannya di Alaska, dan ia selalu memberikan jawaban samar yang telah ia latih selama berabad-abad. Ia berbicara tentang salju, tentang tanaman tundra yang unik, tentang keindahan alam yang tak tersentuh. Tetapi di dalam hatinya, ia hanya merasakan kerinduan akan keheningan kabinnya.
Di ruang makan, Eva duduk sendirian di sudut, menyesap kopi yang terasa seperti air kotor. Ia mengamati para peserta lain. Ada seorang ahli geologi dari Norwegia yang berbicara tentang formasi es, seorang fotografer alam liar dari Jepang yang sibuk mengedit fotonya, dan sekelompok mahasiswa yang tertawa riang, tidak peduli dengan dingin yang membekukan. Semua orang di sini memiliki tujuan, semangat, dan harapan yang berbeda. Eva, sebaliknya, datang dengan kekosongan. Ia datang karena dorongan hati yang tak bisa ia jelaskan, sebuah panggilan aneh yang membawanya jauh dari rumah.
Tiba-tiba, pintu barak terbuka, dan seorang pria bertubuh kurus dengan wajah serius masuk. Rambutnya hitam dan disisir rapi, kontras dengan jaket tebal yang ia kenakan. Tatapan matanya yang kelabu tampak tua, meskipun wajahnya terlihat muda. Ia membawa sebuah koper kecil yang diikat dengan tali, dan di tangannya ada sebuah ukiran kayu kecil berbentuk burung elang yang ia mainkan dengan gugup. Eva merasakan getaran aneh, sebuah sensasi yang membangkitkan ingatan kuno. Ia merasakan energi yang sama dengannya, tetapi ia menganggapnya mustahil. Ia meneguhkan hatinya, meyakinkan dirinya bahwa ini hanya kebetulan.
Pria itu mencari kursi yang kosong, dan matanya bertemu dengan mata Eva. Untuk sesaat, waktu terasa berhenti. Mereka saling menatap, masing-masing melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana: sebuah keabadian di mata yang muda, sebuah kearifan yang tak tertandingi di dunia manusia. Pria itu sedikit terhuyung, seolah-olah tersambar petir. Ia memalingkan wajahnya dan duduk di meja kosong di seberang ruangan.
Di belahan ruangan yang lain, Andriy merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia tidak salah. Ada aura yang sama, energi yang sama, mata yang sama tua dan lelahnya dengan matanya sendiri. Ia merasa seperti menemukan cermin setelah berabad-abad hanya melihat bayangannya sendiri di air. Ia telah yakin ia adalah elf terakhir, satu-satunya yang tersisa. Tetapi tatapan mata itu menggoyahkan keyakinan yang ia pegang selama ini.
Andriy berusaha menenangkan dirinya. Ia mengamati wanita itu dari kejauhan. Wajahnya cantik, tetapi tatapan matanya mengungkapkan kesedihan yang mendalam, kesedihan yang ia kenal dengan sangat baik. Ia melihat bagaimana wanita itu memegang cangkir kopinya, bagaimana ia mengamati orang-orang di sekitarnya dengan jarak yang tak terlihat. Gerakan itu, sentuhan itu, semuanya familiar.
Setelah makan malam, Andriy memberanikan diri. Ia mengambil napas dalam-dalam, mengambil ukiran elangnya, dan berjalan menuju meja Eva. Eva melihatnya datang, dan hatinya terasa seperti dihantam ombak. Ia siap untuk mengabaikannya, untuk bersikap dingin, untuk kembali ke kesendiriannya. Tetapi ia tidak bisa.
"Permisi," kata Andriy, suaranya pelan dan bergetar. "Apakah saya bisa duduk di sini?"
Eva mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Andriy duduk di kursi kosong di depannya, meletakkan ukiran elang di meja.
"Saya Andriy," katanya, memperkenalkan diri. "Saya seorang pengukir kayu.
"Eva," jawab Eva singkat.
"Saya melihat Anda," kata Andriy, tanpa basa-basi. "Saya tahu siapa Anda."
Eva mengerutkan kening. "Saya tidak mengerti."
"Anda mengerti," jawab Andriy, matanya menatap mata Eva lekat-lekat. "Mata Anda... mata Anda tidak bisa menipu."
Eva terdiam, tenggorokannya tercekat. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Setelah berabad-abad, setelah semua kehati-hatian yang ia praktikkan, ia akhirnya bertemu dengan seseorang yang mengetahui rahasianya.
Andriy tersenyum kecil, sebuah senyum yang penuh dengan kelegaan dan kesedihan. "Saya juga seperti Anda," katanya. "Saya pikir saya adalah yang terakhir."
Sebuah kelegaan yang luar biasa, dingin, dan hangat sekaligus, membanjiri hati Eva. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak sendirian. Setelah berabad-abad dalam kesepian, setelah ratusan tahun menyaksikan dunia berubah, ia akhirnya menemukan cerminnya. Di pangkalan ekspedisi yang penuh dengan manusia yang bersemangat, dua elf yang mengira mereka sendirian akhirnya bertemu. Di tengah angin dingin Greenland, sebuah persahabatan yang abadi baru saja dimulai.
