Setelah beberapa minggu yang penuh makna di Seattle, Lev dan Sindy melanjutkan perjalanan ke selatan, menuju Los Angeles. Kota ini menawarkan pemandangan yang sama sekali berbeda. Tidak ada lagi pohon cemara yang menjulang tinggi, tidak ada lagi udara yang sejuk menusuk tulang. Yang ada hanyalah pohon-pohon palem, teriknya matahari California, dan hamparan bangunan yang tak berujung.
Sindy, yang dibesarkan di Anchorage, merasa seperti pulang kampung ke daerah tropis. Sedangkan Lev, yang berasal dari Banjarmasin, justru merasa seperti sedang berkunjung ke tempat yang asing. Ia melihat berbagai macam orang dengan pakaian yang minim, tato di mana-mana, dan gaya hidup yang sangat berbeda dari apa yang ia tahu.
Mereka menyewa kamar di sebuah motel sederhana di dekat Hollywood. Sindy ingin sekali mengunjungi Hollywood Walk of Fame, tempat di mana nama-nama bintang film terukir di trotoar. Lev, yang tidak terlalu mengikuti dunia perfilman, hanya mengiyakan.
“Lev, di sini tuh pusatnya industri film dunia! Siapa tahu kita ketemu bintang film!” kata Sindy, dengan semangat menggebu.
Lev hanya tersenyum. “Boleh juga. Tapi jangan lupa salat, ya.”
Sindy tertawa. “Tentu saja!”
Mereka berjalan di sepanjang Hollywood Boulevard. Ribuan orang berlalu lalang, dengan berbagai macam gaya dan bahasa. Sindy sibuk berfoto dengan berbagai macam bintang yang ia kenal, sementara Lev hanya mengamati. Ia melihat bagaimana dunia hiburan itu bisa sangat gemerlap, tetapi di baliknya, ia juga melihat banyak hal yang menyedihkan.
Ia melihat banyak tunawisma yang tidur di sepanjang jalan. Ia melihat banyak orang yang terlihat kehilangan arah. Ia melihat banyak orang yang terlihat kesepian, meskipun dikelilingi oleh keramaian. Lev merasa iba. Ia teringat kembali pada pesan ayahnya. Menebar rahmat.
“Sindy, nanti kita beli makan, ya. Aku mau kasih ke mereka,” kata Lev, sambil menunjuk para tunawisma.
Sindy mengangguk. “Ide bagus, Lev.”
Mereka membeli beberapa bungkus makanan dan memberikannya kepada para tunawisma. Ada yang menatap mereka dengan curiga, tetapi ada juga yang menerima dengan senyum tulus. Lev merasa hangat. Ia tahu, kebaikan tidak akan pernah salah.
Setelah dari Hollywood, mereka berjalan-jalan di sepanjang pantai Venice. Pasir putih, deburan ombak, dan keramaian orang-orang yang berjemur membuat Lev merasa seperti berada di surga. Ia mengambil beberapa foto untuk dikirimkan kepada keluarganya di Banjarmasin.
“Indah banget, ya?” kata Sindy.
“Iya. Tapi masih lebih indah pantai di Banjarmasin,” kata Lev, sambil bercanda.
Sindy mencubit lengan Lev. “Cih… gombal.”
Mereka duduk di sebuah bangku, menikmati pemandangan. Lev melihat bagaimana Los Angeles adalah kota yang penuh dengan kontras. Di satu sisi, ia melihat gemerlapnya Hollywood, di sisi lain, ia melihat kemiskinan dan kesengsaraan.
“Sindy, kota ini aneh, ya?” kata Lev.
“Aneh gimana?”
“Ramai, tapi sepi. Senang, tapi sedih,” jelas Lev.
Sindy mengangguk. “Itu karena di Los Angeles, banyak orang yang datang untuk mencari mimpi. Ada yang berhasil, ada yang tidak. Tapi yang tidak berhasil, bukan berarti mereka tidak punya harapan. Mereka hanya butuh sedikit bantuan.”
Lev mengangguk. Ia tahu, Sindy benar. Los Angeles bukan hanya tentang Hollywood dan kemewahan. Los Angeles adalah tentang harapan, tentang mimpi, dan tentang perjuangan.
Di malam hari, mereka kembali ke motel. Lev membuka Al-Qur'an dan membaca beberapa ayat. Ia merasa tenang. Di tengah kebisingan kota, ia menemukan kedamaian dalam dirinya. Sindy, yang melihat Lev sedang membaca, tidak mengganggu. Ia tahu, itu adalah momen sakral bagi Lev.
Keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan. Mereka tahu, Los Angeles masih punya banyak cerita yang harus mereka temukan. Mereka siap untuk petualangan selanjutnya, dengan hati yang terbuka dan keinginan untuk menebar rahmat di setiap sudut kota.
