Sidang Isbat telah diketuk. Malam ini adalah malam pertama shalat Tarawih di tahun 2026. Masjid Al-Ikhlas yang terletak di jantung kompleks sudah bersolek dengan lampu-lampu hias baru. Hifni, dengan baju koko putih yang diseterika licin oleh Rina—khas kerapian seorang PNS—tampak sibuk merapikan pecinya di depan cermin.
"Bun, mana si Khalisah? Kita harus berangkat lebih awal supaya dapat barisan depan. Ini malam pertama, biasanya jamaahnya membludak sampai ke parkiran," ujar Hifni sambil sesekali melirik jam tangannya yang presisi.
Rina muncul dari arah dapur, masih mengenakan mukena yang tersampir di bahu. "Itu dia, Yah. Khalisah sedang 'negosiasi' dengan Si Belang. Katanya dia takut Si Belang kesepian kalau ditinggal Tarawih."
Hifni menghela napas. Di teras, Khalisah yang kini sudah berusia 6 tahun itu sedang berlutut di depan Si Belang. "Belang, kamu di rumah saja ya. Jaga rumah dari tikus jahat. Aku mau ke masjid, mau lapor sama Allah kalau aku sudah mulai puasa."
Si Belang hanya mengerjapkan mata, ekornya bergoyang malas. Namun, yang tidak disadari Hifni adalah Khalisah secara diam-diam memasukkan mainan tikus-tikusan milik Si Belang ke dalam saku kecil di balik mukenanya. Mainan itu memiliki lonceng yang bunyinya sangat nyaring.
Di depan gerbang, mereka berpapasan dengan keluarga drg. Dina. Dina tampak anggun dengan mukena senada dengan Naura. Suami Dina, drg. Gunawan, membawa tas kecil berisi perlengkapan shalat.
"Wah, Pak Hifni, kompak sekali!" sapa Gunawan.
"Naura dari tadi sudah semangat sekali, katanya mau balapan bacaan surat pendek sama Khalisah."
Naura menyenggol lengan Khalisah. "Aku sudah hafal sampai Al-Humazah, lho!"
"Aku juga!" balas Khalisah tak mau kalah. "Ayo cepat, nanti tempatnya diambil orang!"
Dua keluarga Salsabilla itu berjalan bersama menuju masjid, menciptakan pemandangan hangat di bawah lampu jalan kompleks. Sesampainya di masjid, jamaah perempuan dan laki-laki berpisah. Hifni dan Gunawan masuk ke shaf laki-laki, sementara Rina, Dina, dan kedua anak itu menuju area perempuan.
Shalat Isya berjalan khidmat. Namun, petaka komedi dimulai saat jeda menuju shalat Tarawih. Khalisah yang mulai merasa bosan karena ceramah ustadz agak panjang, mulai merogoh-rogoh sakunya. Tanpa sengaja, lonceng di mainan tikus itu berbunyi.
Cring... cring...
Naura menoleh, matanya berbinar. "Itu mainan Si Belang?" bisiknya.
"Sstt!" Rina memberikan kode diam.
Namun, saat sujud pertama shalat Tarawih dimulai, insiden yang ditakuti Hifni terjadi. Khalisah yang bergerak turun untuk sujud membuat mainan itu jatuh dari saku mukenanya dan menggelinding ke arah shaf depan. Setiap kali ada jamaah yang bergerak atau tertiup angin dari kipas angin besar di masjid, lonceng itu berbunyi tipis.
Cring... cring... cring...
Beberapa jamaah di sekitar mereka mulai menahan tawa, sementara yang lain tampak bingung mencari sumber suara. Hifni, yang berada di shaf laki-laki (dibatasi tirai tipis), mendengar suara yang sangat akrab di telinganya. Itu adalah suara mainan kucing yang ia beli di toko hewan bulan lalu.
Ya Allah, Khalisah... batin Hifni sambil menahan malu. Ia merasa seolah seluruh warga kantor pemerintahannya hadir di sana dan melihat kegagalannya menertibkan "atribut kucing" di rumah Allah.
Setelah salam, Rina dengan sigap mengamankan mainan tersebut. Dina hanya bisa menutup mulut menahan tawa sambil berbisik, "Mbak Rina, sepertinya kita butuh standard operating procedure (SOP) untuk barang bawaan anak-anak ke masjid."
"Betul, Dina. This is an emergency situation," jawab Rina sambil mengelus dada.
Keluar dari masjid, Hifni menghampiri mereka dengan muka yang sedikit memerah. "Khalisah, kenapa mainan Si Belang dibawa ke masjid?"
"Kasihan, Yah. Tadi dia nempel terus di mukena Khalisah. Khalisah pikir dia mau ikut ibadah," jawab Khalisah dengan wajah polos tanpa dosa.
Dina menengahi, "Sudah, Pak Hifni. Namanya juga anak-anak. Tapi besok-besok, mungkin mainannya kita titipkan ke Snowy dan Si Belang saja di rumah ya?"
"Iya, Tante Dokter," jawab Khalisah dan Naura kompak.
Malam itu ditutup dengan tawa kecil saat mereka berjalan pulang. Meski ada insiden lonceng, semangat Ramadhan tetap terasa kuat. Di kejauhan, Si Belang tampak duduk di atas pagar rumah Hifni, menyambut mereka dengan ngeongan seolah bertanya bagaimana hasil "patroli" loncengnya di masjid tadi.
Hifni hanya bisa menggeleng. Sebagai PNS, ia tahu bahwa setiap masalah butuh solusi. Dan solusinya malam itu adalah: memastikan saku mukena Khalisah dijahit mati sebelum Tarawih malam kedua.
Wawasan Tambahan untuk Pembaca:
Adab Masjid: Melatih anak ke masjid sejak dini sangat baik, namun orang tua perlu memberikan pengertian tentang ketenangan. Anda bisa membaca panduan lebih lanjut di Kementerian Agama RI mengenai pengelolaan masjid ramah anak.
Tips Kucing: Kucing adalah hewan yang sangat sensitif terhadap suara lonceng. Jika Anda ingin memberikan mainan pada kucing, pastikan ukurannya aman agar tidak tertelan. Panduan perawatan kucing lokal bisa dilihat di [Proyek Kucing Jalanan](https://www.pedulikan kucing.com).
