Perjalanan Lev dan Sindy di Los Angeles tidak hanya diisi dengan kilauan lampu Hollywood. Mereka memilih untuk melihat kota ini dari sisi yang berbeda, dari sudut pandang yang sering terabaikan. Lev, yang hatinya mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain, merasa terpanggil untuk menyentuh kehidupan para tunawisma yang begitu banyak ditemui.
“Sindy, kita harus lakukan sesuatu,” kata Lev saat mereka berjalan di sebuah taman kota yang dikelilingi oleh gedung-gedung pencakar langit, tetapi juga diisi oleh tenda-tenda darurat.
“Aku tahu. Tapi kita harus gimana? Kita kan nggak punya banyak uang,” kata Sindy, dengan nada khawatir.
“Kita bisa bantu mereka dengan cara lain. Tidak harus dengan uang,” jawab Lev. “Kita bisa bantu mereka dengan makanan. Kita bisa masak nasi kuning.”
Sindy tersenyum. “Ide yang bagus! Pasti mereka belum pernah makan nasi kuning.”
Dengan sisa uang yang mereka miliki, mereka membeli bahan-bahan masakan. Lev memasak dengan penuh cinta, sementara Sindy membantunya dengan sukarela. Aroma rempah-rempah khas Banjarmasin memenuhi dapur motel mereka, membuat para penghuni motel lain penasaran.
Saat mereka membawa nasi kuning itu ke taman, para tunawisma menyambut mereka dengan senyum yang tulus. Mereka tidak hanya memberikan nasi kuning, tetapi juga mendengarkan cerita mereka. Lev dan Sindy duduk di tengah-tengah mereka, mendengarkan kisah hidup mereka yang penuh dengan kepahitan, tetapi juga penuh dengan harapan.
“Kami tidak tahu kenapa kami di sini. Kami hanya mencoba untuk bertahan hidup,” kata seorang pria tua.
“Kami tahu rasanya. Tapi jangan menyerah, ya,” kata Sindy, dengan mata berkaca-kaca.
“Ya. Jangan menyerah. Tuhan tidak akan meninggalkan kalian,” kata Lev.
Para tunawisma itu tersenyum. Mereka merasa bahwa mereka tidak sendiri. Mereka merasa bahwa masih ada orang yang peduli dengan mereka.
Setelah dari taman, mereka berjalan di sepanjang jalanan Beverly Hills. Di sini, pemandangannya sangat berbeda. Mobil-mobil mewah berlalu lalang, toko-toko butik menjual barang-barang mahal, dan orang-orang berpakaian dengan gaya yang sangat modis. Lev merasa seperti berada di planet lain.
“Lihat, Lev! Tas itu harganya mungkin bisa buat kita jalan-jalan keliling Amerika,” kata Sindy, takjub.
Lev hanya tersenyum. “Iya. Tapi tas itu tidak bisa bikin hati kita senang.”
Sindy mengangguk. Ia tahu, Lev benar. Di Beverly Hills, mereka melihat kemewahan yang tak terhingga, tetapi mereka tidak merasakan kehangatan yang mereka rasakan di taman.
Saat mereka sedang berjalan, mereka melihat sebuah masjid yang tersembunyi di balik bangunan-bangunan mewah. Masjid itu terlihat sederhana, tetapi bersih dan tenang. Lev merasa terpanggil untuk masuk.
“Sindy, tunggu di sini ya. Aku mau salat sebentar,” kata Lev.
Sindy mengangguk. “Oke. Tapi jangan lama-lama. Nanti aku kangen.”
Lev tersenyum, lalu masuk ke dalam masjid. Di dalam, ia bertemu dengan beberapa orang yang juga sedang salat. Ada yang dari Timur Tengah, ada yang dari Asia Selatan, dan ada juga yang kulit putih. Mereka menyambut Lev dengan ramah, dan ia merasa seperti berada di rumah.
Setelah salat, Lev bercerita tentang perjalanannya dengan Sindy. Mereka terinspirasi dengan cerita Lev, dan mereka mendoakan agar perjalanan mereka berjalan lancar.
“Nak, di sini banyak orang yang kaya, tapi hatinya miskin. Kamu datang ke sini, membawa kebaikan. Itu yang paling penting,” kata seorang pria paruh baya dari Arab.
Lev mengangguk. Ia tahu, Los Angeles bukan hanya tentang Hollywood dan kemewahan. Los Angeles adalah tentang kontras, tentang perjuangan, dan tentang kebaikan. Dan ia bersyukur, ia bisa melihat kedua sisi itu.
Malam itu, di kamar motel mereka, Lev dan Sindy kembali berdiskusi.
“Sindy, aku jadi berpikir. Kenapa di Beverly Hills ada orang yang bisa kaya banget, tapi di taman ada orang yang miskin banget?” tanya Lev.
“Itulah hidup, Lev. Tidak ada yang sempurna,” jawab Sindy.
“Tapi kita bisa bantu mereka, kan? Dengan cara kita?”
“Tentu saja. Dan itu yang kita lakukan. Kamu yang paling jago bikin nasi kuning enak di seluruh Amerika, dan aku jago bikin orang ketawa. Kita adalah tim yang sempurna,” kata Sindy.
Lev tertawa. Ia tahu, Sindy benar. Mereka adalah tim. Dan petualangan mereka masih panjang. Mereka siap untuk menghadapi tantangan selanjutnya, dengan bekal persahabatan, toleransi, dan keimanan yang kuat.
