Zainab mendesah. "Bukan, itu pena kaligrafi. Sekarang fokus, Mun. Kita harus segera mencari tahu siapa pemilik buku ini."
"Aku sudah tahu siapa pemiliknya," jawab Maimunah, matanya berbinar. "Penyihir baik hati yang tersesat di Moskow."
Zainab menatapnya dengan pandangan kau-ini-seriusan-atau-bagaimana. "Mun, jangan ngarang. Ada namanya di halaman pertama."
Maimunah membuka kembali buku itu, melihat tulisan tangan yang indah tadi. Untukmu yang tersesat di kota ini, semoga kau menemukan jalan pulang. - Alistair. Ia mengerutkan keningnya. "Alistair? Nama orang Rusia kah?"
"Sepertinya bukan," timpal Zainab. "Alistair biasanya nama Inggris. Tapi tidak menutup kemungkinan dia orang Rusia yang suka nama asing."
Mereka berdua berjalan kembali ke kafe tempat mereka tadi. Kali ini, Maimunah berjalan dengan lebih hati-hati, takut terpeleset lagi. Ia tidak ingin mengulang drama penguin-panik di depan Zainab. Namun, saat mereka sampai di depan kafe, seorang pria tinggi dengan mata kelabu yang tajam berdiri di depan pintu. Pria itu menatap tajam ke arah Maimunah, membuat jantung Maimunah berdebar kencang. Jangan-jangan dia itu mata-mata KGB yang lagi nyariin aku, pikir Maimunah.
Zainab menyenggol lengan Maimunah. "Ada apa, Mun?"
"Itu, Zai," Maimunah berbisik, "pria itu. Dia kayak lagi ngawasin kita."
Zainab mengernyit. "Mungkin dia cuma lagi nungguin seseorang."
Pria bermata kelabu itu berjalan mendekat ke arah mereka.
"Excuse me," sapanya dengan aksen Rusia yang kental, "apakah kalian menemukan sebuah buku di sekitar sini?"
Maimunah terdiam. Jantungnya berdebar makin kencang. Ia menatap Zainab, lalu buku kecil di tangannya. Zainab mengangguk, memberi isyarat agar Maimunah menjawab.
"Uh, iya," jawab Maimunah, gugup. "Buku ini maksudnya?"
Maimunah menunjukkan buku kecil itu. Pria bermata kelabu itu tersenyum tipis. Senyumnya membuat wajahnya yang tadinya kaku menjadi lebih ramah.
"Terima kasih," kata pria itu. Ia hendak mengambil buku itu, tetapi Maimunah menahannya.
"Tunggu dulu," Maimunah berkata, "kamu Alistair?"
Pria itu mengernyit. "Bukan. Nama saya Sergei."
Maimunah dan Zainab saling bertukar pandang. "Lho, tapi di sini tulisannya Alistair," kata Maimunah, menunjuk halaman pertama buku itu.
Sergei tersenyum lagi. "Alistair itu ayah saya. Beliau meninggal beberapa bulan lalu. Buku ini adalah buku harian beliau."
Maimunah merasa bersalah. "Oh, maafkan saya. Saya tidak tahu."
Sergei menggeleng. "Tidak apa-apa. Saya malah berterima kasih karena kalian telah menemukannya. Saya sudah mencarinya ke mana-mana."
"Apa yang terjadi dengan ayahmu?" tanya Zainab, nadanya terdengar simpatik.
Sergei mendesah. "Beliau meninggal karena penyakit tua. Sebelum meninggal, beliau ingin saya memberikan buku ini kepada seseorang yang akan menghargai isinya."
"Kenapa harus orang lain?" tanya Maimunah.
Sergei terdiam sejenak. "Ayah saya seorang penulis. Beliau selalu bilang, karya seorang penulis akan hidup abadi jika ada yang mau membacanya."
Maimunah terharu. "Jadi, kamu mau buku ini kami baca?"
Sergei mengangguk. "Ya. Ayah saya ingin kalian membacanya. Beliau merasa buku ini adalah sebuah map untuk menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada harta."
Maimunah menatap buku itu. Map? Apa maksudnya?
Sergei melihat ekspresi bingung Maimunah. Ia tersenyum. "Ayah saya seorang arsitek. Beliau suka menggambar sketsa bangunan-bangunan kuno. Dan di setiap sketsanya, ada petunjuk yang tersembunyi."
Maimunah menatap Zainab. Zainab mengangguk, seolah mengatakan, ini-menarik-juga.
"Kenapa harus kami?" tanya Zainab, suaranya terdengar penasaran.
Sergei mengangkat bahu. "Ayah saya tidak bilang. Tapi beliau meninggalkan pesan untuk saya. 'Jika ada dua gadis yang menemukan buku ini, berikanlah kepada mereka. Salah satunya adalah gadis yang melihat dunia sebagai komedi, dan yang satunya lagi adalah gadis yang melihat dunia sebagai drama serius. Mereka berdua adalah kunci untuk memecahkan teka-teki ini'."
Maimunah dan Zainab saling bertatapan. Maimunah, si komedi. Zainab, si drama serius. Sergei tersenyum. "Sepertinya kalianlah orangnya."
Mereka bertiga berdiam diri sejenak. Angin dingin kembali berembus, membuat bulu kuduk Maimunah merinding. Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya. Sergei melihat itu. "Kalian kedinginan? Ayo, kita masuk ke kafe. Saya akan mentraktir kalian cokelat panas."
Maimunah langsung berbinar. "Wah, serius? Asik! Cokelat panas!"
Zainab mendengus geli. "Mun, malu-maluin."
Maimunah tidak peduli. Ia sudah membayangkan cokelat panas yang hangat dan lezat. Ia mengamati Sergei. Pria ini memang terlihat dingin, tapi hatinya ternyata baik. Jangan-jangan dia malaikat bersayap yang menyamar jadi manusia bermata kelabu, pikir Maimunah.
Di dalam kafe, mereka memesan cokelat panas. Maimunah bertanya-tanya, apa yang sebenarnya tersembunyi di dalam buku itu? Harta karun? Rahasia negara? Atau hanya sekadar kisah-kisah romantis? Maimunah memilih opsi terakhir. Kisah romantis di Moskow, dengan latar salju, dan pria bermata kelabu. Perfecto!
Zainab, di sisi lain, lebih tertarik dengan teka-teki yang disebutkan Sergei. Ia membolak-balik buku itu, memperhatikan setiap sketsa dan catatan yang ada. Ia yakin, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar harta karun. Sesuatu yang bisa mengubah hidup mereka.
"Jadi, kita mulai dari mana?" tanya Maimunah, setelah meneguk habis cokelat panasnya.
Sergei mengambil alih buku itu, lalu membuka halaman yang penuh dengan sketsa sebuah bangunan kuno. "Ini sketsa biara Katedral Vasily Blazhenny. Ayah saya suka sekali dengan tempat ini."
"Katedral yang warnanya kaya permen itu?" tanya Maimunah. "Aku sering lihat di internet."
Sergei mengangguk. "Ya. Di sana, di salah satu ornamennya, ayah saya meninggalkan petunjuk."
"Petunjuk apa?" tanya Zainab.
Sergei tersenyum misterius. "Kalian akan tahu setelah kalian sampai di sana."
"Jadi kita harus ke sana sekarang?" tanya Maimunah, antusias.
"Tunggu dulu," Zainab menyela, "besok saja. Malam sudah larut. Tidak baik bagi kita berdua keluar di malam hari."
Sergei mengangguk. "Zainab benar. Besok pagi, kita bertemu di stasiun kereta bawah tanah. Saya akan mengantar kalian."
Maimunah tersenyum. "Asik! Aku jadi nggak sabar."
Di perjalanan pulang, Maimunah tidak henti-hentinya membayangkan petualangan mereka esok hari. Menjelajahi Moskow, memecahkan teka-teki, dan bersama pria bermata kelabu. Ia yakin, ini akan menjadi kisah petualangan yang tak terlupakan.
Zainab, di sisi lain, hanya memikirkan sketsa yang ada di buku itu. Ia merasa ada yang aneh. Sketsa itu terlihat biasa saja, tapi ia yakin ada sesuatu yang tersembunyi di dalamnya. Sesuatu yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang mau melihat dengan hati.
Setibanya di asrama, Maimunah langsung berbaring di kasurnya. "Aku udah nggak sabar, Zai! Besok kita ke katedral permen! Abis itu kita nemuin harta karun! Atau jangan-jangan, kita nemuin pangeran Rusia?"
Zainab hanya menggelengkan kepalanya. Ia tahu, persahabatan mereka ini akan semakin unik dengan adanya petualangan baru. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi ia yakin, Maimunah akan selalu bisa membuatnya tertawa. Entah karena leluconnya, atau karena tingkahnya yang konyol.
Maimunah dan Zainab, dua sahabat dengan kepribadian yang berbeda, kini memulai petualangan mereka di kota Moskow yang dingin dan misterius. Dengan berbekal sebuah buku tua, cokelat panas, dan selera humor yang berbeda, mereka siap menghadapi segala kejutan yang menanti.
To be continued...
