Tangan pria berjubah hitam itu masih terulur, bayangan Sombra di belakangnya menari-nari dengan gelisah. Lev menatap mata pria itu yang sedingin es, merasa ada pertarungan sengit di dalam dirinya. Suara-suara di kepala Lev bertabrakan: satu sisi mendesaknya untuk menerima tawaran, untuk akhirnya mendapatkan kekuatan yang ia impikan. Sisi lain, suara yang lebih tenang dan familiar, mengingatkannya pada Vania dan Anatasya, pada kehangatan persahabatan mereka, dan pada janji yang mereka buat untuk saling melindungi.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Lev, suaranya bergetar.
"Aku tidak menginginkan apa-apa," jawab pria itu, suaranya sedingin angin musim dingin. "Aku hanya ingin membantumu mencapai potensimu. Kekuatan yang kamu miliki sekarang... tidak cukup. Kamu tahu itu."
Pria itu mendekat, dan bayangan Sombra di belakangnya semakin besar. "Aku bisa memberimu kekuatan es. Kekuatan yang kamu dambakan. Kekuatan yang bisa membuatmu lebih kuat dari teman-temanmu."
Lev merasakan godaan yang kuat. Ia membayangkan dirinya di kelas elemen bumi, bukan lagi menjadi siswa yang tertinggal, melainkan yang paling menonjol. Ia membayangkan dirinya bertarung melawan Sombra, bukan lagi sebagai seorang pengecut, melainkan sebagai pahlawan yang kuat. Ia membayangkan dirinya menjadi istimewa, menjadi seseorang yang penting.
Tetapi, ia juga teringat akan wajah Vania dan Anatasya, senyum mereka, tawa mereka, dan bagaimana mereka selalu ada untuknya. Ia teringat akan janji yang mereka buat, untuk saling melindungi. Ia sadar bahwa jika ia menerima tawaran pria ini, ia mungkin harus mengkhianati mereka.
"Aku... aku tidak tahu," kata Lev, ragu-ragu.
Pria berjubah itu tersenyum tipis. "Pikirkanlah. Kekuatan es akan membuatmu tak terkalahkan. Kekuatan es akan membuatmu menjadi pahlawan yang sebenarnya. Jangan biarkan kekuatan bumi yang membosankan menahanmu."
Pria itu kemudian menghilang, meninggalkan bayangan Sombra yang bergerak kembali ke kegelapan. Perpustakaan kembali menjadi sunyi, dan hanya menyisakan Lev yang berdiri sendirian, dihadapkan pada pilihan sulit.
Lev kembali ke asrama dengan perasaan kacau. Ia tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan tawaran pria itu. Ia tahu bahwa itu adalah tawaran yang berbahaya, tetapi ia juga tahu bahwa ia sangat menginginkan kekuatan itu.
Pagi harinya, Vania dan Anatasya melihat Lev terlihat berbeda. Ada aura kegelisahan yang mengelilinginya.
"Lev, kamu baik-baik saja?" tanya Vania, menatapnya dengan khawatir.
"Aku... aku baik-baik saja," jawab Lev, mencoba tersenyum, tetapi senyumnya tidak sampai ke matanya.
Anatasya, yang sangat peka, tahu ada sesuatu yang tidak beres. Ia melihat ke arah perpustakaan, dan ia merasa ada sesuatu yang aneh.
Di kelas elemen, Lev mencoba lagi untuk menguasai elemen buminya, tetapi ia tidak bisa. Pikirannya terus tertuju pada kekuatan es. Ia merasa kekuatannya saat ini tidak cukup, tidak berguna. Ia merasa bahwa ia tidak akan pernah bisa menjadi pahlawan yang sebenarnya dengan kekuatan yang membosankan.
Namun, di tengah-tengah rasa frustrasinya, ia teringat kata-kata Argus: "Kekuatanmu bukanlah kehampaan, Nak. Ia adalah fondasi." Ia juga teringat akan janji yang ia buat kepada Vania dan Anatasya. Ia tahu bahwa ia tidak bisa mengkhianati mereka. Ia harus membuat pilihan.
Bab ini diakhiri dengan Lev memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak tentang pria berjubah hitam itu. Ia tahu bahwa pria itu adalah kunci untuk mendapatkan kekuatan es, tetapi ia juga tahu bahwa ia harus berhati-hati. Ia tidak akan membiarkan keinginan egoisnya membahayakan teman-temannya. Ia akan mencari tahu siapa pria itu dan apa yang ia inginkan, dan ia akan menggunakan kekuatannya sendiri, kekuatannya yang asli, untuk mengalahkannya.
Ikuti saluran The World Behind the Veil: The Tale of the Three Elemen di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VbAwxYhKWEKtzGEwQd1R
