Lev Ryley turun dari pesawat dengan langkah yang sedikit linglung. Perjalanan panjang dari Banjarmasin ke Uni Emirat Arab membuatnya merasa seperti sebuah ikan yang dipindahkan dari kolam air tawar ke akuarium air asin yang penuh dengan lampu neon dan gelembung aneh. Suhu udara yang panas langsung menyambutnya, berbeda jauh dengan kehangatan lembap tanah kelahirannya. Bandara Internasional Dubai adalah sebuah labirin kaca dan baja yang megah, dipenuhi manusia dari berbagai penjuru dunia. Lev merasa kecil, bukan karena minder, tapi karena ia benar-benar kewalahan dengan keramaian dan kemewahan yang ada di sekitarnya.
Ia menarik koper besarnya yang terasa lebih berat sekarang dan mencoba mencari papan petunjuk. Setelah berputar-putar hampir sepuluh menit, ia baru menyadari bahwa papan petunjuknya tertulis dalam dua bahasa: Arab dan Inggris. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Oke, Lev, kau lulusan arsitektur. Kau pasti bisa membaca simbol ini,” gumamnya pada diri sendiri. Namun, simbol-simbol itu tampak seperti hieroglif modern yang sangat canggih.
Setelah berhasil melewati imigrasi dan mengambil koper, ia mencari-cari area taksi. Namun, ia malah berhenti di depan sebuah kafe yang ramai. Perutnya berbunyi, meminta perhatian yang serius. Ia teringat pesan ibunya: “Kalau kamu kehabisan uang, jangan makan rengginang terus.” Sambil tersenyum, ia memutuskan untuk mencari makan.
"Bismillah," ucapnya, melangkah masuk ke kafe yang modern itu. Ia melihat daftar menu yang tertulis di papan digital. Semuanya tampak asing, kecuali kopi. "Ah, kopi, penyelamat di tengah kebingungan."
Saat ia memesan, ia menunjuk sebuah menu dan berkata, "Satu kopi, dan... ini," sambil menunjuk gambar sebuah makanan yang terlihat seperti roti dengan isian. Kasir perempuan, dengan seragam rapi dan senyum ramah, mengulang pesanannya dalam bahasa Inggris. Lev mengangguk antusias.
"Benar. That one."
"Mohon ditunggu, Bapak," ucap kasir itu dalam bahasa Indonesia yang fasih.
Lev terkejut. "Waduh, Mbak orang Indonesia?"
"Iya, Bapak. Saya dari Bandung. Sudah beberapa tahun di sini."
"Alhamdulillah. Maaf, saya kira harus pakai bahasa isyarat tadi," jawab Lev, mengundang tawa dari kasir tersebut.
Ternyata, makanan yang ia pesan adalah manakish, roti pipih yang disajikan dengan keju dan za'atar. Rasanya lezat, tapi sangat berbeda dengan jajanan pasar yang biasa ia makan. Ia menyantapnya perlahan, sambil mengamati sekeliling. Banyak orang dengan pakaian tradisional maupun modern duduk santai, mengobrol dalam berbagai bahasa.
"Dunia ini luas sekali, ya," bisiknya pada dirinya sendiri, merasa takjub sekaligus canggung.
Setelah selesai makan, Lev berjalan menuju area taksi. Saat ia menunggu giliran, sebuah pemandangan menarik perhatiannya. Seorang perempuan berkerudung rapi sedang berusaha memasukkan sebuah koper besar ke bagasi taksi. Koper itu, entah bagaimana, terlihat lebih merepotkan dari koper Lev sendiri. Koper itu terjepit di pintu bagasi.
"Maaf, apa saya bisa bantu?" tawar Lev, mendekat.
Perempuan itu menoleh. Wajahnya ramah, dengan mata yang hangat. "Oh, terima kasih. Ini koper saya bandel sekali," katanya dalam bahasa Inggris dengan aksen yang lembut.
Lev dengan sigap membantu. Ia mendorong sedikit, menggeser, dan akhirnya koper itu berhasil masuk. "Koper ini butuh jurus silat kayaknya," canda Lev.
Perempuan itu tertawa. "Wah, terima kasih banyak ya. Saya Khadijah. Kamu dari mana?"
"Lev. Dari Banjarmasin, Indonesia."
"Oh, Indonesia! Luar biasa," kata Khadijah, tampak senang.
Saat itu, taksi Lev datang. Ia berpamitan dengan Khadijah dan masuk ke taksi yang ditumpanginya. Lev merasa lega, setidaknya ia sudah berhasil menyelesaikan satu tahap perjalanannya tanpa terlalu banyak masalah. Ia melirik keluar jendela, melihat gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi seolah menusuk awan. Rasanya seperti berada di dunia lain.
"Ini baru Dubai. Masih ada Mesir, Iran... ini baru permulaan," bisiknya pada diri sendiri. Ia tahu, petualangannya baru saja dimulai. Kejadian-kejadian kecil di bandara, mulai dari salah pesan makanan hingga membantu Khadijah, adalah prolog yang lucu dari sebuah babak baru dalam hidupnya. Ia tidak tahu apa yang menantinya di depan, tetapi hatinya dipenuhi semangat.
Satu jam kemudian, ia tiba di hotel yang sudah ia pesan. Saat ia sedang menunggu di lobi untuk check-in, ia terkejut melihat Khadijah masuk. Mereka berdua saling melambaikan tangan dengan senyum lebar, seolah sudah saling kenal sejak lama. Di belakang Khadijah, ada dua perempuan lain yang berjalan dengan gaya berbeda. Satu perempuan berwajah tegas dengan kerudung sederhana, dan satu lagi perempuan yang terlihat ceria dan sibuk dengan ponselnya. Pertemuan mereka sudah semakin dekat. Lev belum tahu, tapi tiga perempuan itu akan menjadi bagian penting dari kisah perjalanannya di tanah para nabi.
"Khadijah!" panggil Lev, setengah berbisik.
Khadijah menoleh, tersenyum dan berjalan mendekat. "Oh, Lev! Ternyata kita satu hotel. Subhanallah, kebetulan yang indah."
Lev mengangguk setuju. "Iya. Kenalin, ini teman-teman saya, Fatimah dari Mesir, dan Aisyah dari Iran," kata Khadijah.
Fatimah menatap Lev dengan pandangan kritis, lalu mengangguk singkat. Aisyah justru langsung mengangkat ponselnya, merekam momen itu sambil berteriak, "Hey guys! Lihat siapa yang kita temui di hotel!" Lev hanya bisa tersenyum bingung.
Pertemuan keempatnya resmi dimulai. Di lobi hotel mewah di Dubai, Lev dari Banjarmasin, Khadijah dari Indonesia, Fatimah dari Mesir, dan Aisyah dari Iran, siap memulai petualangan yang tak terlupakan. Senja di Dubai perlahan turun, menyisakan kerlap-kerlip lampu kota yang bersemangat, seolah menyambut empat sahabat yang akan berbagi tawa dan kisah.
