Bayi yang lahir di malam tahun gajah itu diberi nama Muhammad. Sebuah nama yang sederhana, namun mengandung makna yang agung: "yang terpuji". Nama yang kelak akan menjadi pujian di setiap penjuru langit dan bumi. Namun, bagi sang bayi, takdir hidupnya sudah dihiasi dengan ujian sejak awal. Ia terlahir dalam kondisi yatim, ayahnya, Abdullah, telah berpulang ke haribaan Ilahi saat ia masih dalam kandungan. Dan kini, takdir kembali mengetuk pintu kehidupannya.
Di Mekkah, di tengah panasnya gurun, tradisi menitipkan bayi kepada ibu susu dari kabilah Badui sangat lazim. Hal ini dilakukan agar bayi dapat tumbuh sehat, belajar berbahasa Arab yang murni di padang pasir, dan memiliki fisik yang kuat. Aminah, ibunda Muhammad, mengikuti tradisi ini. Di tengah kabilah Bani Sa’ad yang dikenal dengan kefasihan bahasanya, datanglah beberapa wanita untuk mencari bayi asuhan.
Salah seorang wanita itu bernama Halimah binti Abu Dzuaib. Dia datang bersama suaminya, Al-Harits, dan anaknya. Mereka berasal dari keluarga yang sangat miskin. Tahun itu adalah tahun paceklik, dan kabilah Bani Sa’ad menderita kelaparan. Unta-unta mereka tidak bisa menghasilkan susu, dan ladang-ladang mereka kering kerontang.
Halimah menawarkan diri kepada banyak keluarga kaya, namun tidak ada yang tertarik. Lalu ia melihat seorang bayi yatim di tangan Aminah. Awalnya, ia enggan mengambil bayi yatim karena ia berharap mendapat upah besar dari orang kaya. Namun, takdir berkata lain. Setelah semua wanita lain telah menemukan bayi asuh, hanya bayi mungil itu yang tersisa. Dengan rasa putus asa, Halimah dan suaminya memutuskan untuk mengambil bayi Muhammad.
"Tidak ada salahnya mengasuh anak yatim ini," kata Al-Harits pada istrinya. "Semoga saja, ada berkah dari Tuhan."
Keputusan itu ternyata adalah kunci pembuka pintu rezeki. Sejak Muhammad kecil berada dalam pangkuan Halimah, keberkahan seolah mengalir tak henti-henti. Susu dari unta mereka yang tadinya kering kini mengalir deras. Ternak-ternak mereka menjadi gemuk. Ladang-ladang yang tadinya gersang tiba-tiba menjadi subur. Malam-malam yang tadinya sepi, kini dipenuhi oleh lantunan doa dan syukur. Halimah dan keluarganya menyayangi Muhammad melebihi anak kandung mereka sendiri. Kasih sayang itu tak terbatas, tulus, dan ikhlas.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung selamanya. Setelah beberapa tahun, terjadilah sebuah peristiwa yang membuat Halimah dan suaminya khawatir. Dua malaikat datang kepada Muhammad saat ia bermain di padang pasir bersama saudara sepersusuannya. Mereka membelah dada Muhammad, membersihkan hatinya dari kotoran syaitan, dan mengembalikannya seperti semula. Peristiwa itu, yang dikenal sebagai syakk al-sadr, membuat Halimah ketakutan. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada anak asuhnya. Dengan berat hati, ia membawa Muhammad kembali kepada ibundanya, Aminah.
Muhammad kecil kembali ke sisi ibundanya, menikmati kasih sayang yang selama ini hanya ia kenali dari cerita. Namun, tak lama kemudian, takdir kembali mengambil peran. Saat Muhammad berusia enam tahun, Aminah mengajaknya ke Yatsrib (kelak Madinah) untuk menziarahi makam ayahnya. Dalam perjalanan pulang, Aminah jatuh sakit dan meninggal dunia di sebuah tempat bernama Al-Abwa'.
Di usia yang begitu muda, Muhammad telah merasakan kehilangan dua sosok terpenting dalam hidupnya. Ia kini benar-benar yatim piatu. Sejak saat itu, kakeknya, Abdul Muthalib, mengambil alih perannya sebagai pengasuh. Abdul Muthalib sangat menyayangi cucunya. Ia bahkan mengistimewakan Muhammad melebihi anak-anak kandungnya. Tempat duduknya di bawah Ka'bah, yang biasanya tidak boleh diduduki oleh siapapun, selalu ia kosongkan untuk Muhammad.
Namun, masa-masa indah itu pun tak berlangsung lama. Hanya dua tahun berselang, saat Muhammad berusia delapan tahun, Abdul Muthalib pun meninggal dunia. Muhammad kini berada di bawah asuhan pamannya, Abu Thalib. Meskipun kehidupan Abu Thalib sangat sederhana, cintanya kepada Muhammad tidak pernah pudar. Ia mengasuh Muhammad dengan penuh kasih sayang dan pengorbanan. Di bawah asuhan Abu Thalib, Muhammad tumbuh menjadi seorang pemuda yang jujur, bertanggung jawab, dan amanah.
Perjalanan Muhammad sebagai yatim piatu adalah sebuah pelajaran. Allah ingin mengajari kita bahwa Dia akan selalu melindungi orang-orang yang dicintai-Nya, bahkan di tengah kesulitan. Dia ingin menunjukkan bahwa cinta dan kasih sayang sejati tidak bergantung pada status atau kekayaan, melainkan pada ketulusan hati. Dari kegelapan menjadi terang, dari kehilangan menjadi penuh kasih sayang begitulah takdir mengukir jalan bagi sang kekasih Allah, Muhammad SAW.
Catatan: Mohon maaf sebelumnya jika selama penulisan ini ada kesalahan atau kekeliruan itu semata-mata karena kurangnya ilmu pengetahuan tapi saya tetap ingin menuliskan ini karena saya hanya ingin meninggalkan kenangan sebelum saya mati untuk para pembaca di Blog ini.
