Malam itu, di grup WhatsApp "Trio Kwek-Kwek Takut Jodoh" – nama grup yang dibuat Mia secara sepihak – drama dimulai. Semua bermula dari arisan online yang mereka ikuti. Mia adalah adminnya, dan ia terkenal sangat teliti. Namun, malam ini, ia membuat sebuah kesalahan fatal.
Mia: "Assalamualaikum calon-calon istri shalihah. Siap-siap ya, malam ini pengumuman arisan!"
Sarah: "Yaelah, Mia. Kenapa harus pakai pengumuman segala sih? Kayak mau nikah aja."
Vania: "Iya, Mia. Deg-degan, nih. Padahal cuma arisan."
Mia: "Justru itu, Van! Kalau udah terbiasa deg-degan sama arisan, nanti pas nikah nggak kaget lagi. Kan latihan."
Sarah: "Banyak ngelesnya kamu, Mia. Cepat umumkan, dong. Aku mau beli sepatu baru."
Mia: "Sabar, Bu. Baiklah. Pemenang arisan bulan ini adalah... Jeng Jeng Jeng... Vania Larasati!!"
Vania: "Alhamdulillah! Kok bisa? Aku kan baru ikut tiga bulan."
Mia: "Takdir, Van! Rezeki anak sholehah! Eh, calon istri sholehah!"
Sarah: "Selamat ya, Van! Dagingnya dibeliin tas, ya! Jangan lupa traktir kita!
Vania: "Pasti, dong! Makasih ya, Mia. Uangnya langsung transfer aja ya."
Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk dari Mia. Bukan di grup, melainkan di personal chat Vania.
Mia: "Van, ada masalah..."
Vania: "Masalah apa, Mia? Uangnya belum ada?"
Mia: "Bukan. Masalahnya aku salah hitung."
Vania: "Salah hitung gimana?"
Mia: "Ternyata yang seharusnya menang bulan ini itu bukan kamu, tapi si Wati dari grup arisan sebelah..."
Vania: "HAH?! Terus gimana, dong?"
Mia: "Aku panik, Van. Tadi aku udah janjiin ke Wati kalau dia dapat. Sekarang dia udah nagih. Aku bilang uangnya masih di kamu."
Vania: "Ya Allah, Mia! Kamu ini bagaimana, sih?! Terus sekarang aku harus bagaimana?"
Mia: "Kamu pinjamkan uangmu dulu ke Wati. Nanti bulan depan, jatahmu kan yang keluar. Jadi kita putar aja. Ya, ya, ya? Demi persahabatan kita, Van..."
Vania menepuk jidatnya. Ia tahu Mia kadang ceroboh, tapi tidak menyangka kecerobohannya bisa sampai sejauh ini. Dengan uang arisan itu, Vania sudah berencana membeli beberapa buku pelajaran baru untuk murid-muridnya. Tapi, demi sahabatnya yang sedang panik, ia terpaksa mengiyakan.
Vania: "Iya, deh. Tapi jangan sampai terjadi lagi, ya, Mia. Jantungku bisa copot."
Setelah Vania mengirimkan uangnya ke Wati, Mia tiba-tiba mengirimkan pesan lagi di grup.
Mia: "Guys! Aku ada kabar baik! Berkat ideku, Vania jadi dapat jodoh!"
Vania: "Mia! Berisik! Apa lagi ini?"
Mia: "Vania bilang, pria misterius itu sering nongkrong di kafe dekat Jembatan Barito, kan? Nah, aku dan Sarah sudah punya rencana matang. Kita akan pura-pura mengadakan arisan di sana, terus kamu ajak dia gabung. Gampang, kan?"
Sarah: "Mia, ide kamu kok jadi makin ngawur, sih?
Memangnya dia mau ikutan arisan kita?"
Mia: "Nggak apa-apa, kan. Siapa tahu dia suka sama cewek yang suka arisan? Kan kita bisa lihat keseriusannya. Kalau dia cuma ikut-ikutan, berarti dia main-main. Tapi kalau dia serius, berarti dia jodoh Vania."
Vania membayangkan pria misterius itu ikut arisan bersama mereka. Rasanya seperti mimpi buruk. Ia sudah bisa membayangkan pria itu akan menatapnya dengan aneh, dan kabur setelah mendengar Mia berbicara.
Vania: "Mia, aku rasa itu ide yang buruk. Jangan aneh-aneh, deh."
Mia: "Hus! Kamu harus nurut sama mak comblang profesional. Kalau nggak, nanti jodohmu benar-benar nyasar di Amazon."
Vania menghela napas. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi sahabatnya yang satu ini. Di satu sisi, ia kesal dengan ide gila Mia. Di sisi lain, ia sadar Mia melakukan ini karena sayang padanya. Ia hanya bisa berdoa, semoga rencana Mia tidak berakhir dengan kekacauan yang lebih besar daripada insiden bebek pagi tadi. Ia hanya bisa pasrah, dan berharap takdir akan bekerja dengan caranya sendiri. Semoga saja, takdir itu tidak melibatkan arisan online dan kekocakan sahabat-sahabatnya.
