Momo Monyet merasa tidak enak hati. Sejak Kiko meminta maaf dan membagikan jambunya, persahabatan mereka terasa lebih hangat dan tulus. Tapi, ada satu hal yang mengganjal pikirannya. Besok adalah hari ulang tahun Pipi Penguin. Momo ingin memberikan hadiah terbaik, tetapi ia tidak tahu harus memberikan apa.
Ia sudah bertanya pada Kiko. "Kira-kira Pipi suka kado apa, ya?" tanyanya saat mereka sedang bermain ayunan di dahan pohon.
Kiko, yang kini lebih bijak, berpikir sejenak. "Pipi suka hal-hal sederhana," jawabnya. "Dia tidak suka hadiah yang mewah."
Momo menggaruk-garuk kepalanya. "Tapi, aku ingin memberikan kado yang spesial."
Ide pun muncul di kepala Momo. Ia teringat akan bunga matahari yang tumbuh di padang rumput di balik bukit. Bunga matahari itu adalah bunga kesukaan Pipi. Dengan wajah bersemangat, Momo segera melompat turun dan berlari menuju padang rumput. Ia yakin, Pipi akan sangat senang menerima bunga matahari darinya.
Sesampainya di padang rumput, Momo melihat bunga matahari yang tumbuh subur dan mekar. Bunga-bunga itu seolah tersenyum menyambutnya. Dengan hati riang, Momo memetik beberapa bunga matahari terindah dan mengikatnya menjadi buket.
Saat perjalanan pulang, Momo bertemu dengan seekor kelinci yang sedang menangis. "Kenapa kamu menangis?" tanya Momo.
"Aku... aku tidak punya bunga untuk ulang tahun ibuku," jawab kelinci itu dengan suara terisak. "Aku ingin memberikan bunga matahari, tapi aku tidak berani mengambilnya di padang rumput."
Momo merasa iba. Ia ingat bahwa Pipi juga pernah merasa malu dan takut seperti kelinci itu. Tanpa berpikir panjang, Momo memberikan buket bunga matahari yang ia bawa kepada kelinci itu.
"Ini," kata Momo. "Berikan ini untuk ibumu. Hadiah terindah bukanlah hadiah yang mahal, tapi hadiah yang diberikan dengan hati yang tulus."
Kelinci itu tersenyum lebar. Ia merasa sangat bahagia. "Terima kasih, Momo," katanya.
Momo merasa senang melihat kelinci itu bahagia. Namun, ia juga merasa sedih. Ia tidak punya kado lagi untuk Pipi. Ia berjalan kembali ke hutan dengan langkah gontai.
Saat ia sampai di pohon jambu, ia melihat Pipi sedang menunggu. "Kenapa kamu sedih, Momo?" tanya Pipi.
Momo menceritakan semua yang terjadi. Ia menceritakan tentang kelinci yang menangis dan bagaimana ia memberikan bunga matahari untuk ibu kelinci itu.
Pipi mendengarkan dengan seksama. Setelah Momo selesai bercerita, Pipi tersenyum. "Kamu tahu, Momo?" katanya. "Kamu sudah memberiku kado yang terbaik."
Momo terkejut. "Kado apa?"
"Kamu sudah memberikan kebahagiaan kepada kelinci itu," jawab Pipi. "Melihat orang lain bahagia adalah kado terindah bagiku. Itu membuktikan bahwa kamu adalah teman yang baik dan berhati mulia."
Kiko dan Lala yang kebetulan lewat ikut tersenyum. Lala berkata, "Kado tidak selalu berbentuk benda, Momo. Kado yang paling berharga adalah kebaikan dan ketulusan hati."
Momo merasa malu, tetapi juga bangga. Ia tidak lagi sedih. Ia menyadari bahwa hadiah terindah bukanlah apa yang ia berikan, tetapi apa yang ia rasakan saat memberikannya. Dan kali ini, ia merasa sangat bahagia.
